Waspada DBD! 44 Hari Sudah 18 Kasus

“Memang di Timika sudah ada ditemukan kasus DBD dan terjadi peningkatan kasus. Jadi diharapkan kepada warga Timika untuk harus waspada terhadap penyakit DBD”

TIMIKA,TimeX

Ilustrasi

Masyarakat Mimika diminta mulai waspada terhadap penyebaran penyakit menular Demam Berdarah Dengue (DBD). Sesuai data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika baru memasuki 44 hari sudah terdapat 18 kasus. Ini terhitung sejak 24 Desember 2018 hingga 5 Februari 2019.

Terkait ini Reynold Ubra Sekretaris Dinas Kesehatan Mimika telah menerima laporan kejadian penyakit DBD sebanyak 18 kasus, sejak 24 Desember 2018 hingga 5 Februari 2019.

Reynold mewanti-wanti jika hal tersebut tidak segera diantisipasi secara cepat maka kasus DBD di Timika bisa menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) bahkan wabah.

“Memang di Timika sudah ada ditemukan kasus DBD dan terjadi peningkatan kasus. Jadi diharapkan kepada warga Timika untuk harus waspada terhadap penyakit DBD,” harap Reynold kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (8/2).

Reynold menguraikan 18 kasus ini tersebar di Rumah Sakit Tembagarapura dengan 12 kasus, empat kasus di RSUD dan dua kasu di Klinik Kuala Kencana. Semua itu terdeteksi melalui hasil pemeriksaan laboratorium dan dinyatakan positif DBD.

Penyakit DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Sebagian besar pasien yang dilaporkan terinfeksi lokal di Kota Timika. Seperti yang dirawat di Rumah Sakit Tembagapura merupakan karyawan PT Freeport Indonesia yang sempat berlibur di Kota Timika sebelum kembali ke tempat kerja di Distrik Tembagapura.

Menurutnya langkah pencegahan yang harus dilakukan saat ini adalah memberantas sarang nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan dengan menutup, menguras dan mengubur (3M) tempat atau wadah penampungan air yang berpeluang jadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk jenis itu bertelur di air jernih.

Langkah lain sarannya adalah menghindari gigitan nyamuk.

Aedes aegypti adalah nyamuk yang aktif menggigit pada pagi hingga sore hari. Paling aktif saat dua jam setelah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam.

“Timika penyebarannya cepat karena mobilitas penduduk dan lingkungan yang kotor. Jadi ini bukan kesalahan nyamuk tapi kesalahan manusia,” ungkapnya.

Sementara Macrina, Petugas Surveilans Puskesmas Timika yang ditemui di tempat terpisah mengatakan di wilayah kerjanya terdapat lima pasien DBD, tiga orang dari  Kelurahan Kebun Sirih dan dua lainnya warga Kelurahan Perintis.

Kaitan dengan ini ia mengingatkan warga Mimika bahwa upaya berantas DBD jangan hanya dari Dinas Kesehatan saja melainkan harus semua sektor terlibat, baik itu pegawai kelurahan, kampung dan distrik sama-sama menjaga kebersihan lingkungan.

Ia menyayangkan sering terjadi ketika petugas mendatangi rumah warga untuk fogging kadang  warga menolak dengan berbagai alasan. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.