Persit KCK XXXII Brigif 20, Manfaatkan Sampah Plastik Jadi Ecobrick

Foto : Tanto/TimeX
FOTO BERSAMA-Ny. Donna Sagala selaku Ketua Persit KCK XXXII Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostrad dengan didampingi Ibu-ibu Persit lainnya berfoto bersama seusai membuat Ecobrick (bata yang ramah lingkungan) dengan membangun honai dan taman di lingkungan PAUD Ima Jaya Keramo Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostradm Senin (21/1).

TIMIKA, TimeX

Pengelolaan sampah plastik merupakan permasalahan sepele namun belum mampu mengatasi sampah sepenuhnya.

Oleh karena itu sebagai upaya mengatasi sampah plastik dengan cara yang efektif dan simple, Persit KCK XXXII Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostrad, membuat Ecobrick (bata yang ramah lingkungan) dengan membangun honai dan taman di lingkungan PAUD Ima Jaya Keramo Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostrad.

Ny. Donna Sagala selaku Ketua Persit KCK XXXII Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostrad mengatakan, bahwa kegiatan Ecobrick ini baru pertama kali di Timika khsusnya di Brigif 20 Koorcab Divif 3 PG Kostrad.

Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dari Ketua Kwarcab, dalam hal ini Panglima Divisi Kostrad, untuk menjaga atau meminimalisir sampah plastik yang ada di kota kita masing-masing.

“Jadi dengan itu kita bersama-sama dengan ibu-ibu mencoba membantu mengatasi masalah sampah plastik dengan cara membuat suatu bangunan dari ecobrick di satuan, yang mana kita gunakan bahan dasarnya adalah plastik-plastik,” kata Ny. Donna Sagala, kepada wartawan di halaman PAUD Ima Jaya Keramo, Brigif 20, Senin (21/1).

Diterangkan, sebelum memanfaatkan Ecobrick menjadi suatu bangunan, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan sampah-sampah plastik, kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu digunting menjadi potongan kecil, kemudian dimasukan dan dipadatkan kedalam botol plastik.

“Jadi potongan kecil-kecil itu dipadatkan sampai 500 gram lebih ke dalam satu botol plastik yang ukurannya kurang lebih 1500 liter. Sehingga pada saat kita duduk itu terasa nyaman,”terang Ny. Donna Sagala.

Lanjutnya, tujuan dibangunkan ecobrick honai adalah sebagai sarana tunggu bagi orangtua yang mengantarkan anak ke PAUD. Sementara Ecobrick pembatas pohon itu untuk menambah aksesoris kerindangan pohon, sedangkan ecobrick bangku taman untuk sarana tempat duduk. Dan Ecobrick kursi santai.

“Jadi untuk pengumpulan sampah-sampah plastik ini dibutuhkan selama tiga hari, dan untuk proses pengerjaan menjadi beberapa bangunan sendiri itu kurang lebih hampir satu minggu bahkan sampai 10 hari,” ujarnya.

Diharapkan juga bahwa dengan contoh yang sudah ada mudah-mudahan masyarakat tertarik dan punya kesadaran sama.

“Kita juga inginkan kedepannya bisa sosialisasikan ke masyarakat supaya jangan hanya kita sadar akan sampah plastik, tapi ingin ajak masyarakat, instansi terkait terapkan hal seperti ini,” harapnya.

Ditambahkannya, bahwa untuk kesadaran pentingnya menjaga lingkungan yang bersih dengan memanfatkan kegiatan seperti ini juga diterapkan kepada anak-anak.

“Jadi untuk kesadaran mulai dari anak-anak kita dulu dimana kita mau melihatkan ke mereka agar tertarik yaitu dengan cerita melalui berbagai film bahwa dengan sampah ini kalau kita buang ke laut hewan-hewan pasti mati. Karena film itu adalah edukasi buat anak supaya mereka sadar,” ucapnya. (tan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.