Kisah Pilu Pedagang Korban Kebakaran, Bagaikan Mimpi, Uang Ratusan Juta dan Emas Ludes Sekejap

Musibah kebakaran 58 lapak pedagang dan rumah di Jalan Bougenville dan Seroja, Kelurahan Koperapoka, Timika, Sabtu (1/6) lalu masih menyisakan cerita pilu.

Hampir semua pedagang dan pemilik rumah tidak sempat menyelamatkan harta benda saat si jago merah menghabisi tempat usaha dan rumah mereka. Ada yang hanya memiliki pakaian di badan. Ada juga yang menangis dan histeris karena kehilangan uang ratusan juta dalam sekejap!

Foto:  Dok./TimeX
OLAH TKP – Tim Inavis Polres Mimika melakukan olah TKP  lokasi kebakaran di Jalan Bougenville, Minggu (2/6).

Wa Baidah, salah satu pedagang pakaian hanya bisa pasrah meratapi lapak usaha dari kayu dan papan dilahap si jago merah hingga menyisahkan puing.

Diatas tumpukan pakaian jualan yang berhasil diselamatkan, Wa Baidah hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat banyak, seperti kebanyakan korban kebakaran lainnya pada waktu itu.

Katanya, saat kejadian, ia hendak berbelanja di eks Pasar Swadaya, dan meninggalkan tempat usahanya dijaga oleh salah satu karyawannya.

“Saya kaget saat lihat api, langsung lari ke tempat usaha, tapi api cepat sekali merembet bakar tempat usaha sekaligus rumah. Untung tidak ada orang di dalam,” tutur Wa Baidah berbesar hati.

Di tengah suasana sedih, kalut dan perasaan yang bercampur aduk, Wa Baidah belum tahu pasti kerugian materil yang dialaminya.

Yang diingatnya, kobaran api berawal dari salah satu los penjualan pakaian bekas (Cakar Bongkar-Cakbor) di sisi kiri Jalan Seroja, yang kemudian merembet dan membakar hangus 58 bangunan lain di sekitarnya.

Kepedihan juga dirasakan Mulyadi Madi.

Pemilik Toko Handpohone Anugerah Cell ini benar-benar terpukul, meski harus pasrah menjalani cobaan berat semasa hidupnya.

Ia tidak hanya kehilangan tempat usahanya, tetapi harta bendanya termasuk uang senilai Rp200 juta dan perhiasan serta emasnya pun  ludes terbakar.

“Saya sudah coba cari emas 100 gram, tapi tidak ketemu, hanya gumpalan uang bekas terbakar yang saya dapat,” katanya sambil menunjukan gumpalan uang bekas terbakar, saat diwawancarai Timika eXpress sesaat setelah nahas tersebut.

Rupanya, lanjut Mulyadi, saat musibah itu, sang istri lupa menyelamatkan uang dan emas.

“Mungkin istri saya juga panik sehingga hanya surat-surat penting yang berhasil diselamatkan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, uang senilai Rp200 juta, itu disimpan di dua tempat, Rp170 juta dan emas seberat 100 gram disimpan dalam lemari.

Sedangkan sisa uang Rp30 juta terisi dalam dua buah dompet.

“Mungkin ini cobaan di bulan ramadhan untuk kami sejak mulai merintis usaha di Timika sejak tahun 2000. Saya dan keluarga pasrah karena harta kami yang terpenting adalah keluarga,” sebut Mulyadi.

Dikatakannya, awal kebakaran terjadi, ia sedang pergi sholat ke Masjid Al-Azhar di komplek eks Pasar Swadaya.

Dari dalam masjid, ia mendengar teriakan kebakaran, lantas setelah menuntaskan sholat ashar, Mulyadi bergegas kembali ke rumah sekaligus tempat usahanya untuk menyelamatkan ke empat anak dan istrinya.

“Karena apinya menjalar cepat, jadi saya tidak sempat selamatkan barang-barang berharga. Istri saya hanya amankan dokumen penting. Usai kebakaran dan saya cek, ternyata uang dan emas habis terbakar,” tandasnya.

Bersamaan H. Aliyasah juga pasrah dan harus kehilangan sepeda motor serta uang Rp10 juta yang tidak terselamatkan karena saat kejadian ia beranjak melaksanakan sholat ashar di Masjid Al-Azhar.

Pedagang lain yang enggan menyebutkan namanya saat diwawancaara, hanya mengatakan, kebakaran ini seperti mimpi, dan tidak dapat menahan tangis karena meratapi seluruh barang dagangannya ludes terbakar.

Sementara Safril, ponakan dari H. La Romo selaku pemilik lahan 13 los Cakbor menuturkan, saat kejadian ia dihubungi oleh Hj. Halimah, istri H. La Romo.

