RENUNGAN

Semak Bulus di Padang Belantara

Oleh: Pastor Bert Hagendoorn OFM

Einstein mengatakan: “Saya tidak membutuhkan seorang Allah untuk melengkapi sistem fisika yang saya perkembangkan”. Sistem itu mempunyai dua titik tolak: dasarnya adalah kenyataan dan: kenyataan itu harus bisa diukur dengan salah satu cara. Secara ilmiah  Einstein tidak bisa mengatakan “Tidak ada Allah”, karena pernyataan itu tidak berdasarkan salah satu kenyataan dan tidak bisa diukur juga. Ada orang yang mengatakan bahwa Einstein pernah berbicara tentang adanya seorang Allah. Ia mengatakan: “Bagi saya semua agama tidak lain dari pada takhyul yang dilembagakan”. Kalau sistem fisikanya dipegang sebagai satu-satunya dasar yang sah dan mutlak untuk mencari arti dan nilai dalam kehidupan di dunia ini, memang, tidak ada tempat untuk takhyul.

Kitab Suci yang dipakai oleh umat serani merupakan kumpulan kesaksian-kesaksian orang dan bangsa abad-abad lamanya, yang menyampaikan pengalaman mereka bahwa riwayat hidup mereka dipengaruhi dan diarahkan oleh kekuatan yang lebih besar dari pada mereka sendiri. Kekuatan itu diberi nama yang berbeda-beda: Yahweh, El, Elohim, Adonai, Yehova atau Tuhan Allah. Kekuatan itu dihormati dan disembah.

Di semua agama ada orang yang memberi kesaksian bahwa mereka mengalami di dalam diri mereka hubungan khusus dan langsung dengan Tuhan Allah. Mereka itu disebut ‘mistikus’. Kesaksian-kesaksian mereka tentang pengalaman itu tidak bisa disangkal atau dilewatkan.

Dalam kehidupan ini kita pilih di antara dua sikap. Kita hidup dari kepercayaan bahwa kehidupan kita berada dalam tangan Tuhan, bahwa Ia hadir dalam kehidupan kita dan mengarahkannya, bahwa karena itu kita boleh merasa aman dan dilindungi. Sikap lain tidak memperhitungkan adanya seorang Allah dalam kehidupan. Manusia mampu untuk membantu dirinya sendiri, katanya. Kalau kita tidak berhasil, bararti bahwa sistem yang kita pilih atau cara kerja kita harus ditinjau kembali.

Nabi Yeremia mengatakan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan. Ia akan seperti semak bulus di padang balantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, yang tidak berpenduduk” (Yer. 17, 5-6).

Mengapa ‘terkutuk’? Karena pegangan dalam kehidupan tidak ada. Selama seluruh kehidupan berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada masalah, apalagi kalau kita berhasil dan ada dukungan dan kekaguman. Tetapi pada saat tantangan muncul dan kita dicobai, baru terasa bahwa kehidupan kita tidak dibangun di atas pondamen yang kuat. Kita seperti orang yang sepanjang hari main H.P. dan sangka bahwa ada dukungan banyak dari teman-teman di Face Book. Pada saat mengalami kesulitan atau ada duka, ternyata tidak ada orang yang mengulurkan tangan untuk menghibur kita, apalagi memeluk atau meneguhkan kita.

Nabi Yeremia teruskan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17, 7-8).

Kedua sikap itu ada dampak masing-masing. Bisa jadi, bahwa karena kepercayaan kita pada Tuhan Allah, kita kurang beruntung di dunia ini: hidup miskin, lapar, menangis, dibenci. Tetapi “upahmu besar di surga” (Lk. 6, 23). Artinya bahwa kehidupan kita diperhatikan oleh kekuatan yang tidak berasal dari dunia ini. Pilihan lain adalah:  mengharapkan kekayaan, kekenyangan, pesta pora dan pujian. Tetapi semuanya itu fana saja. Dan sesudah itu? …

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.