Renungan Kamis Putih: Membiarkan Kaki Dibasuh oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

KALAU ditanyakan kepada umat apa yang membedakan perayaan pada Kamis Putih dari perayaan di hari-hari yang lain, jawabannya biasanya amat tepat: “Pada hari Kamis Putih kita memperagakan bahwa Yesus membasuh kaki para muridNya”

Kitab Suci

Dan juga kalau ditanyakan apakah artinya, umat tahu menjawabnya: “Karena Yesus mengatakan kepada muridNya: ‘Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki’ “. Apa yang kurang direnungkan dan kurang disadari, ialah bahwa anggota tubuh yang dibasuh oleh Yesus adalah anggota tubuh yang biasanya paling kotor.

Dengan kaki kita menyentuh permukaan bumi secara langsung, menginjak debu dan kotorannya. Dengan melangkah, kita mengotorkan kaki kita. Tetapi cara lain untuk maju tidak ada. Kaki kita membuktikan apa yang

kita sentuh dan apa yang kita injak. Kotoran di kaki kita bisa menjadi noda, yang membuktikan bahwa kita pernah melangkah di jalan yang salah. Yesus mengatakan: “Tidak semua bersih” (Yoh. 13, 10). Kita sudah mengetahuinya.

Yesus menawarkan untuk membasuh kaki kita semua dan menghapus noda-noda akibat salah langkah dan dosa. “Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah” (Yoh. 11, 55). Yesus menyambung kebiasaan orang Yahudi. Pembasuhan merupakan persiapan hari raya Paskah, yang harus dirayakan tanpa noda dan dalam keadaan bersih.

Yesus merayakan perjamuan Paskah itu bersama para muridNya sebagai keluarga Yahudi. Ia mengikuti peraturan Nabi Musa: “Pada tanggal sepuluh bulan ini hendaklah diambil seekor anak domba oleh masing-masing menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap keluarga” (Kel. 12, 3). Lewat pintu ruangan Perjamuan Akhir kita melihat Yesus makan bersama murid-muridNya. Kita senang melukiskan peristiwa itu sebagai kebersamaan yang menarik dan romantis. Kenyataannya lain.

“Seluruh jemaat Israel yang berkumpul harus menyembelih anak domba pada senja hari. Darahnya harus diambil dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah, tempat orang-orang makan anak domba itu”(Kel. 12, 6-7). Bingkai lukisan Yesus yang sedang makan bersama muridNya adalah bingkai yang berdarah. Pada malam Paskah itu anak domba akan dikurbankan dan Yesus yang menjadi Anak

Dombanya, seperti diramalkan oleh Yohanes Pembaptis pada waktu ia mengatakan tentang Yesus: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1, 29).

Yesus membersihkan kaki kita, membebaskan kita dari noda dan dosa, supaya kita siap mengikuti Dia di perjalananNya. PerjalananNya amat menyedihkan, karena “Orang yang makan rotiKu, mengangkat tumitnya terhadap Aku” (Yoh. 13, 18). Kita harus bersama Yesus telebih dahulu pada waktu perjamuanNya. Makan bersama Dia akan menguatkan kita. Kita sadar dan tahu bahwa “Tidak semua bersih”, tetapi apakah Yesus tidak mengatakan juga: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”? (Lk. 5, 32).

Kalau kita pikir, bahwa Perjamuan Kudus, Perayaan Ekaristi, dikaruniakan oleh Yesus sebagai hadiah untuk mereka yang tidak bersalah, kita harus meninjau kembali pendapat kita. Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Kita merayakan Ekaristi bersama, supaya bisa saling mendukung dalam proses pertobatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.