“Waktu itu tante Halimah bilang ke saya, tidak usah ke sana karena api terlalu besar. Lalu saya bilang ke tante ikhlaskan saja. Saya bilang lagi lewat telepon tangisi saja, apa yang mau kita tangisi, ini sudah ujian, ini musibah,” kata Safril berusaha kuat.

Menurut  Safril, 13 los Cakbor di Jalan Seroja, masing-masing lima unit di sisi kiri dan 8 di sisi kanan, semua penjualnya menempati lahan milik H. La Romo.

“Dari 13 los jual Cakbor dengan om saya (H La Romo) itu masih ada hubungan keluarga, sehingga sejak awal bangun tempat jualan tahun 2003, kita hanya bayar sewa tempat untuk usaha bersama,” kisahnya.

Sayangnya, saat musibah kebakaran, dari 13 pemilik Cakbor, 10 pedagang diantaranya sudah mudik lebaran, dan menitipkan tempat usahanya ke saudaranya yang ada di Timika.

“Yang lima los itu pemiliknya mudik lebaran, dan mereka percayakan La Ade yang jaga. Kalau disebelahnya milik La Belo, La Nadu, Wayai dan Haji Aliyasa, itu yang masih bertahan, lainnya sudah mudik lebaran juga, jadi mereka hanya dengar khabar musibah kebakaran ini,” jelas Safril.

Terkait kerugian, Safril tertegun dan sedikit tertahan untuk menjawabnya.

Sebab, La Belo maupun H. La Romo baru memasukan 60 bal cakbor, dimana harga per bal antara Rp7-12 juta, ini diluar barang sisa.

La Belo memasukan 40 bal, sedangkan H. La Romo kasih masuk 20 bal karena pertimbangan momen lebaran, sehingga mereka datangkan Cakbor yang dibeli dari Pasar Inpres dan Pasar Senen Jakarta.

“Untuk kerugian kalau menurut La Belo, satu los Cakbor kalau Rp300 juta, itu masih kurang,” ungkapnya.

Bahkan untuk tetap melanjutkan usaha mereka, lanjut Safril, setelah musibah kebakaran Sabtu lalu, 13 pedagang cakbor dan perwakilan menggelar pertemuan di kediaman H. La Romo di Jalan Perintis.

Dalam pertemuan itu, para pedagang Cakbor minta kepada pemerintah setempat untuk siapkan lokasi khusus jualan yang terpisah dengan pemukiman warga.

Hal tersebut mempertimbangan pembayaran retribusi langsung ke pemerintah.

Pada pertemuan yang dihadiri tokoh pemuda Buton, Herman Gafur, juga meminta pemerintah memastikan lokasi tempat jualan alternatif selain dari Pasar Sentral.

“Karena kami harus jual untuk keseharian hidup kami. Kalau bisa pemerintah siapkan tempat darurat, kalau tidak jual mau makan apa kami nanti,” ungkap Afril berharap ada bantuan bagi korban di bulan ramadhan.

Polisi Segera Kirim Sampel Kebakaran

Menindaklanjuti hasil olah TKP dan setelah mengumpulkan beberapa sampel, jajaran penyidik Polres Mimika segera mengirimkan sampel ke Laboratorium Foresnsik (Labfor) ke Makassar.

Pengiriman sampel tersebut akan dikaji secara laboratoris untuk kepentingan penyelidikan polisi dalam mengungkap penyebab kebaran.

Demikian disampaikan AKBP Agung Marlianto saat ditemui Timika eXpress di Kantor Bawaslu, Senin (6/5).

Selain olah TKP yang telah dilakukan pada Minggu (2/6), Polres Mimika sudah menyelidiki dengan memeriksa beberapa saksi yang mengetahui kebakaran tersebut.

“Kebakaran yang terjadi itu murni karena kelalaian. Dan kalau untuk kerugian materinya diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Ini sesuai dengan data yang kita miliki,” katanya.

Ia menyebutkan ada 12 rumah petakan yaitu kos-kosan, 2 buah tempat usaha kios sembako, 1 tempat usaha Apotik, 1 tempat usaha pangkas rambut, 1 tempat usaha warung makan, 2 los cakar bongkar, 6 tempat usaha barang pecah belah, dan 1 konter HP.

Orang nomor satu di Polres Mimika ini pun membantah kalau informasi saat kejadian kebakaran ada seorang bayi menjai korban jiwa itu tidak benar. Pasalnya pihak penyidik sudah turun mengecek di lapangan.

“Kita sudah cek dan itu hoax. Sekali lagi tidak benar adanya informasi tersebut,” tegasnya. (ignasius istanto)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.