Pemerintah ‘Lemah’ Tertibkan Pedagang Eks Pasar Swadaya

TIMIKA,TimeX

Thadeus Kwalik Anggota Komisi C DPRD Mimika menyoroti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika masih ‘lemah’ menertibkan para pedagang yang tetap berjualan di eks Pasar Swadaya dan sepanjang Jalan Bhayangkara setelah direlokasi langsung oleh Bupati Mimika Eltinus Omaleng ke Pasar Sentral pada April lalu.

Foto: Rina/TimeX
JUAL – Mama-mama penjual sayur sementara menjajakan dagangannya di Jalan Bougenville, Rabu (22/5).

Masih maraknya pedagang maupun mama-mama berjualan sayur dan pangan lokal di lokasi eks Pasar Swadaya, sepanjang Jalan Bhayangkara, kini meluber ke Jalan Bougenville, ini menunjukan instansi terkait yang menanganinya, yakni Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Mimika belum punya taji.

Thadeus merasa miris akan hal ini, sebab tidak ada skema yang tepat dan konsisten pihak terkait melakukan penertiban pedagang. Buktinya, para penjual sayur masih menjajakan jualannya di Jalan Bhayangkara dan Bougenville.

Kritik tajam ini dilontarkan Thadeus saat ditemui Timika eXpress di Kantor DPRD, Rabu (22/5).

Menurutnya, jika pedagang bersikeras tidak mau pindah memilih tetap berjualan di situ tentunya Satpol PP harus mengambil langkah dan sikap tegas, bukannya menuruti keinginan masyarakat pedagang.

Pedagang kembali berjualan di eks Pasar Swadaya atau Jalan Bougenville dikarenakan daerah tersebut ramai dikunjungi oleh masyarakat, itu jangan dijadikan alasan.

Sebenarnya, lanjut Thadeus di sinilah tanggung jawab Satpol PP untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Apakah karena ketidaknyamanan pedagang atau karena ada hal lain menyebabkan mereka kembali berjualan di situ.

Ia mendorong Disperindag Mimika selaku penata pasar mestinya sigap menanggapi persoalan ini.

“Sudah direlokasi tetapi masih tetap berjualan, itu kembali lagi kepada Disperindag untuk menata Pasar Sentral secara baik,” katanya.

Instansi teknis bertanggungjawab mencari tahu alasannya mengapa pedagang lebih suka kembali berjualan di tempat yang sudah ditertibkan daripada di Pasar Sentral yang disediakan pemerintah.

Pantauan media ini di lapangan, aktivitas pedagang di pinggir Jalan Bougenville area eks Pasar Swadaya ramai dikunjungi warga. Ramainya pengunjung berdampak pada macetnya arus lalu lintas, paling terasa pada sore hari.

Secara terpisah, Willem Naa Kepala Dinas Satpol PP tegaskan pihaknya bukan tidak mampu menertibkan pedagang hanya saja lokasi Pasar Sentral tidak memungkinkan menampung semua pedagang,  untuk itu  perlu penataan kembali.

“Kita sudah tertibkan tetapi  kalau Pasar Sentral tidak ada tempat untuk tampung mereka bagaimana? Sehingga perlu ditata kembali. Kios yang dibangun hanya tempel-tempel saja kita akan bongkar dulu nanti baru dinas terkait menata, los mana khusus untuk pedagang dari Gorong-gorong, begitu juga pedagang Pasar Sentral, dari eks Pasar Swadaya dan SP 2,” jelasnya saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu (22/5).

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Mimika ini juga menyampaikan telah menerima keluhan mama-mama Papua yang direlokasi ke Pasar Sentral bahwa akses jalan di sana tidak ada akhirnya mereka memilih berjualan di jalan.

“Seharusnya jalan di kompleks Pasar Sentral itu diaspal agar tidak becek. Jadi mereka tidak mengeluh, kalau tidak ada akses, biar kita tertibkan juga di eks Pasar Swadaya mereka tetap kembali berjualan,” ujarnya.

Menyikapi perihal tersebut Willem memastikan minggu depat akan ada agenda rapat bersama TNI-Polri juga dinas terkait untuk penertiban.

“Nanti kita rapat itulah baru kita bisa mendegar masukan atau pendapat seperti apa menyangkut penertiban ini. Karena kami ingin juga mau pedagang ini segera pindah di Pasar Sentral,” katanya.

Mengenai anggaran Rp3 miliar yang sudah disampaikan Bupati Mimika digunakan untuk penertiban pedang ia no comen.

Namun ia katakan bahwa itu masih dalam pembicaraan sehingga belum mengetahui lebih lanjut soal anggaran tersebut siapa yang kelola.

Sementara Theresia penjual sayur menuturkan dirinya terpaksa menjual di pinggir Jalan Bougenville karena di Pasar Sentral sudah tidak ada tempat lagi.

“Kita mau jual di mana? Tidak ada tempat yang kita bisa atur barang dagangan. Kalau ada tempat boleh larang kami jualan di sini,” tutur Theresia saat ditemui Timika eXpress di Jalan Bougenville, Rabu (22/5) pagi.

Ia menjelaskan waktu pemerintah datang minta semua pedagang ini pindah ke Pasar Sentral sempat menolak karena mama-mama ini sudah lama berjualan di sini.

“Waktu kami bersama-sama dengan pemerintah ke lokasi di Pasar Sentral itu aman-aman saja, tetapi hari berikutnya malah diusir karena lapak tersebut sudah ada pemiliknya,” katanya.

Mama-mama Papua sempat dimarah-marahi oleh Satpol PP karena berjualan di pinggir Jalan Bougenville.

“Iya, kami selalu dimarahi Satpol PP tapi kami juga ngotot mau jualan di sini, karena di Pasar Sentral itu kami tidak ada tempat dan juga kami diusir. Mereka (Satpol PP) marah-marah kami tapi kami juga marah balik mereka,” ungkapnya. (san/a30/aro)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.