Banyak Destinasi Pariwisata di Papua Belum Menggairahkan

Foto; Maurits/Sadipun
Afief Yahya

SURABAYA,TimeX

Pemerintah Pusat (Pempus) terus berupya maksimal dalam pengembangan destinasi pariwisata di seluruh Indonesia, termasuk di Papua yang potensi pariwisatanya belum menggairahkan.

Untuk mengembangkan potensi dan destinasi pariwisata di provinsi paling timur Indonesia, yakni Papua, Pempus telah menyiapkan kurator  (pengurus atau pengawas institusi warisan budaya atau seni).

Tujuannya agar destinasi pariwisata di Papua terus mengalami kemajuan dan perkembangan sehingga menarik para wisatawan.

Menteri Pariwisata, Arief yahya kepada Timika eXpress saat diwawancarai usai seminar di Hotel Sheraton, Surabaya, Jumat (8/2) mengatakan, monoton atau ‘mati suri’ nya pariwisata di suatu daerah ditentukan oleh kinerja pemerintah melalui program pengembangan pariwisata.

Seperti Festival Budaya Asmat yang gaungnya mulai ‘meredup’, kata Arief, pihaknya  menyiapkan kurator agar warisan budaya tersebut tetap dilestarikan.

“Kalau bagus masuk kalender of even nasional, dan kalau tidak bagus tidak masuk, tetapi ada kebijakan untuk setiap provinsi, apakah Provinsi Papua atau Papua Barat harus ada yang terwakili dalam even-even nasional. Ini supaya kita lihat dan sikapi bersama untuk lestarikan dan kembangkan guna menarik wisatawan asing berkunjung ke Indonesia. Jadi tidak hanya ke Bali atau daerah yang kaya akan potensi dan destinasi pariwisatanya saja,” ujarnya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Papua yang akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020, segera mempersiapkan destinasi pariwisata.

“Ini penting supaya dongkrak pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata, selain dari obyek atau sektor yang sudah dijalankan selama ini,” serunya.

Menanggapi soal program-program 10 Bali baru yang sementara dikembangkan, Papua tidak masuk dalam hitungan.

“Bukan hanya Papua, tetapi ada banyak daerah di Indonesia yang miliki destinasi pariwisata,  namun tidak masuk karena pariwisatanya belum menggairahkan wisatawan mancanegara,” katanya.

Ia menyebutkan untuk mengembangkan pariwisata di Papua, dari masukan dan keluhan yang diterima adalah  pemerintah daerah mengalami beberapa kendala, terutama belum terbukanya akses jalan.

Termasuk pemahaman masyarakat untuk menerima pariwisata sebagai salah satu bentuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar tempat wisata, masih perlu sosialisasi dan perhatian serius.

Dari kondisi yang dihadapi, belum lagi prasarana dan sarana penunjang wisata yang belum mumpuni, menyebabkan arus wisatawan ke Papua dan daerah sekitarnya masih terbatas bahkan minimnya pemahaman dalam mengelola pariwisata.

Hal lainnya karena obyek-obyek wisata yang ada tidak memiliki nilai spesifik dibandingkan dengan obyek-obyek wisata sejenis yang ada didaerah lain.

Selain itu tidak diimbanginya potensi wisata pariwisata denga sarana penduduknya sehingga membuat objek wisata yang harusnya bisa menjadi konsumsi regional ternyata hanya bisa dikonsumsi secara lokal.

“Kita siapkan kurator terkait kebijakan pengembangan pariwisata di daerah, tujuannya adalah untuk mengembangkan kawasan yang memiliki objek wisata potensial, baik untuk wisatawan mancanegara maupun lokal. Dimana pengembangan destinasi maupun kawasan pariwisata dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan kebijaksanaan daerah,” jelasnya.

Arief menambahkan destinasi 10 Bali baru yang sedang dikerjakan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Belitung di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta dan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Juga masih ada Gunung Bromo di Jawa Timur, Mandalika Lombok di Nusa Tenggara Barat, Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara serta Morotai di Sulawesi Utara.

Menurut Arief difokuskan membentuk pariwisata “Bali Baru” itu sebagai upaya menyelamatkan Bali, sehingga wisatawan bisa menyebar ke berbagai wilayah di tanah air.

Melalui adanya pengembangan produk wisata baru ini pemerintah telah membaca selera pasar.

Dalam teori pengembangan pariwisata, jelasnya, terdapat pendekatan produk atau product oriented development dan pendekatan pasar atau market oriented development.

Sementara yang diikuti saat ini adalah pendekatan kombinasi, yakni dengan melihat pasar dan produk sehingga tidak menganggu budaya masyarakat Indonesia.

“Misalnya customer minta Kasino, ya kita nggak kasi karena itu melanggar undang-undang. Ketika customer meminta yang melanggar etika keagamaan dan kebangsaan kita, ya kita tolak walaupun kita mengutamakan customer,” jelasnya.

Menurutnya disitulah pentingnya pengembangan destinasi melakukan pendekatan kombinasi antara market oriented and product oriented. (vis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.