Penggelap Voucher Belanja Karyawan Freeport Divonis Empat Tahun Penjara

TIMIKA,TimeX

Winar Adhi Dharma alias WAD), terdakwa penggelap voucher belanja karyawan di Supermarket Hero di kawasan PT Freeport Indonesia, Tembagapura divonis empat tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Timika, Selasa (28/5)

DIVONIS – Winar Adhi Dharma (WAD) saat menerima vonis perkara penggelapan voucher Hero Supermarket yang dibacakan Majelis Hakim pada sidang, Selasa (28/5).

Putusan hukum ini lebih tinggi satu tahun dari tiga tahun tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Joice E. Mariai, pada sidang, Jumat (17/5) lalu.

Tervonis Winar Adhi Dharma dalam perkara ini terbukti bersalah dengan pembuktian terhadap unsur-unsur pidana, maupun fakta-fakta dan analisa yang terungkap dalam persidangan, sebagaimana ketentuan Pasal 374 KUH Pidana.

Relly Dominggus Behuku, Ketua Majelis Hakim  dalam amar putusan menjelaskan, Winar Adhi Dharma divonis lebih berat satu tahun, karena atas perbuatannya, banyak karyawan PT Freeport Indonesia tidak mendapatkan voucher belanja yang adalah hak mereka untuk berbelanja di Hero Supermarket.

“Ini pertimbangan hukum terkait hal-hal yang memberatkan tervonis, meski sebelumnya ia (Winar Adhi Dharma) memohon dijatuhi vonis lebih ringan,” ungkap Relly.

Permohonan Winar Adhi Dharma divonis ringan lantaran dirinya sudah tidak lagi bekerja di  Hero Tembagapura, bertanggungjawab terhadap anak-anak dan orangtuanya yang menderita sakit, serta kenyataan pahit yang bersangkutan pun telah bercerai dengan istrinya.

Dalam amar putusan juga menyebutkan, barang bukti berupa 3.983 lembar vuocher senilai Rp398.300.000, diminta untuk dikembalikan kepada PT Freeport Indonesia.

Adapun barang bukti rincian voucher belanja, meliputi 500 lembar voucher pecahan Rp100 ribu. 1.000 lembar voucher pecahan Rp100 ribu, 541 lembar voucher pecahan Rp100 ribu, 1.442 lembar voucher pecahan Rp100 ribu, dan 500 lembar voucher pecahan Rp100 ribu.

Untuk diketahui, kasus yang menjerat WAD berawal dari tanggal 28 Desember 2018 lalu.

Ketika itu, WAD mendapat perintah mengambil voucher belanja Supermarket Hero senilai Rp13 miliar, yang peruntukannya buat karyawan underground Freeport dan kontraktor.

Namun saat bersamaan, WAD hanya memberikan voucher itu kepada tiga orang selaku saksi dalam kasus ini, yaitu FB, NG, dan S. Tindakan WAD ini di luar dari perintah atasan karena belum diinstruksikan untuk membagikan voucher.

Aksi WAD terungkap ketika hendak dilakukan pendistribusian voucher belanja. Pimpinan dari tempat kerjanya mendapati kekurangan voucher, sehingga WAD pun dilaporkan atas dugaan penggelapan ke Polsek Tembagapura.

Dari penyidikan kepolisian terungkap kalau WAD memberikan voucher belanja Hero ke tiga orang saksi dengan alasan untuk membayar utang.

Kepada NG ia menyerahkan voucher senilai Rp100 juta untuk melunasi utangnya sebesar Rp58 juta.  Sementara kepada FB, WAD menyerahkan voucher Rp30 juta, juga untuk  bayar utang sebesar Rp18 juta. Adapun transaksi dilakukan dua kali, masing-masing ia membayar dengan voucher senilai Rp10 juta dan Rp20 juta.

WAD juga menyerahkan voucher belanja senilai Rp89 juta kepada FB untuk melunasi utangnya sebesar Rp44 juta.

Sedangkan terhadap S, WAD menjual voucher belanja senilai Rp100 juta, hanya dengan harga Rp80 juta.

Ia pun kembali menjual voucher senilai Rp50 juta dengan harga Rp40 juta ke S pada 4 Januari 2019 lalu.

Hanya berselang 10 hari, pada 14 Januari 2019, WAD kembali menjual voucher senilai Rp100 juta dengan harga Rp80 juta kepada S. (tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.