Renungan: Terfokus oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

KADANG-kadang seorang tukang foto berhasil membuat foto yang menarik sekali. Suatu benda dari kehidupan sehari-hari bisa menjadi suatu obyek yang menarik. Dengan cara apa? Tukang foto itu melihat bahwa sesuatu yang kita anggap biasa dan ‘dikenal’ sebenarnya mempunyai ciri-ciri yang menarik, yang biasanya dilewatkan saja.

Ia memainkan lensa kameranya sampai obyek itu menjadi tajam sekali. Dan ia memperhatikan cahaya yang menyebabkan bahwa ada segi-segi yang lebih menonjol. Hasilnya bagus dan orang suka melihat dan menikmatinya. Obyek yang digambarkan itu tidak dirubah, tetapi tukang foto itu membantu orang lain untuk melihatnya dari segi lain, dan hal-hal yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang indah.

Proses seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan cara kita melihat orang lain. Seakan-akan kita mendapat suatu wahyu. Ada orang dalam kehidupan kita, yang setiap hari bergerak dan melaksanakan tugasnya. Mereka seperti orang lain di dalam kehidupan kita: tidak menonjol dan sewaktu-waktu kita merasa terganggu, karena kebiasaan atau perbuatan mereka tidak sesuai dengan selera kita. Entah karena apa, bisa terjadi bahwa kita mulai melihat mereka dengan cara lain. Dengan tiba-tiba kita melihat bahwa orang yang sering kita bertemu sebenarnya orang yang istimewa. Kita melihat dan menyadari kesetiaannya, pengabdiannya, perhatiannya untuk sesamanya, dan mungkin juga ciri-ciri khusus dalam penampilan fisiknya.

Orang itu tidak berubah, tetapi pandangan kita berubah. Apa yang sampai saat itu tersembunyi bagi kita menjadi nyata dan mengejutkan kita. Perubahan semacam itu terjadi dalam diri Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang dibawa oleh Yesus naik ke atas gunung untuk berdoa (Lk. 9, 28). Disana mata mereka terbuka, dan mereka melihat siapa Yesus pada saat kehidupanNya itu. Yesus itu orang surgawi, karena ‘pakaianNya menjadi putih berkilau-kilauan’ (Lk. 9, 29). Dan Yesus itu dekat dengan Musa, yang membawa Hukum Taurat bagi orang Yahudi (Lk. 9, 30) dan dekat dengan Nabi Elia, yang mewakili semua nabi yang memberi petunjuk dan menunjuk jalan dalam pengalaman hidup sehari-hari (Lk. 9, 30).

Yesus bersandar pada mereka menjelang ‘kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem’ (Lk. 9, 31). Dan mereka mendengar suara dari awam yang berkata: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Lk. 9, 35). Dengan kata-kata itulah Yesus ditunjuk untuk menjadi Mesias pada saat Ia dipermandikan di Sungai Yordan (Lk. 3, 22).

Petrus mau menahan penglihatan itu: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Lk. 9, 33). Untuk sejenak pandangan Petrus, Yohanes dan Yakobus telah dirubah, tetapi dunia nyata tidak. Kenyataan itu adalah bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Lk. 9, 22).

‘Melihat sejenak’ tidak merubah kehidupan kita dan tidak merubah dunia dengan segala rencananya yang tidak jarang jelek dan jahat. Tetapi ‘melihat sejenak’ itu bisa menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk menghadap dunia yang jahat itu. Mungkin kita akan lebih ‘terfokus’ lagi pada tugas kita yang sebenarnya, seperti yang terjadi pada Yesus yang harus menuju Yerusalem dimana “Ia harus menangung banyak penderitaan” (Lk. 9, 22).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.