Renungan: Bersatu dengan Kristus? oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

PEKAN menjelang Pesta Paskah disebut ‘Pekan Suci’. Pekan itu dibuka dengan merayakan ‘Minggu Palma’. Pada hari Minggu tersebut kita diajak untuk menggabungkan diri dengan rakyat yang menyambut Yesus sebagai Raja mereka dengan berseru “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan”, dan untuk bergabung dengan murid Yesus yang bergembira dan memuji Allah (Lk. 19, 37-38).

Pada permulaan Pekan Suci kita diajak untuk memihak Yesus di perjalanan yang akan ditempuhNya. Dan kita membuatnya, karena kita ingin merayakan inti dan puncak iman kepercayaan kita, ialah tentang kesetiaan dan ketaatan Yesus yang menjalankan tugas yang dipercayakan kepadaNya dan tentang kesetiaan Tuhan Allah kepada mereka yang taat kepadaNya.

Tetapi kita kurang sadar tentang dampak pilihan kita. Karena rakyat yang menyambut Yesus sebagai Rajanya, dengan mudah dipengaruhi oleh provokator-provokator. Beberapa hari kemudian orang yang sama akan beteriak tentang Yesus yang mereka kagumi itu: “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” (Lk. 23, 21). Dan meskipun Pilatus mau melepaskan Yesus yang mereka serahkan (Lk. 23, 20), “akhirnya mereka menang dengan teriakan mereka” (Lk. 23, 23).

Pilatus mengatakan: “Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati padaNya” (Lk. 23, 22). Tetapi pimpinan orang Yahudi melihat Yesus dengan mata lain: “Ia menghasut rakyat dengan

ajaranNya” (Lk. 23, 5). Ajaran apa itu? Bahwa Tuhan Allah berbelaskasihan dengan mereka yang berdosa. Dan itulah yang tidak diterima oleh mereka, yang menganggap diri pemimpin umat Allah dan hakim atas perbuatan umat itu. Tuduhan mereka: “Ia sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Lk. 7, 34); “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama

dengan mereka” (Lk. 15, 2); “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa” (Lk. 7, 39).

Mereka tidak mau menerima bahwa “akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Lk. 15, 7); tidak mau menerima kata Yesus bahwa “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mt. 9, 13).  Yesus mencari orang berdosa, Ia bergaul dengan mereka, sampai saat terakhir dalam kehidupanNya.

“Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ, dan juga dua orang penjahat, yang seorang di sebelah kananNya dan yang lain di selelah kiriNya” (Lk. 23, 33). Dalam keadaan itupun Yesus tidak berhenti mewartakan belaskasihan Allah BapaNya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan berada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lk. 23, 43), kataNya kepada penjahat yang minta doa Yesus baginya (Lk. 23, 42).

Kita tetap mau bersatu dengan Yesus? Dunia luar melihatNya sebagai orang yang bergerak di dunia orang berdosa dan yang oleh sebab itu disalibkan di antara dua penjahat. Bersatu dengan

Yesus itu berarti bahwa kita mengambil resiko dilihat oleh dunia luar seperti Yesus dilihat oleh mereka: sebagai orang yang berdosa, mungkin sebagai penjahat.

Rasul Paulus mengatakan: “Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa -karena kita- supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5, 21). Memihak Yesus juga membawa harapan bahwa Allah akan membenarkan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.