Renungan: Perintah yang Baru oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

foto: Yosefina Dai Dore/TimeX
Pastor Bert Hagendoorn OFM

Dalam percakapan perpisahan-Nya dengan para murid-Nya Yesus berkata kepada mereka: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yoh. 13, 34). Apa yang baru dalam perintah ini? Sebelumnya Yesus pernah mengatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mt. 22, 39).

Ia pun berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lk. 6, 27).

Perintah itu pun tidak baru, karena Yesus mengutipnya dari Hukum Taurat orang Yahudi (Im. 19, 18). Apa yang dimaksudkan Yesus dengan ‘perintah baru’?

Yudas baru pergi, meninggalkan kelompok murid-murid Yesus. Sekarang Yesus menyapa sisa dari kelompok itu dan Ia memberi nasehat kepada mereka.  Perintah baru itu adalah tugas khusus yang Yesus berikan kepada mereka supaya mereka tetap saling mencintai, saling memperhatikan, menghindarkan pengkhianatan seperti dialami oleh Yesus sendiri.

Yesus menyambung perbuatan-Nya tidak lama sebelumnya, ialah membasuh kaki para murid-Nya.

“Jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling mebasuh kakimu” (Yoh. 13, 14). Unsur ‘tanpa batas’ dan ‘tanpa menghitung-hitung’ ditambahkan oleh Yesus pada perintah yang dulu pernah Ia berikan kepada masyarakat umum.

Maksud Yesus juga dicontohkan oleh apa yang terjadi setelah Yesus ditangkap. Ia membiarkan penangkapan itu terjadi dan tidak menerima jalan kekerasan yang dipilih oleh Petrus:

“Masukkan kembali pedangmu ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mt. 26, 52).  “Barang siapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipi yang lain” (Lk. 6, 29). Cinta yang sungguh tidak mengenal batas. Sekali lagi Yesus mengatakan: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13, 34-35).

Perintah untuk saling mencintai dengan sungguh-sungguh ditanggapi amat serius oleh Gereja Purba. “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (KPR 4, 32). “Tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul, lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (KPR 4, 34-35). “Mereka disukai semua orang” (KPR 2, 47).

Perintah dan tugas khusus yang diberikan Yesus kepada kelompok murid-Nya bergema terus sampai saat ini dan menyentuh hati kita. Seluruh dunia melirik kita, karena “semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13, 35).

Dimana di kalangan kita ‘saling mengasihi’ itu menjadi nyata? Kita harus mencari bentuk yang cocok untuk mewujud-nyatakan cinta kasih yang berlaku di antara kita sekarang. Perintah baru untuk saling mengasihi diberikan kepada kita sebagai kelompok dan bukan kepada kita pribadi dan masing-masing saja. Semua orang akan tahu apakah kita murid-murid Yesus.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.