Renungan: Tahun Kerahiman Ilahi oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

Pernah Yesus menceritakan suatu perumpamaan yang menjelaskan apa artinya ‘kerahiman ilahi’. Ia mengatakan: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya.

Kitab Suci

Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia” (Lk. 13, 6-9).

Yesus sebagai pengurus kebun anggur Tuhan, pemerhati umat Allah sendiri, berjuang, supaya Tuhan Allah tidak mengambil tindakan, selama masih ada harapan bagi orang yang belum menghasilkan buah yang baik. Dan Ia melaksanakan tugas itu dengan jelas dan tegas, sampai kadang-kadang menyakiti hati orang.

Setelah ada orang yang melaporkan kepadaNya, bahwa penguasa daerah Pilatus mencampurkan darah orang-orang Galilea yang ditangkapnya, dengan darah korban yang mereka persembahkan, Yesus menjawab: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain? Sama sekali tidak! Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lk. 13, 1-3).

Yesus sebut satu kejadian lain, yang mereka semua ingat, untuk dijadikanNya peringatan bagi mereka. Ia mengatakan: “Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? Tidak! kataKu kepadamu.

Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian!” (Lk. 13, 4-6). Dengan macam-macam cara Yesus berusaha supaya mereka yang sedang menempuh jalan yang salah, akan bertobat.

Keinginan Tuhan untuk menyelamatkan umatNya dan menghindarkan bahwa mereka yang tidak berbuah baik akan binasa, disebut: Kerahiman Ilahi. Kitab Suci mengenal ‘Tahun Rahmat Tuhan’ (Yes. 61, 2). Yesus sendiri datang “untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lk. 4, 19).  Seluruh umat kristiani dihimbau untuk bersikap seperti Yesus dan hidup terarah kepada usaha untuk menyelamatkan mereka yang diberikan kepada kita sebagai sesama dan saudara kita.

Secara spontan kita cenderung untuk mempromosikan diri kita sendiri. Kita membuatnya dengan memperkecilkan orang lain, lewat fitnah atau lewat cara kita bergaul dan mendekati mereka. “Jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan” (Gal. 5, 15).

Kita menentang keinginan untuk membinasakan sesama kita dengan menghasilkan buah yang baik, ialah buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri (Gal. 5, 22-23). “Janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki” (Gal. 5, 26).

Kerahiman Ilahi menjadi nyata di dalam diri Yesus dalam sikap yang Ia ambil terhadap mereka yang lemah: janda-janda, orang yang berduka cita, mereka yang jatuh dalam dosa, orang yang cacat, mereka yang dikuasai oleh roh atau keinginan yang jahat, dan mereka yang miskin atau yang membutuhkan hati sesamanya karena alasan lain. Marilah kita mengambil sikap seperti Yesus. Kerahiman Ilahi diwujudkan lewat kalakuan kita.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.