Oscar Kobogau, Anak Seorang Petani yang Jadi Dosen Pilot (Bagian-1)

 Bisa meraih cita-cita adalah keinginan semua orang, ketika impian tercapai, ada rasa bangga, haru, ucapan syukur dan beratnya perjuangan yang dilalui.

Adalah Oscar Kobogau (24), anak seorang petani sayuran di SP 12, Elkana Selegani (49),  seorang putra terbaik Papua, yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang dosen pilot, meskipun ia hanya dibesarkan dan dibiayai oleh ibunya yang kala itu ditinggal oleh sang ayah. Meski awalnya ia ragu karena kondisi ekonomi keluarganya, namun semangat  sang ibunda membangkitkan harapannya untuk menggapai impiannya.

”Saya bangga memiliki seorang ibu yang gigih memperjuangkan pendidikan anaknya” kalimat yang diucapkan Oscar untuk ibundanya. Seperti apa kisahnya? Berikut Laporan Linda Bubun Langi dan Yosefina-Timika eXpress. 

DILAHIRKAN dalam keluarga yang utuh 24 tahun yang silam, tepatnya 30 Oktober 1995, di Tembagapura, dari pernikahan Titus Kobogau dan Elkana Selegani (49), membuat Oscar Kobogau, menjadi salah seorang anak yang beruntung.

Kala itu, sebagai seorang karyawan di Pangan Sari Utama Titus Kobogau (ayah Oscar), mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Semua berjalan baik, hingga kelahiran sang adik beberapa tahun kemudian.

Namun di tengah perjalanan, ada hal yang berjalan tidak sesuai keinginan, ketika biduk rumah tangga Titus Kobogau sedang dilanda prahara, pasangan ini akhirnya berpisah oleh keadaan.

Kala itu, tepatnya Tahun 1997 keluarga harus pindah dari Tembagapura ke SP 12, Kampung Utikini, hingga Tahun 2005 kedua orangtua Oscar resmi berpisah.

Sejak itu, sang ibu mengemban dua tanggungjawab sekaligus sebagai ibu dan ayah bagi Oscar dan adiknya, Osena Kobogau, yang saat itu masih terbilang kecil. Oscar berusia sembilan 9 tahun, sementara sang adik baru berusia lima tahun.

Kepergian sang ayah dengan orang ketiga, tak membuat Oscar dan ibu serta adiknya patah arang. Sang ibu yang memiliki semangat juang tinggi untuk menyekolahkan Oscar dan adiknya, mengerjakan apa saja untuk kelangsungan hidup ketiganya serta biaya pendidikannya.

Sadar akan pentingnya masa depan anak-anaknya membuat Elkana tak kenal lelah.

Dini hari, dia sudah harus berada di kebun untuk bekerja, menanam berbagai sayuran, umbi-umbian. Setelahnya ia harus memberi makan ternak babi, yang memang ia lakoni dengan harapan bisa menyekolahkan anaknya.

Waktu berjalan, Oscar yang sudah mengerti keadaan keluarganya hampir menyerah dan menawarkan dirinya untuk membantu ibunya bekerja. Namun ibunya menolak dan memotivasinya untuk terus bersekolah agar kelak bisa menjadi orang (berhasil).

Tahun 2007 Oscar pun lulus dari SD Inpres 12 dan saatnya untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Namun ia tidak serta merta melanjutkan, seakan tidak yakin dengan lelah yang akan diderita ibunya. Ia kembali bertanya kepada ibunya apakah ia perlu melanjutkan sekolah atau berhenti saja, mengingat kondisi ekonomi ditambah lagi, saat SMP nanti tentunya biaya yang dibutuhkan akan jauh lebih besar dibandingkan SD.

Foto: Ist./TimeX
Oscar (kiri)

Namun jawaban ibunya tetap mantap mendukungnya bersekolah.

