Seorang Anak di Timika Meninggal Akibat DBD

“Memang waktu sakit pertama, korban sempat dibawa oleh mamanya berobat ke RSUD. Tapi mungkin sakitnya tambah akut dan terkendala biaya sehingga korban tidak lagi dibawah ke rumah sakit”

TIMIKA,TimeX

foto: google
Ilustrasi

Seorang anak usia lima tahun, warga Djayanti, Timika atas nama Rusli dinyatakan meninggal dunia akibat terjangkit virus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sebelum meninggal pada Senin (11/2) sekira pukul 03:00 WIT, korban oleh ibu kandungnya Elisabeth, dinyatakan menderita sakit malaria tersiana, menyusul tropika, hingga akhirnya meninggal dunia setelah terjangkit DBD.

Kabar duka ini diketahui Timika eXpress saat tetangga korban mendatangi Pastor Paroki St. Stefanus Sempan untuk meminta ibadah pemakaman.

Tetangga korban yang tidak mau namanya dikorankan mengatakan bahwa korban meninggal akibat DBD karena orangtuanya tidak mampu membiayai rumah sakit untuk menyembuhkan korban dari sakitnya.

“Memang waktu sakit pertama, korban sempat dibawa oleh mamanya berobat ke RSUD. Tapi mungkin sakitnya tambah akut dan terkendala biaya sehingga korban tidak lagi dibawah ke rumah sakit,” jelas sumber.

Sementara Obet Tekege, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular pada Dinkes Mimika kepada Timika eXpress via ponselnya, Senin (11/2) mengatakan jumlah penderita DBD di Kabupaten Mimika terus bertambah, sehingga disarankan kepada masyarakat perlu waspada.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, sejak tanggal 24 Desember 2018 hingga 5 Februari 2019, tercatat sudah 18 kasus ditangani di dua rumah sakit dan satu klinik di Mimika.

“Terhitung pada tanggal 10 Februari 2019 ada tambahan dua kasus baru dari Rumah Sakit Tembagapura, dengan demikian total kasus DBD sudah 20 kasus. Tidak menutup kemungkinan ini bisa saja terus bertambah,” katanya.

Dari total 20 pasien DBD, rinciannya 14 pasien dirawat di Rumah Sakit AEA Tembagapura, empat kasus lainnya ditangani di RSUD Mimika dan dua kasus lagi ditangani petugas medis di Klinik Kuala Kencana.

Ia mengatakan dari house index nyamuk aedes aegypti yang tinggi, maka warga Kota Timika memiliki risiko yang sama tertular penyakit demam berdarah.

Sehingga langkah antisipasi sekaligus meredam agar kasus DBD tidak bertambah, pihaknya telah melakukan fogging di beberapa lokasi dalam Kota Timika dan sekitarnya.

Sedangkan pembagian bubuk abate untuk membunuh jentik-jentik  nyamuk penyebar virus DBD belum dilakukan lantaran masih dalam proses pengajuan material ke Dinkes Provinsi Papua.

“Kalau fogging beberpa hari lalu kami sudah lakukan di wilayah Pasar Sentral, Kebun Sirih dan terakhir di kompleks Perumahan Pondok Amor SP3,” terang Obet. (san)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.