Uskup John Tahbis Empat Frater jadi Diakon

“Domba-domba harus dijaga oleh gembala agar tidak ada yang hilang dan tersesat. Demikian juga bagi seorang gembala di tengah dunia ini yang penuh tantangan dan ujian”

TIMIKA,TimeX

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr secara resmi pada Jumat (22/2) menahbiskan empat frater projo menjadi diakon.

Foto: Santi/TimeX
PEMERIKSAAN KANONIK – Mgr Jhon Philip Saklil Pr melakukan pemeriksaan kanonik terhadap Frater Agustinus Elmas Pr sebelum ditahbis menjadi diakon, Jumat (22/2).

Keempat frater yang ditahbiskan di Gereja St. Stefanus Sempan, yaitu Herman Yosep Betu, Pr kelahiran Timika, 13 Juni 1990, Fransiskus Uti, Pr kelahiran Wamena 08 September 1989, Agustinus Rumsory, Pr kelahiran Dobo 25 September 1986 dan Agustinus Elmas kelahiran Evi 18 Agustus 1991.

Mendampingi Uskup sekaligus memberi penguatan kepada keempat frater turut hadir kurang lebih 40-an imam selebran dari seluruh wilayah Keuskupan Timika.

Upacara misa pentahbisan yang dimulai pukul 16:00 WIT berlangsung khikmat dan meriah. Pada prosesi awal perarakan dari pintu menuju altar, Uskup didampingi para imam dan empat frater dihantar masuk diringi tarian adat Suku Kei. Sementara persembahan diiringi tarian adat dari Ende Lio. Pada momen perarakan penutup dari altar menuju pintu gereja diiringi tarian adat Papua. Misa ini dimeriahkan oleh Paduan Suara Aleluya Paroki St Sempan.

Umat yang hadir selain undangan dari empat frater juga ratusan umat dari Paroki Sempan dan Tiga Raja Katedral.

Mgr John dalam khotbah berpedoman dari Injil Matius menekankan para imam hendaknya selalu mengingat teladan gembala yang baik, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Uskup mengingatkan gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu,” pesan Uskup John.

Sementara kepada empat diakon Uskup Jhon berpesan untuk setia dalam menjalankan tugas dan panggilan mulia tersebut.

“Domba-domba harus dijaga oleh gembala agar tidak ada yang hilang dan tersesat. Demikian juga bagi seorang gembala di tengah dunia ini yang penuh tantangan dan ujian,” katanya.

Pemimpin umat Katolik di Keuskupan Timika ini menegaskan menjadi seorang gembala apa lagi di tengah dunia sekarang ini penuh dengan tantangan dan kesulitan tidaklah mudah.

Uskup juga menyadari memang tidak mudah bagi keluarga-keluarga untuk bersaksi sehingga anak-anak itu dapat dengan sendirinya mau menjawab bahwa panggilan adalah satu bentuk hidup yang penuh dengan sukacita sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan.

Dengan pentabisan ini Uskup berharap maka semakin banyak anak muda tertarik memilih dihidup selibat menjadi pastor, suster dan pengurus gereja, tetapi segalanya itu bukan secara otomatis melainkan ada kesaksian dari keluarga dan kesaksian hidup dari orangtua.

Panggilan itu katanya akan menjadi subur jika orangtua mampu bersaksi, orangtua mampu mengantar anaknya itu menghadap Tuhan dan menghantar Tuhan kepada anaknya. Panggilan adalah panggilan hidup kenyamanan dalam keluarganya yang mengalami kehadiran dalam keluarganya. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.