Sekretaris PPS Kebun Sirih Meninggal Dunia

“Saya bingung, saya juga sudah tua, tida punya pekerjaan, harapan kami cuma Amelia, tapi dia sudah pergi tinggalkan anaknya. Saya tidak tahu nanti ke depan anaknya bagaimana?”

 TIMIKA,TimeX

Satu lagi petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) di Timika meninggal dunia pada Rabu (1/5) sekitar pukul 15:20 WIT.

Foto : Kristina/TimeX
MELAYAT – Nampak komisioner KPU Mimika beserta sejumlah stafnya saat melayat ke rumah duka, Kamis (2/5).

Amelia Desi Awom (29) merupakan Sekretaris PPS Kebun Sirih, meninggal dunia di kediamannya di Kebun Sirih, setelah divonis pihak medis menderita komplikasi penyakit.

Ayah kandung korban, Frans Awom saat ditemui Timika eXpress di kediamannya menjelaskan bahwa Amelia meninggal tidak sedang menjalankan tugas mensukseskan Pemilu 2019 di Kabupaten Mimika.

“Anak saya sebagai anggota PPS memang sudah sakit sebelum pencoblosan, sehingga semua tahapan proses Pemilu di wilayah tugasnya tidak diikutinya. Ini mulai  lurah dan rekan-rekannya yang lain sudah mengatahuinya, karena waktu Amelia sakit, mereka sempat datang  jenguk,” kata Frans.

Kata Frans, Amelia menderita komplikasi sakit paru-paru dan asam urat, dimana sementara ini sedang mengikuti program pemulihan dari Malaria Control (Malcon).

“Sebenarnya dia ikut program enam bulan dari Malcon, cuman beberapa bulan belakangan dia hentikan minum obat karena merasa sudah baikan,” kata ayahnya lirih.

Kenyataannya, sambung Frans, setelah berhenti minum obat, tidak berapa lama kemudian Amelia mengalami sesak nafas yang sering dideritanya, sehingga ia kembali dilarikan ke RSUD.

“Kasihan anak saya yang satu ini, keluar masuk rumah sakit. Terakhir itu setelah balik dari rumah sakit karena diagnosa dokter bilang sudah membaik, sehingga dianjurkan kembali ikut program layanan kesehatan dari Malcon di Puskesmas Kwamki Baru,” kata Frans.

Sayangnya, selama mengikuti program pemulihan, sakit asam urat yang selama ini diderita Amelia kambuh sehingga membuatnya tidak bisa jalan.

Kondisi ini membuat dirinya tertidur dan mendapat pelayanan di atas tempat tidur, baik itu membuang feses maupun urine.

“Sebelum meninggal, dia tidak bisa jalan hampir dua minggu karena asam urat. Dari sakitnya ini, setiap minggu saya bawa dia ke Puskesmas Kwamki Baru untuk periksa bahkan suntik dan ambil obat unutk rawat jalan,” ujar Frans.

Hari Rabu, saat terakhir ajal menjemput dia, Amelia diantar ibunya kontrol ke Puskesmas Kwamki Baru untuk ambil obat serta memeriksa kembali kakinya yang sakit karena asam urat.

“Usai diperiksa, dokter di Puskesmas bilang sudah baikan, bahkan Amel sudah bisa melangkah pelan hingga beranjak ke kamar mandi sepulang berobat dari Puskesmas,” katanya .

Amelia pada waktu itu sekitar pukul 15:00 WIT, minta ditemani ponakannya ke kamar mandi.

“Saat dia (Amelia) mau ke kamar mandi, dia minta keponakannya untuk tuntun ke kamar mandi, dan sekembalinya langsung istirahat,” ceritera Frans.

“Kami tindak sangka, tepat pukul 15:20, mamanya berdiri di depan pintu kamar Amel, dan hendak masuk ke kamarnya, perasaan mamanya berbeda lantaran melihat kondisi berbeda pada tubuh Amelia. Dia tidur terlentang terus tidak ada tanda-tanda kalau dia sesak napas atau mengeluh sakit. Tiba-tiba saja sudah kaku. Kalau dia mengeluh pasti kami langsung bawa lari ke rumah sakit,” tutur Frans.

Melihat Amelia sudah keadaan kaku, ibunya histeris dan berteriak kencang hingga mengagetkan Frans, suaminya yang sedang tidur siang itu.

Mendengar teriakan histeris istrinya, Frans pun terbangun dan langsung menuju kamar Amelia, selanjutnya memeriksa denyut nadi anaknya.

“Tidak ada lagi denyut nadi, Amel sudah pergi, tidak ada lagi. Kasihan dia pergi tidak pesan apa-apa, itu yang buat saya sedih karena pergi begitu saja,” ungkap Frans berlinang air mata.

Frans bersama istri dan keluarganya benar-benar merasa kehilangan, sebab Amelia, ibu anak satu ini  merupakan tulang punggung keluarga mereka.

“Saya bingung, saya juga sudah tua, tida punya pekerjaan, harapan kami cuma Amelia, tapi dia sudah pergi tinggalkan anaknya. Saya tidak tahu nanti ke depan anaknya bagaimana,” kata Frans tak mampu menahan derai air mata.

Ketika ditanya rencana pemakaman Amelia, Frans mengatakan putrinya itu akan dimakamkan di halaman rumah om kandungnya di Nawaripi, kilometer 5 Timika, Jumat (3/5) pada pukul 14.00 WIT siang ini.

Peristiwa iman meninggalnya Amelia, tentunya menjadi duka dan tragedi nasional, sebab dari momen demokrasi Pemilu 2019, tercatat sudah 382 petugas KPPS meninggal dunia. Sedangkan jumlah yang sakit tembus 3.538 orang.

Jumlah tersebut sesuai data KPU RI tertanggal 1 Mei 2019.

Adapun data KPU Papua, secara keseluruhan di Papua sudah tercatat 11 anggota KPPS meninggal dunia.

Diketahui, banyaknya petugas yang mengawal penghitungan suara hasil Pilpres dan Pileg itu dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan.
Untuk diketahui, Pemilu 2019 sangat rumit dan menyita banyak waktu, tenaga serta pikiran dari para petugas penyelenggara dalam mengawal prosesnya.
Duka yang dialami keluarga Amelia turut dirasakan Komisioner KPU Mimika.

Fidelis Piligame, Komisioner KPU Divisi Sosialisasi bersama Laurens Minipko, Komisioner Divisi Hukum KPU Mimika beserta staf KPU lainnya, pada Kamis (2/5) langsung melayat ke rumah duka untuk menguatkan keluarga berduka.

Perwakilan Komisioner KPU Mimika beserta stafnya saat itu membawa karangan bunga dan memberikan santunan duka, bentuk belasungkawa.

“Komisioner KPU dan seluruh jajaran sampaikan ucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada Amelia yang telah meninggal setelah berjasa bagi bangsa dan negara. Saya boleh katakan Amelia adalah pahlawan demokrasi, dan patut kami hargai,” kata Fidelis.

Kepada ayah Amelia, Fidelis menyampaikan, terkait santunan kematian dan lainnya yang menjadi hak almarhumah akan dibicarakan secara intern. (cristin rejang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.