Renungan: Anak yang Sulung oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

PERUMPAMAAN yang dimuat dalam injil Lukas dan yang biasanya diberi judul “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (Lk. 15, 11-32) tidak asing untuk umat kristiani. Perumpamaan ini sering dipakai dalam lingkungan dimana ‘pertobatan’ dibahas. Kita tidak usah ragu-ragu untuk memulai proses pertobatan, karena betapa jeleknya kelakuan kita, Allah Bapa di surga menanti-nantikan kedatangan anakNya kembali.

Kitab Suci

Kisah tentang anak bungsu membahas dosa-dosa kita. Betapa jeleknya dan betapa ngerinya kelakuan kita, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebaikan Allah Bapa terhadap kita dan peluang yang dapat diharapkan dari cinta kasihNya. Semua yang diciptakan Tuhan dapat dipakai demi kesejahteraan dan kesenangan kita. Tetapi karena jangkauan pikiran kita amat terbatas, perhatian kita terutama terarah kepada perut dan keinginan untuk merasa puas.

Hanya malapetapa dapat menyadarkan kita, bahwa maksud ciptaan Tuhan tidak terbatas sampai keinginan itu saja. Malapetaka yang mengejutkan kita dapat membuka mata kita. Bisa jadi bahwa keinginan untuk kembali ke maksud Tuhan yang sebenarnya muncul.

Kita mau bertobat dan ingin kembali ke ‘rumah Bapa’, tetapi dengan cara apa? Kita coba untuk merumuskan kata-kata yang cocok untuk menyapa Tuhan: “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Engkau”. Inilah langkah yang pertama di perjalanan menuju rumah Bapa. Bagaimana sikap yang diambil Bapa? Ia mengikuti proses pertobatan kita. Dari jauh ia melihat kita dan hatiNya ‘tergerak oleh belaskasihan’. Pada saat kita sudah dekat, Ia ‘berlari mendapatkan kita, lalu merangkul dan mencium kita’.

Dan dari pada menegur dan mengajar kita, Ia mengadakan pesta besar, mengungkapkan kegembiraanNya, ‘karena anakKu yang hilang, telah kembali’. Selain ‘anak yang hilang’ dan ‘bapa yang berbelaskasihan’ ada figur lain dalam perumpamaan itu, ialah ‘anak yang sulung’. Dia tidak senang dengan perbuatan bapanya dan tidak menerima sikap yang diambil bapanya terhadap adiknya yang bandel, yang memboroskan harta kekayaan mereka dengan pelacur-pelacur. Ia tidak mau masuk ke tempat pesta, tidak mau bergabung dengan mereka yang bergembira dan merayakan, bahwa ‘anak yang hilang didapat kembali’,

bahwa ‘adiknya yang telah mati menjadi hidup kembali’. Mengapa tidak? Karena ia sombong dan cemburu: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk

bersukacita dengan sahabat-sahabatku”. Jawaban bapanya menarik: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” (Lk. 31).

Ketiga figur yang muncul dalam perumpamaan itu berada di dalam diri kita: Bapa yang ‘hatinya tergerak oleh belaskasihan’, anak bungsu yang ‘pergi ke negeri yang jauh’, dan anak sulung, yang ‘marah, dan tidak mau ikut bergembira dengan orang lain’. Tetapi figur yang ketiga, anak yang sulung, dia yang menganggap diri ‘berhak’, sering kita gelapkan, baik dalam pengajaran, maupun dalam renungan pribadi kita.

Kita tidak mau tahu bahwa seluruh keberadaan kita dan apa yang kita miliki tidak lain dari pada milik Bapa kita yang ‘di atas’ dan bahwa satu-satunya sikap yang cocok adalah sikap tahu berterima kasih dan ikut bergembira dengan sesama kita atas segala kebaikan Tuhan. Pertanyaan untuk kita renungkan bersama, kapan ‘anak sulung’ yang ada di dalam diri kita akan ikut bertobat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.