Dalam Penjara, Mantan Kepala BKD Mimika Rindu Kumpul Keluarga

Hari raya menjadi momen terindah bagi setiap umat beragama untuk merayakan. Apalagi usai perayaan duduk berkumpul bersama anggota keluarga dan orang-orang terkasih, maka suasana batin mejadi lebih bahagia. Nanun situasi ini benar-benar tidak dirasakan oleh warga binaa Lapas Kelas IIB Timika pada Rabu (5/6) lalu.

Foto: Kristina/TimeX
FOTO BERSAMA – Taslim Tuhuteru (baju putih) foto bersama Marojahan Doloksaribu Kepala Lapas Kelas II B Timika didampingi dua pegawai Lapas, Rabu (5/6).

Momen hari raya keagamaan menjadi kesempatan baik untuk bersuka cita dan bercengkrama bersama keluarga, apalagi dengan orang-orang tercinta. Sehingga jangan heran begitu banyak orang yang merantau jauh mengambil waktu khusus untuk mudik agar pada hari raya bisa duduk kumpul bersama sanak saudara di kampung halaman guna lepas rindu.

Pada Rabu 6 Juni umat muslim di dunia, Indonesia termasuk di Mimika merayakan hari Idul Fitri 1440 Hijriah tahun 2019 masehi.

Namun sayang pada momen kemenangan penuh makna ini, tidak dirasakan oleh 100 warga nara pidana di Lapas Kelas IIB Timika, di Kampung Naena Muktipura untuk bertegur sapa dalam nada suka cita bersama keluarganya di rumah.

Dari 100 warga binaan Lapas salah satunya Taslim Tuhuteru. Mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKDD) Mimika ini sudah dua tahun rayakan Idul Fitri di balik jeruji.

Taslim yang ditemui Timika eXpress pada Rabu (5/6) usai Sholat Ied di Masjid Ar-Rahman kompleks Lapas mengenakan baju putih, sarung dan topi  hitam. Ia memang nampak sehat.

Ia menuturkan lebaran kali ini tahun kedua merayakan di Lapas. Taslim sangat merindukan momen berkumpul bersama keluarga di rumah seperti sebelumnya.

“Tentu kalau di rumah bertemu dengan keluarga, anak dan cucu, berbahagia dengan mereka,” tuturnya.

Walaupun rayakan hari kemenangan di Lapas, Taslim masih bersyukur keluarganya berkesempatan datang bersilaturahmi serta memberikan dukungan agar tetap semangat jalani masa hukuman.

“Kalau di sini tergantung kalau diijinkan kita bisa bertemu, kalau tidak diijinkan ya tidak bisa,” katanya.

Mantan pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Mimika di masa Bupati Klemen Tinal dan Wakil Bupati H Abdul Muis ini tidak persoalkan mau ibadah di mana pun sama saja terpenting adalah keiklasan beribadah dan kesabaran serta tawakal.

Pria 60-an tahun ini memaknai momentum lebaran sebagai kesempatan introspeksi diri agar menjadi lebih baik.

“Sebagai seorang yang menganut agama Islam tentu saya syukuri, karena dalam menjalankan ibadah puasa satu bulan ini, betul-betul membutuhkan sebuah keseriusan dan ketaatan kepada Allah, dalam menjalankan kewajiban dan larangan-larangan,” katanya.

Satu hal Taslim syukuri selama ia di Lapas selalu sehat walafiat.

“Selama ini kami juga harus loyal terhadap pemerintah dalam hal ini lapas, dalam mengikuti pembinaan di sini, dimana kami dituntut untuk taat kepada aturan di dalam lapas ini,” jelasnya.

Sebagai warga binaan ia berterimakasih karena selama ini mendapat begitu banyak hal positif. Diharapkan setelah keluar kembali ke tengah masyarakat bisa berperilaku baik, sebab manusia bisa saja kilaf.

Sebagaimana diketahui Taslim Tuhuteru dieksekuksi oleh Tim Kejaksaan Negeri Timika  sesuai keputusan kasasi Mahkamah Agung (MA) bernomor: 742 K/Pid.SUS/2017, terbit 11 Oktober 2017.

Putusan MA tersebut menyatakan, Taslim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dalam kasus korupsi dana Diklat Prajabatan pada Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kabupaten Mimika tahun 2011 lalu.

Tim eksekusi yang ditunjuk oleh Kepala Kejaksaan Negeri Timika, Alex Sumarna kala itu mendatangi terpidana di rumahnya pada Jumat (10/11) sore. Setelah sempat menolak, Taslim akhirnya bersedia digiring ke Lapas Kelas IIB Timika dalam pengawalan pihak kepolisian.