Meski ibunda memberi dukungan sepenuhnya, namun Oscar tidak berpangku tangan, sebagai kakak dari seorang adik, ia harus membantu meringankan beban ibunya. Ia pun bersekolah di salah satu SMP di perbatasan SP 7 dan SP 6 kala itu, sepulang sekolah, ia tidak memperdulikan teman-teman sebayanya kebanyakan memilih bermain. Ia memilih untuk segera sampai di rumah, mengganti pakaian dan langsung terjun ke kebun untuk membantu ibunya.

Waktu selebihnya ia manfaatkan untuk mengojek di pasar mama-mama SP 13, selain juga membantu sang ibu mengangkut hasil kebun.

Hasilnya dari usahnya ini tak begitu mengecewakan, ternyata cukup untuk membayar ongkos foto copy sejumlah pelajaran juga keperluan lainnya.

Hari demi hari kebutuhan semakin meningkat, Elkana Selegani pun, semakin bekerja keras dengan membuka lahan, yang jaraknya cukup jauh dari kediamannya, dengan menanam buah-buahan, pepaya, rambutan dan banyak lagi.

Seiring berjalannya waktu, ia pun semakin terlatih bekerja keras, yang mendorongnya semakin bersemangat meraih impiannya. Apalagi hasil studinya selama ini di atas rata-rata, karena itu, ia mulai percaya diri untuk bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pilot.

Lulus dari SMP tersebut, kini ia benar-benar menghadapi dilematis. Betapa tidak. Ia harus memilih salah satu sekolah di Kota Timika. Akhirnya terbersit di benak Oscar kala itu SMK Penerbangan Petra.

Biaya SPP yang mencapai Rp 350 ribu per bulan merupakan biaya yang tidak sedikit bagi Oscar dan ibunya.

Membayangkan itu, Oscar kembali berunding dengan ibunya untuk berhenti saja daripada harus menyebabkan orangtua tunggalnya itu memikul beban terlalu berat. Namun lagi-lagi sang ibu berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia harus melanjutkan pendidikan.

“Pokoknya sekolah saja, sampai mama sudah tidak mampu,” ucap Oscar mengenang pesan ibundanya.

Untuk meringankan beban ibunya, Oscar kemudian tinggal dengan salah seorang kerabat, Yeki Seleigani di Jalan Pattimura biar setiap hari ke sekolah cukup berjalan kaki.

Namun selang beberapa waktu kemudian, ia kembali memilih untuk mencoba mandiri, dengan mencari uang tambahan bekerja serabutan, membantu tetangga sana-sini, untuk mendapat sedikit upah.

“Saya harus bekerja part time, agar bisa memenuhi 350 ribu SPP dan Rp 400 ribu untuk biaya kost, karena waktu itu saya memilih pindah agar lebih terlatih untuk mandiri,” kenangnya.

Dari sana, ia kemudian mencoba mendatangi sejumlah lembaga adat di Timika, untuk meminta bantuan, mengingat dirinya benar-benar orang yang tidak mampu dan butuh bantuan, sayangnya tidak ada yang sudi menanggapi membantunya dengan berbagai alasan.

Ia tak putus asah. Ia kemudian mendatangi pemerintah untuk meminta bantuan, namun ia sendiri bingung bagaimana meminta bantuan dari pemerintah, semua yang ia tanyai tidak memberikan jawaban.

Meski kecewa, ia tidak ingin putus asah. Ia terus mencoba fokus dengan keinginan ibunya untuk menjadi orang yang berhasil.

Hari-hari pun ia lalui dengan belajar, kerja keras untuk mendapat penghasilan.

Hingga Tahun 2014, ia pun berhasil melalui bangku pendidikan SMK Penerbangan meraih nilai sangat baik.

Menyadari potensi yang ia miliki, iapun semakin yakin melanjutkan cita-citanya sebagai pilot. Ia lagi-lagi mendatangi banyak tempat meminta bantuan, namun lagi-lagi ia harus menelan kecewa. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.