Setelah 48 Tahun Melayani di Papua, Pater Bert Pulang Kampung

Foto: Yosefina Dai Dore/TimeX
FOTO BERSAMA – Dari kiri ke kanan, RD Amandus Rahadat, Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RP Madya SCJ, Sekretaris jenderal Keuskupan Timika, dan RP Lambertus Egbert Hagendoorn, OFM foto bersama di sela-sela acara perpisahan  yang digelar di Pelataran Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Minggu (13/5) sore.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ada awal pasti ada akhir.

Itulah kalimat yang diucapkan RP Lambertus Egbert Hagendoorn, OFM, diawal sambutannya saat acara perpisahan bersama umat Paroki Santo Stefanus Sempan di Pelataran Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Minggu (13/5) sore.

Hari ini, Senin (13/5) biarawan yang biasa disapa Pater Bert ini akan meninggalkan Papua untuk kembali ke kampung halaman atau tanah kelahirannya di Belanda.

Pastor yang lebih senang bertugas di wilayah pedalaman Papua ini pernah menolak saat ditugaskan menjadi Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika.

“Saya lebih senang di pedalaman dengan masyarakat. Tapi saya berpikir mungkin hanya bertugas beberapa tahun saja di Timika akhirnya saya terima, tapi ternyata sampai 20 tahun,” kata Pater Bert disambut gelak tawa umat yang hadir.

Pater Bert yang sudah familiar di telinga umat Katolik maupun di kalakangan anak-anak remaja mengucapkan terimakasih kepada semua umat yang selama ini telah mendukungnya dalam tugas dan pelayanan.

“Saya harap dan doakan semua umat selalu diberkati Tuhan,” ucapnya.

Dalam acara perpisahan yang digelar umat Paroki Sempan itu dihadiri sejumlah pastor dan diakon dari Jayapura termasuk Pastor Gabriel Ngga, OFM, kini menjabat Provinsial OFM Provinsi Papua. Hadir juga Romo Madya SCJ, Sekretaris jenderal Keuskupan Timika beserta sejumlah pastor, frater, diakon dan suster di Timika.

Acara berlangsung sederhana dan meriah. Menghibur suasana, Pater Berth yang humoris pertunjukan beberapa permainan. Tidak cuma itu ia juga memberikan sambutan dengan gaya jenaka, sehingga mengundang gelak tawa semua umat dan rohaniawan yang hadir.

Acara itu juga dimeriahkan dengan tampilan anak-anak Sekami Paroki Sempan. Mereka membawakan lagu  berjudul ‘Sapu Tangan Biru’. Mereka juga membaca puisi dan memberikan cinderamata kepada pastor yang lahir di Den Haag, pada 22 Juli 1942 ini.

Selain anak-anak Sekami, Paduan Suara Aleluya dan Joy Full juga turut tampil menyanyikan lagu ‘Terbayang Senyum Manismu’.

Acara ini diisi pula games-game oleh pastor-pastor dan suster-suster.

Pastor Gabriel Ngga, OFM Provinsial OFM Provinsi Papua dalam sambutannya pada kesempatan itu mengatakan hampir sebagian besar perjalanan hidup dari Pater Bert dihabiskan untuk mewartakan Injil di Tanah Papua.

Ia mengucapkan terimakasih kepada Pater Bert yang tekun menjalankan tugas perutusannya dengan penuh tanggung jawab.

Mantan Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan ini mengucapkan terima kasih kepada semua umat yang selama ini telah memberikan perhatian penuh kepada pastor yang murah senyum dan sangat ramah ini.

“Umat begitu perhatian kepada pastor terutama dalam saat-saat sulit. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Pater Berth dan kepada semua umat. Benih Sabda Tuhan yang ditanamkan selama 48 tahun ini sudah bertumbuh, berkembang dan berbuah. Selamat jalan Bert, doa kami dan doa umat selalu menyertaimu,” pesan Pastor Gabriel.

Sementara Pater Bert, ditemui Timika eXpress saat ramah tamah dalam acara perpisahan tersebut mengungkapkan dirinya dithabiskan menjadi imam pada tahun 1969 di Amsterdam, Ibu Kota Belanda. Setelah dithabiskan, sambil menunggu visa  berangkat ke Indonesia ia ditugaskan belajar Antropologi dan melayani umat di Kota Gouda yang ada di Holandia Selatan, Belanda.

Kemudian pada tahun 1971 Pater Bert tiba di Indonesia. Ia mengikuti kursus Bahasa Indonesia beberapa bulan di Kota Yogyakarta. Kemudian berangkat ke Jayapura melaksanakan tugas pertamanya di Indonesia.

“Tugas pertama saya sebagai Sekretaris Keuskupan Jayapura,” katanya.

Setelah itu ia dipercayakan menjadi Rektor Seminari Menengah di Abepura.

Pada tahun 1975 ia dipindahkan menjadi Pastor Paroki di Nabire sampai tahun 1983.

Kemudian pada tahun 1983 ditugaskan menjabat Rektor SPG Taruna Bakti Waena sampai tahun 1985.

Selanjutnya dipindahkan ke Sentani sebagai Magister Novis.

“Tugas saya saat itu  membina, mendidik orang mudah yang mau menjadi Fransiskan. Saya berkarya di Sentani sampai tahun 1993,” kenangnya.

Menurut Pater Bert, tahun 1993 kembali mendapat tugas baru sebagai Koordinator Pastoral Wilayah Pegunungan Bintang selama dua tahun.

Pada tahun 1995 dipindahkan ke Enarotali menjadi Vikaris Episkopal  untuk Keuskupan Jayapura bagian barat sampai tahun 1999.

“Pada tahun 1999 saudara John Saklil menggantikan posisi saya karena ia dipersiapkan menjadi Uskup di Keuskupan Timika. Sehingga saya dipindahkan ke Timika menjadi Pastor Paroki Tiga Raja sampai tahun 2003. Saya digantikan Pastor Jack Motte,” tuturnya.

Dari Tiga Raja Pater Bert bertugas di Paroki Sempan sebagai pastor rekan. Selain melayani umat dalam urusan gereja, pastor juga melayani dalam urusan sosial terlebih di bidang kesehatan di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) sebagai Kaur Humas.

Sejak tahun 1996 Pastor Bert sudah memberikan perhatian secara spontan kepada Orang Dengan HIV-AIDS (ODAH), kemudian tahun 2003 Pater Bert membentuk Yayasan Peduli Aids (Yapeda) bekerja sama dengan Rumah Sakit Mitra Masyarakat untuk menekan angka penularan HIV-AIDS di Mimika. (Yosefina Dai Dore)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.