P2MA-PTP Bakar Batu Bersama Masyarakat Tujuh Suku

TIMIKA, TimeX

Pusat Pengendali Masyarakat Adat Pegunungan Tengah Papua (P2MA-PTP) mengadakan acara bakar batu dihadiri masyarakat tujuh suku di halaman Sekretariat P2MA-PTP, Jalan Nuri Nomor 7, belakang Gereja Katedral Tiga Raja, Jumat (17/5).

Foto: Yosefina Dai Dore/Timika eXpress
FOTO BERSAMA – Pengurus P2MA-PTP foto bersama tokoh masyarakat tujuh suku di Sekretariat P2MA-PTP, Jumat (17/5).

Selain prosesi bakar batu, masyarakat tujuh suku juga mendengar arahan dan himbauan dari tokoh-tokoh masyarakat tujuh suku yang bernaung dalam lembaga P2MA-PTP.

Hadir pula perwakilan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

Marthen Omaleng, Ketua P2MA-PTP ditemui Timika eXpress di sela-sela prosesi bakar batu menjelaskan bahwa lembaga yang dibentuk oleh Lukas Enembe Gubernur Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) pada tahun 2013 lalu ini tujuannya untuk menghimpun masyarakat tujuh suku, yakni Suku Amungme, Kamoro, Mee, Moni, Ndungga, Damal dan Dani agar selalu hidup rukun dan damai. Serta bersama-sama bisa memperjuangkan kesejahteraan hidup masyarakat Papua di tanah yang kaya raya ini.

“Selama ini kami amati karena persaingan sosial terjadi banyak sekali konflik di antara masyarakat tujuh suku, sehingga dibentuknya lembaga ini agar masyarakat tujuh suku bisa hidup bersatu dengan damai, dan sama-sama kita memperjuangkan hak masyarakat Papua demi meningkatkan kesejahteraan hidup,” kata Marthen.

Sementara Daud Nirigi, Ketua Dewan Pertimbangan P2MA-PTP mengatakan lembaga tersebut akan memperjuangkan aspirasi masyarakat tujuh suku dan masyarakat Papua kepada Pemerintah Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mimika serta PT Freeport Indonesia.

“Jadi kami gelar bakar batu sebagai tanda berkumpulnya masyarakat tujuh suku. Dengan kebersamaan ini kita semua bisa memperjuangkan kehidupan yang lebih layak melalui program-program dari pemerintah dan PT Freeport Indonesia. Serta dana-dana yang disalurkan pemerintah dan Freeport bisa menyentuh langsung masyarakat asli Papua,” tuturnya.

Ia mengatakan selama ini hanya dikenal masyarakat tujuh suku tapi seperti apa masyarakat itu mungkin banyak yang belum tahu.

“Jadi melalui momen bakar batu ini kami berkumpul dan mau menunjukan kepada masyarakat Mimika, bahwa kami masyarakat tujuh suku telah bersatu dan P2MA-PTP merupakan honai kami,” tuturnya.

Ruben Kobogau, Wakil Ketua P2MA-PTP menegaskan melalui lembaga ini dana-dana yang dikucurkan oleh pemerintah dan PT Freeport Indonesia akan langsung dirasakan oleh masyarakat asli Papua.

“Jadi tujuan kami masyarakat asli Papua bisa sejahtera di atas tanahnya yang kaya  ini,” tuturnya.

Hal senada diutarakan Timotius Sarmi, Kepala Suku Kamoro.

Menurutnya dalam P2MA-PTP bersama-sama dengan PT Freeport Indonesia dan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah bisa bersama-sama mencari akar masalah yang menjadi penyebab masyarakat asli Papua hidup miskin di tanahnya sendiri.

“Akar masalah harus dicabut dan sudah saatnya masyarakat Papua menikmati kesejahteraan di tanah yang kaya raya ini,” katanya.

Sementara Anis Natkime Kepala Tujuh Suku di P2MA-PTP menyeruhkan kepada semua pengusaha yang bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia agar perhatikan putra-putri asli Papua.

“Jadi dalam merekrut tenaga kerja untuk bekerja di wilayah PT Freeport Indonesia kami minta utamakan putra-putri asli Papua,” pungkasnya. (epy/ozy)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.