Harga Cabai Rawit Makin ‘Pedis’

TIMIKA,TimeX

Memasuki hari ke 17 Bulan Ramadhan 1440 Hijriah harga bumbu dapur jenis cabai rawit di pasaran makin ‘pedis’. Saat ini melonjak tembus Rp90 ribu per kilo dari sebelumnya Rp50 ribu per kilo.

Foto: Santi/TimeX
MENJUAL – Purwati sementara menjual  bumbu dapur di Pasar Sentral, Selasa (21/5).

Purwati, pedagang bumbu dapur di Pasar Sentral menuturkan naiknya harga cabai ini selain bertepatan bulan puasa di mana permintaan cukup tinggi juga harga beli dari tangan pertama sudah mahal.

Selaku pedagang Purwati turut merasakan mahalnya harga. Bahkan ia berharap meskipun hari raya sebaiknya tidak perlu terjadi lonjakan harga.

“Kalau bisa meski ramadhan itu ya stabil saja. Jangan naik terus. Kita jadi bingung, pembeli juga bingung,” katanya saat ditemui Timika eXpress di tempat jualnya, Selasa (21/5).

Ia menyebutkan selain lombok, harga bawang putih yang awal puasa sempat melonjak Rp80 hingga Rp90 ribu per kilo sekarang mulai turun Rp 75 ribu per kilo.

“Turunnya hanya lima ribu saja. Namun mendekati dua pekan hari raya Idul Fitri harganya sedikit mulai berangsur turun, dan diperkirakan saat lebaran harga akan kembali normal,” tutur Purwati.

Menurutnya tidak stabilnya harga bahan bumbu dapur di pasaran sudah biasa terjadi saat ramadhan atau menjelang hari raya keagamaan natal dan tahun baru.

Ia mengatakan sebagai pedagang tetap berharap agar harga bahan pokok bisa kembali stabil.

“Saat ramadhan permintaan bahan pokok selalu mengalami peningkatan. Namun karena harga naik penjualan mengalami penurunan,” keluhnya.

Ia mengatakan dalam waktu dekat ini kapal akan masuk sudah pasti harga semua kebutuhan pokok kembali normal lagi. Seperti bawang putih ketika kapal masuk bisa turun Rp50 ribu per kilo.

“Walau harga naik turun tapi untuk stok, saya di sini pasti aman untuk penuhi kebutuhan masyarakat saat hari raya Idul Fitri nanti,” ungkapnya.

Meri, seorang ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Sentral saat berbelanja mengeluhkan mahalnya harga bumbu dapur.

Ia berharap harga lombok, bawang putih dan merah kedepan kembali turun biar masyarakat yang ekonomi pas-pasan bisa belanja.

“Untuk lombok biar mahal saya tetap beli karena masakan tanpa lombok rasanya tawar,” tuturnya.

Saat belanja ia membeli lombok yang dijual perkumpul seharga sepuluh ribu.

“Saya minta pemerintah bisa awasi harga di pasar. Saya takut pedagang timbun barang-barang bilang stok kosong, padahal mereka simpan tunggu mendekat hari raya baru bongkar gudang,” katanya. (san)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.