Gusti Benarkan Seorang Pemilik Toko Emas Diamankan di Polda Papua

Foto: Dok./TimeX
PERTEMUAN – Suasana pertemuan antara perwakilan pendulang dengan pengepul emas difasilitasi pihak Kepolisian Resor Mimika di ruang pertemuan Kantor Sentra Pelayanan Polres Mimika, Jumat (25/1).

Foto: Dok./TimeX
ARAHAN – Para pendulang mendengar arahan AKP Andhika Aer Kabag Ops Polres Mimika pada Kamis (24/1).

TIMIKA,TimeX

AKP I Gusti Agung Ananta Pratama Kasat Reskrim Polres membenarkan ada seorang pemilik toko emas di Timika berinisial A dibekuk di tokonya beberapa waktu lalu oleh Subdit Tipiker Dit Reskrim Polda Papua dan sekarang sementara menjalani penahanan di Polda Papua. A ditangkap lantas diketahui telah membawa gelondongan emas batangan dalam jumlah banyak ke luar daerah.

“Saya tidak bisa berkomentar banyak karena yang menahan dan tangani itukan dari Polda Papua dari Subdit Tipiker Dit Reskrim Polda Papua,” jelas Gusti saat ditemui Timika eXpress usai Sertijab di Mako Polres Mimika 32, Senin (28/1).

Perwira balok dua ini menjelaskan perlu diketahui bahasanya memang KPK dan Bareskrim sudah memantau langsung berawal dari penangkapan dua tersangka yang awalnya ditangani Bareskrim, KPK dan Polda Sulawesi Utara. Maka tindaklanjut dari Polda Papua juga sama dengan penangkapan terhadap salah satu pemilik toko emas beberapa waktu lalu.

“Dia ditangkap di sini yaitu di tokonya dan saat ini dia diamankan di Polda Papua,” katanya.

Ia mengatakan sebelum ditangkap sudah berhasil lolos keluar lima kilo gram dalam bentuk gelondongan emas batangan. Dalam kasus ini ada tiga pengepul emas juga dipanggil ke Polda Papua sebagai saksi. Namun identitas ketiga saksi ini dirahasiakan.

Dampak dari penangkapan A berujung pada seluruh pemilik toko emas yang selama ini menerima hasil dulang pendulang menutup toko mereka selama tiga hari, Rabu-Jumat (23-25/1). Mereka menutup toko tidak menerima hasil dulang karena merasa takut ditangkap oleh polisi.

Dampak dari itu ratusan pendulang pada, Rabu-Jumat (23-25/1) beraksi memblokade Jalan Ahmad Yani persis di pertigaan Pin Simpati dan Gorong-gorong dengan meletakan batu, kayu, seng hingga membakar ban bekas. Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan lantas hasil dulang mereka tidak bisa jual.

Menyikapi aksi ini pada Jumat 25 Januari pagi aparat Kepolisian Resor Mimika memvasilitasi pertemuan dengan perwakilan pendulang dan pihak pengepul emas.

Pada pertemuan itu dipimpin Kompol I Nyoman Punia Wakapolres Mimika dan Kasat Reskrim memutuskan pemilik toko emas diperbolehkan kembali membeli hasil dulang para pendulang. Namun dengan satu syarat tidak boleh membawa keluar dalam bentuk batangan kecuali sudah diolah dalam bentuk cincin, gelang, anting-anting dan kalung dengan berat yang tidak melebih batas.

“Jadi bawa dalam bentuk batangan itu tidak boleh karena tidak ada ijinnya. Maka solusinya akan dirapatkan oleh Forkopimda untuk menjelaskan terkait itu,” katanya.

>>Pemkab Harus Buat Regulasi Pendulangan

Menyikapi polemik ini Elminus B Mom Ketua DPRD Kabupaten Mimika mengingatkan Pemerintah Kabupaten Mimika mulai berpikir harus membuat regulasi tentang pendulangan.

Selain itu kepada aparat kepolisian jangan asal main tangkap penjual emas, itu hak mereka untuk membeli. Penangkapan dilakukan jika emas itu merupakan hasil curian, jika tidak polisi tidak memiliki dasar hukum.

“Kenapa aparat harus tangkap mereka, kecuali emas itu mereka curi di perusahaan. Ini mereka beli dari pendulang dan pendulang ini juga sudah dari dulu ada, bahkan sejak pak Klemen Tinal menjadi Bupati Mimika, beliau ijinkan adanya aktifitas pendulangan,” papar Elminus saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Jumat (25/1).

Penangkapan itu Elminus menilai bukanlah solusi tepat untuk menyelesaikan persoalan ini, bahkan jika dilakukan penutupan dirinya mewanti-wanti justru bakal membuat masalah menjadi besar dan tentu kriminalitas di Mimika akan semakin tinggi.

“Saya pikir mendulang itu sudah jadi mata pencarian mereka. Dan mereka sendiri sudah berjanji kepada bupati sebelumnya bahwa mereka mendulang apapun yang terjadi di area pendulangan menjadi tangung jawab mereka, dan saat ini sudah ribuan orang yang mengadu nasib menjadi pendulang,” katanya.

Politisi Gerindra ini mengkhawatirkan jika hasil dulang tidak dapat dibeli oleh pengepul maka pastinya akan menimbulkan masalah sosial baru sebab begitu banyak keluarga mengantungkan hidup dari hasil dulang untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari.

Hal senada dibenarkan Muhamad Asri Anjang Anggota Fraksi Partai  Bulan Bintang (PKB).

Pria berkacamata ini merasa prihatin dengan persoalan pendulang ini.

Ia meminta agar Pemkab tidak menutup mata tetapi segera mencari solusi dengan membuat regulasi terkait pendulangan agar persoalan ini tidak menjadi ancaman, apabila dibiarkan lama-lama tanpa solusi sewaktu-waktu bisa meledak. Masalah ini ibarat gunung es.

Sesuai informasi yang diterimanya bahwa ada penjual emas yang ditangkap lagi di Jayapura beberapa hari lalu. Hal ini menurutnya menjadi pemicu para pedagang enggan membeli emas dari pendulang karena takut akan mengalami hal  serupa.

“Beberapa hari lalu pemilik Toko Emas Omolonggo ditangkap di Jayapura. Ini yang membuat semua pengusaha jadi takut membeli emas dulang. Mereka juga sempat tanyakan hal ini ke saya. Ya saya katakan kalau memang membeli emas dan pada akhirnya ditangkap untuk apa,” jelasnya.

Hingga kini dirinya menilai kasus yang sebelumnya tak kunjung diselesaikan. Untuk itu Anjang mengajak semua instansi teknis terkait bersama DPRD duduk bersama membahas hal ini carikan solusinya dan persoalan ini tidak boleh dianggap sebelah mata.

Saat ini katanya mendulang sudah menjadi mata pencarian tetap sebagian besar masyarakat Mimika. Jika emas hasil dulang tidak bisa dijual, pedagang pun berkeras tidak membeli sedangkan para pendulang terus menekan, hal ini pada akhirnya memicu kegaduhan seperti yang terjadi saat ini.

“Kalau memang ada pelarangan, ya Pemkab buka lapangan pekerjaan bagi mereka, agar mereka tidak terus bergantung pada dulang. Kita kasihan juga dengan pedagang toko emas yang harus kena masalah, jika mereka tetap membeli emas. Disatu sisi kasihan juga para pedulang, ada keluarga yang gantungkan hidup mereka dihasil dulang,” pungkasnya. (a30/tan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.