Oscar Kobogau, Anak Seorang Petani yang Jadi Dosen Pilot (Bagian 2)

Foto: Dok./TimeX
Oscar Kobogau (kiri)

*Berkali-kali Minta Bantuan Pemkab Namun Diabaikan

Untuk menjadi seorang pilot, tidak cukup hanya dengan ijazah SMK Penerbangan, satu-satunya cara adalah dengan sekolah pilot. Sesuatu hal yang mustahil bagi Oscar, mengingat biayanya hampir mencapai Rp 1 miliar.

Hal ini mendorongnya untuk meminta bantuan, baik ke Lembaga Adat maupun pemerintah, namun ia diabaikan. Untuk meminta simpati ia bahkan membawa ibunya ke LPMAK kala itu, untuk menunjukkan bahwa orangtuanya benar-benar tidak mampu, sementara dirinya merasa memiliki potensi. Seperti apa kelanjutan Oscar Kobogau mengejar cita-citanya?

Berikut laporan: Linda Bubun Langi dan Yosefina-Timika eXpress.

Lulus dari SMK Penerbangan Tahun 2014 lalu, memberi kelegaan bagi Oscar Kobogau (24) pria muda asal Moni, yang kini aktif sebagai instruktur bagi para calon pilot.

Ia bangga bahwa mampu membuktikan hasil yang memuaskan untuk setiap kerja keras ibunya dan dirinya. Kini tinggal selangkah lagi untuk bisa benar-benar menjadi seorang penerbang.

Sekolah pilot, tidak hanya dituntut bisa berbahasa asing, terutama bahasa inggris, karena nantinya selama studi materi yang diajarkan sepenuhnya menggunakan bahasa inggris, tetapi juga diukur seberapa besar tingkat kemampuan logika matematika dan fisika.

Kecakapan metematika dan fisika ini penting agar saat mengudara berguna menghitung jarak satu pesawat dengan pesawat lainnya supaya tidak terjadi musibah kecelakaan antar pesawat.

Dan yang paling penting adalah seberapa banyak uang yang kita miliki, apalagi kebanyakan orang yang masuk ke sekolah tersebut biasanya memiliki ‘orang dalam’.

“Ini membuat saya mulai pesimis, apa saya bisa sampai ke sana,” kenangnya dalam bincang dengan Timika eXpress.

Ia tidak menyerah terus mengikuti banyak informasi tentang sekolah pilot. Ia juga banyak bergumul kepada Tuhan, pasrahkan apa yang menjadi impiannya kepada Tuhan.

“Saya katakan, Tuhan saya punya impian menjadi pilot, saya sudah berusaha semampu saya, sisanya saya serahkan pada-Mu Tuhan,” katanya lagi.

Di tengah kondisi tersebut, ia membutuhkan dana, dan satu-satunya yang ia pikirkan adalah bagaimana meminta bantuan dari pemerintah. Meskipun berkali-kali ia mencoba tidak pernah ada respons baik.

Ia ke beberapa lembaga adat juga demikian. Lalu terakhir memberanikan diri meminta bantuan dari LPMAK, namun jawaban yang ia dapat kala itu tidak ada beasiswa dengan banyak alasan lainnya.

Merasa dirinya tidak dipercayai, ia putuskan membawa ibunya Elkana Selegani (49),  dan diperkenalkan kepada para pegawai kala itu untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar orang Asli Papua, yang layak mendapat perhatian, mengingat keinginannya untuk berhasil sangat kuat. Potensi yang ia miliki dan dari sisi ekonomi ibunya layak untuk diperhatikan.

Namun meski dengan linangan air mata, ia dan ibunya Elkana harus menelan kecewa. Keduanya kembali ke Utikini dalam keadaan sedih.

Ia terus berdoa minta tuntunan Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa pasti ada jalan keluar nantinya.

Sebelumnya ia telah mencoba mengikuti beberapa tes namun selalu dinyatakan tidak lolos, dan yang berhasil ketika itu, hanya anak dari para petinggi dan anak dari orang-orang yang nota bene punya orang dalam dan orang-orang kaya.

Kemudian ia mendengar informasi ada penerimaan untuk LP3 Banyuwangi. Sebanyak 72 orang mengikuti tes di Jayapura untuk kuota 12 namun dirinya tidak lulus.

Merasa kecewa karena beberapa kali gagal timbul depresi. Namun di tengah rasa putus asah ia kemudian bertemu dengan keluarganya di Timika. Ia kembali mendapat semangat baru setelah didukung dengan dana uang tiket dan sedikit akomodasi untuk kembali mengikuti tes di Jakarta.

Berkat dukungan dari pamannya tersebut iapun dinyatakan lulus.

Setelah lulus ia menghadapi tahap paling berat mengenai biaya. Di tengah kebingungan ia bertemu dengan Jan Kobogau saat itu masih aktif sebagai Bupati Kabupaten Intan Jaya, dari sanalah awalnya ia mendapat uang pangkal sebesar Rp 200 juta.

Sebelum mendapat bantuan dari Jan Kobogau yang masih merupakan keluarganya, kisah hidupnya telah menjadi perhatian dari bupati kala itu.

Jan Kobagu, bahkan sengaja menyempatkan diri untuk datang menemuinya hanya untuk memastikan apakah benar-benar siap meraih impiannya.

Sepereti inilah Tuhan mulai membuka jalan baginya, menatap masa depan apa yang ia cita-citakan.

Meskipun melewati sejumlah tantangan penolakan oleh sebagian keluarganya, lembaga adat, Pemerintah Daerah Mimika yang diharapkan bisa membantunya,  namun Tuhan punya rencana sendiri baginya untuk dipertemukan dengan pemerintah Intan Jaya. (bersambung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.