Delapan Kasuari Gelambir Ganda Pulang ke Nayaro

TIMIKA,TimeX

Delapan Kasuari Gelambir Ganda pulang kembali dihabitatnya di hutan Iwawa Kampung Nayaro, Rabu (20/2).

Sebelum melepasliar satwa endemik Papua ini oleh Direktorat jendral (Ditjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem bekerjasama Jakarta Animal Aid Network (JAAN), PT Freeport Indonesia dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika diawali acara seremonial berlangsung di area reklamasi mile 21.

Foto: Riki/TimeX
PENYERAHAN – Suasana penyerahan kasuari dari Direktorat Konservasi kepada Kepala Kampung Nayaro sebelum dilepasliarkan, Rabu (20/2).

Kasuari ini merupakan hasil sitaan Balai Penegakkan Hukum (BPH) Jawa Timur dan BBKSDA Jawa Timur serta unsur terkait di Bandara Juanda Surabaya pada November 2017 lalu.

Setelah sembilan bulan persis pada Agustus 2018, BBKSDA Jawa Timur bekerjasama JAAN mengembalikan kasuari tersebut ke Provinsi Papua melalui BBKSDA Papua. Selanjutnya selama lima bulan (September, Oktober, November, Desember 2018 hingga Januari 2019) menjalani proses rehabilitasi di Isyo Hills Nimbokrang Jayapura.

Perlu diketahui sebelum pelepasliar kasuari tersebut BBKSDA Papua bersama JAAN dan PT Freeport, MSF Kabupaten Mimika bersama mitra Polisi Kehutanan Kampung Nayaro menjalani survei lapangan. Survei ini untuk memastikan lokasi pelepasliaran kasuari sekaligus mengidentifikasi ketersediaan pakan, potensi ancaman kesesuaian habitat guna keberlangsungan hidup kasuari setelah dilepasliarkan.

Indra Expliotasia Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati mewakili Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mengapresiasi terhadap kegiatan pelepasliaran kasuari gelambir ganda ke alam bebas.

“Kami berikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan pelepasliaran delapan ekor kasuari yang dilaksanakan di area reklamasi yang berada di Mile 21,” katanya.

Ia berharap dapat meningkatkan populasi kasuari di tanah Papua dan meningkatkan kolaborasi berbagai pihak, terutama masyarakat adat yang ada di sekitar kawasan hutan ikut dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Sementara Edward Sembiring Kepala BBKSDA Papua mengatakan hutan Iwawa di Kampung Nayaro merupakan wilayah sakral dari masyarakat adat Kampung Nayaro dari kepemilikan marga Mifaro. Secara umum marga Taparu, marga Tumua Mirimu sehingga masyarakat Kampung Nayaro tidak melakukan pemanfaatan hasil hutan di wilayah Iwawa.

Selain itu MMP Kampung Nayaro merupakan binaan dari cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Mimika akan berperan aktif dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

“Wilayah Iwawa merupakan wilayah yang sakral bagi masyarakat setempat. Jadi mereka akan tetap menjaga SDA yang ada,” kata Edward.

Cristian Karubaba Asisten II Setda Mimika Bidang Ekonomi Pembangunan dalam sambutan mengatakan Indonesia merupakan negara dengan kekayaan keanekaragaman SDA hayati. Meskipun kaya akan keanekargaman hayati namun Indonesia dikenal juga sebagai negara memiliki daftar panjang tentang perburuan satwa yang dilindungi.

Hal tersebut terjadi menurutnya, disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian satwa dan menjadikan satwa-satwa ini untuk kepentingan ekonomi.

“Seperti yang kita lihat selama ini marak terjadi penjualan satwa-satwa yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung  jawab sehingga bisa punah,” kritiknya.

Oleh sebab itu ia menyarankan harus ada upaya meminimalisir tindakan-tindakan perburuan dan perdagangan satwa tersebut secara illegal.

Kesempatan itu Karubaba ucapkan terima kasih atas kerjasama BBKSDA Papua dan Jawa Timur yang telah berhasil mengungkap kasus perdagangan illegal burung kasuari.

“Jadi harus ada untuk menekan tindakan perburuan illegal. Saya juga berterima kasih karena bisa mengungkap penyelundupan kasuari gelambir ganda,” katanya.

Freeport Lepas 45.700 Satwa Liar

Sementara Robert Sarwom, General Superintendent Lowland Reclamation and Biodiversity Environmental Departement menjelaskan selama 13 tahun sejak tahun 2006 hingga sekarang PTFI sudah melepasliarkan kurang lebih 45.700 satwa kembali ke habitatnya. Apa yang telah dilakukan berkat kerjasma semua pihak dalam melestarikan keanekaragaman hayati.

“Kami sampai dengan saat ini masih terus berkontribusi dalam perlindungan satwa-satwa yang dilindungi,” kata Robert dalam sambutan pada acara itu.

45.700 lebih satwa ini terdiri dari burung, ular, kura-kura dan labi-labi moncong babi. Satwa yang paling banyak dikembalikan ke habitat labi-labi moncong babi yang merupakan salah satu satwa endemik di wilayah Papua bagian selatan  dan disusul burung.

Pelepasliar ini katanya  bekerjasama Pemkab Mimika maupun BKSDA.

Sebagai wujud atas komitmen bersama lanjutnya pihak Freeport bersama Pemkab Mimika dan pihak terkait untuk tetap melestarikan keanekaragaman hayati agar tidak masuk dalam target perburuan dan perdagangan illegal oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab.

“Kita sendiri memiliki satu komitmen untuk konservasi di Papua. Kebetulan fasilitas yang kami miliki di sini adalah pusat keanekaragaman hayati, dan ini adalah fasilitas kami yang ada penampungan sementara satwa-satwa yang dilindungi terutama untuk jenis burung,” jelasnya.

Ia juga berterima kasih kepada semua pihak terutama BBKSDA Jawa Timur dan BPH Jawa Timur telah menggagalkan pengiriman delapan kasuari sehingga bisa dikembalikan ke habitatnya.

Dirinya berharap melalui kerjasama yang telah dibangun bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian alam.

“Management PT Freeport mengucapkan terima kasih atas kerjasama semua pihak bersama-sama dengan kami untuk pelepasliaran satwa-satwa. Kiranya kerjasama ini tidak berlangsung sementara tetapi berlangsung selamanya, dan semakin hari kesadaran masyarakat untuk pentingnya pelestarian lingkungan semakin baik,” harapnya.

Tim BKSDA Pantau Aktifitas Pasca Pelepasliaran

Terkait hal ini Indra Exploitasia Direktur Konsevasi Keanekaragaman Hayati menegaskan pasca pelepasliaran delapan kasuari ini pihak konservasi keanekaragaman hayati akan terus monitoring terhadap satwa yang dilepasliarkan melalui kamera pemantau selama 24 jam. Mulai dari aktifitas alami baik makan hingga ancaman yang datang baik dari hewan buas.

“Intinya kami akan memberikan jangka waktu tertentu untuk dilakukan monitoring berupa pemasangan kamera. Artinya kamera yang dipasang ini yang akan menginformasikan kepada kita setiap jam terhadap perilaku alami dari kasuari yang kita lepasliarkan,” kata Indra.

Sementara Edwar Sembiring Kepala BBKSDA Papua memastikan monitoring aktifitas dari satwa tersebut bekerjasama dengan Polhut dan pihak terkait untuk memastikan satwa yang dilepaskan dapat hidup dengan tenang di hutan yang merupakan rumahnya. (a32)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.