Pensiunan PNS berusia 62 tahun itu terbukti melanggar pasal 2 ayat 1, jo pasal 1 ayat 1 huruf b, ayat 2, ayat 3 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Atas perbuatannya, Taslim diganjar Pidana penjara selama lima tahun dan denda sebesar Rp 200.000.000,-. Jika tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan. Masa penahanan yang telah dijalaninya kemudian akan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

Putusan kasasi MA tersebut ditandatangani oleh Dr Artidjo Alkostar SH LLM dan Maruli Tumpal Sirait SH MH, berturut-turut sebagai Ketua Majelis dan Panitera Pengganti. Sementara tim Kejari Timika yang ditunjuk mengeksekusi keputusan tersebut, yakni Yasozisokhi Zebua, Marthinus Bakka Sampe SH, Achmad Birawa Bissawab SH, Habibie Anwar SH dan Kukuh Nugroho Indra Praja SH.

Selain Taslim Tuhuteru, terdapat dua orang lainnya yang terlibat dalam tindak pidana korupsi Diklat Prajabatan pada BKD Kabupaten Mimika tahun 2011 lalu, yakni AH dan EN. Kejari Timika masih menunggu putusan kasasi MA terhadap kedua terdakwa yang disebutkan belakangan.

Warga Binaan Perbanyak Ibadah

Sementara Hasbullah Baihaqi dalam khotbahnya pada momen Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah di Masjid AR-Rahman Lapas Kelas II B Timika mengajak warga binaan Lapas memperbanyak ibadah dan bertaqwa kepada Allah.

Ia mengatakan ada sebuah ungkapan yang selalu dirinya ucapkan dalam berkhotbah yakni ‘Bahagianya burung ketika terbang di udara bebas, bahagianya ikan ketika berada di dalam air, bahagianya cacing ketika berada di dalam tanah’. Lalu betapa bahagia manusia mana kala ia bertaqwa dengan menjalankan perintah Allah.

Nabi Muhammad katanya nabi yang selalu memberikan pertolongan. “Barang siapa yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah maka setiap persoalan hidup akan dimudahkan oleh Allah setiap masalah akan diberikan solusi,” katanya.

Sebagai manusia ujarnya harus meyakini bahwa orang yang benar-benar bertaqwa maka Allah akan memberikan tambahan rejeki dari tempat yang tak terduga.

“Melalui mimbar ini, saya mengajak kepada jamaah sekalian marilah kita menjadi orang yang taat dan patuh menjalankan perintah Allah dan meninggalkan semua larangan Allah, dan ketika kita sudah bertaqwa maka setiap hidup dimudahkan oleh Allah,” ujarnya.

Pesan rassul kata Hasbullah bertaqwalah kepada Allah dan jangan menyusahkan kedua orangtua yang sudah meninggal.

“Artinya jika tidak bertaqwa dan menjalankan larangan Allah maka bapak dan ibu kita yang sudah meninggal sedang susah dan sedang sakit di alam kubur sebab kita tidak bertaqwa,” katanya.

Sebaliknya jika taat dan patuh menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah maka sesungguhnya kedua orangtua sedang bahagia dan senang di alam kubur karena dibahagiakan oleh Allah.

“Ketika seorang anak beramal soleh maka orangtuanya mendapatkan kiriman pahala. Sebulan penuh di bulan suci kita menjalankan syariat agama islam yakni berpuasa sesuai dengan perintah Allah. Puasa bukanlah syariat yang baru, syariat masa lalu yang masih ada sampai saat ini,” jelasnya.

Ia mengatakan puasa bukan hanya orang muslim yang mengenal melainkan seluruh umat Allah yang ada di dunia, bahkan seluruh agama mengenal puasa. Hewan juga berpuasa seperti ayam saat mau mengeram tentu ia harus berpuasa supaya menjaga kehangatan suhu tubuhnya, ular saat hendak mengganti kulit dan ulat saat mau menjadi kepompong berpuasa.

Ia berharap setelah hari raya Idul Fitri semua warga binaan di Lapas Kelas II B bisa menjadi orang hebat, luar biasa, bisa meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan kehidupan yang lebih baik.

“Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang lebih baik seusai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, dan mari kita rayakan Idul Fitri ini  sebagai hari suci fitri dan kebahagiaan sekaligus hari penuh berkah,” ajaknya.

Sementara Marojahan Doloksaribu Kepala Lapas Kelas II B Timika mengatakan proses ibadah sebagai bentuk pembinaan kepada warga lapas.

“Kami mulai lakukan persiapan sejak dua hari yang lalu, dimana mulai dari bersihkan lingkungan masjid. Kemudian selama puasa kami  memusatkan pengajian-pengajian di dalam lapas,” ujarnya.

Ia berharap pembinaan-pembinaan keagamaan yang diselenggarakan terus menerus di Lapas bisa menambah nilai keimanan semua warga binaan.

“Semoga momen Idul Fitri ini bisa memperkuat agamanya dan menjernihkan watak-watak yang jahat waktu sebelum dijatuhkan hukuman, dan kedepan ada perubahan sikap untuk iman mereka karena selama ini mereka selalu diberikan pembinaan dari ustad-ustad yang kami undang ke sini,” katanya. (kristina rejang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.