Renungan

Merusak atau Menjaga Kebersamaan?

RAJA Saul membenci kepada Daud yang telah diurapi untuk menggantinya sebagai raja dikemudian hari. Kelihatan Daud lebih laku di kalangan masyarakat dari pada Raja Saul sendiri.

Perempuan-perempuan yang menyongsong raja Saul menyanyi berbalas-balasan dan menari-nari dengan memukul rebana. Mereka pakai kata-kata ini: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1 Sam. 18, 6-7). Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat dan ia berusaha untuk membunuh Daud (1 Sam. 18, 11).

Daud melarikan diri dan dikejar oleh Raja Saul. Dua kali Daud mendapat kesempatan untuk membunuh Raja

Saul, tetapi ia membiarkannya hidup. Kali yang pertama ia hanya memotong punca jubah Saul, sebagai tanda bahwa sebenarnya ia dalam keadaan untuk membunuh Saul, tetapi ia tidak membuatnya (1 Sam. 24, 5).

Kali yang kedua Daud mencuri tombak dan kendi yang disebelah kepala Raja Saul, yang sedang tidur. “Siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi Tuhan?”, katanya (1 Sam. 26, 9).” Tuhan kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, Tuhan kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau” kata Daud kepada Raja Saul (1 Sam. 24, 13) dan “Tuhan kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau” (1 Sam 24, 16).

Daud betul-betul menjaga suasana kekeluargaan dan kebersamaan di dalam kerajaan dimana kelak ia akan menjadi pemimpin menggantikan Raja Saul. Di samping itu Daud tahu tempatnya.

Bukan dia yang mempunyai tugas dan hak untuk mengadili kalau hubungan semakin memburuk. Hanya ada satu yang berhak untuk mengadili, ialah Tuhan sendiri.

Yesus mengajak kita “yang mendengarkan Aku” untuk mengikuti teladan Daud dan mengambil sikap yang sama: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Lk. 6, 27-28).

Kasih adalah satu-satunya pintu keluar dari lingkaran setan untuk saling membalas. Setiap kejahatan merusak kebersamaan kita. Kalau kejahatan dibalas dengan kejahatan, maka kerusakan itu akan bertambah dan retakan akan menjadi kehancuran yang tidak bisa diperbaiki lagi. “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu, dan berbuatlah baik kepada mereka. Dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan.

Upahmu akan besar: kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, yang baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lk. 6, 35).

Yesus mengatakan bahwa dengan berbuat seperti Ia ajarkan, kita “akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi”. Dengan demikian kita akan menjadi seperti dimaksudkan Tuhan Allah pada saat Ia menciptakan manusia: menurut gambar Allah sendiri (Kej. 1, 27).

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lk. 6, 36).

Dengarkanlah baik apa yang diajarkan oleh Yesus. Yesus tidak menyangkal bahwa ada permusuhan di kalangan umat manusia.

Adanya permusuhan di kalangan umat manusia tidak luar biasa. Bukan adanya permusuhan dipersoalkan, melainkan sikap yang kita ambil terhadapnya. Musuh juga manusia yang bermartabat seperti kita sendiri, mereka juga anak-anak Allah “yang baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lk. 6, 35).

Alat untuk menghancurkan lingkaran setan yang menambah kejahatan pada kejahatan berada

di tangan kita sendiri, ialah ‘kasih’. Mengalami permusuhan dan kejahatan kita diajak untuk

memilih. Kita memilih untuk menghancurkan kebersamaan kita dengan membalas setiap permusuhan atau salah faham dengan permusuhan. Atau kita menghancurkan lingkaran setan dengan mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita. Sikap mana yang menjadi pilihan kita?

(Pastor Bert Hagendoorn OFM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.