Oscar Kobogau, Anak Seorang Petani yang Jadi Dosen Pilot (Bagian-3 Habis)

Sedang Mencari Rumah Baru untuk Ibu

Menyelesaikan pendidikan di Deraya Flaying School pada Tahun 2017, tidak langsung membuat Oscar Kobagu (24) bertemu dengan ibunya setelah berpisah sejak Tahun 2014.  Ia langsung bergabung dengan Nabire Wings ATR, sebagai salah satu karyawan sebelum akhirnya ia kembali ke Jakarta untuk bekerja. Dua tahun terakhir, setelah ia merasa mendapat cuti 10 hari, barulah bertemu langsung ibundanya. Pertemuan yang dramatis pasca berpisah selama lima tahun terakhir. Rumah baru adalah hadiah pertemuan pertama dengan ibunya. Oscar dengan berkca-kaca mengungkapkan, ibunya hanya ingin rumah yang memiliki halaman luas agar tetap menanam sayuran. Berikut kisah lengkapnya.

Laporan: Linda Bubun Langi dan Yosefina-Timika eXpress

Oscar Kobagau (24), sang instruktur pilot asal Suku Moni, di Aeroflyer Institute boleh bernafas legah, lantaran, ia tidak lagi harus menyaksikan ibunya banting tulang hanya sekedar untuk memen

Oscar Kobogau (kanan)

uhi kebutuhan hidup apalagi biaya pendidikan untuknya dan adiknya.

Kini ia dengan langkah pasti bahkan menawarkan ibunya untuk memilih rumah baru di Kota Timika. Ya memang cukup berat bagi ibu dan adiknya jika harus ke Timika, dengan jarak yang cukup jauh dari SP 12.

Karena itu, dengan hasil yang ia sudah capai, satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah bagimana ia menyenangkan orangtuanya.

Memang dirinya tidak bisa di samping orangtuanya setiap hari, namun memastikan orang tercintanya bisa hidup layak bersama adik semata wayangnya.

Tak banyak waktu untuk ibunya, sebut saja, setelah berpisah sejak Tahun 2014, barulah setelah mendapat cuti 10 hari, ia bisa mengunjungi ibunya. Waktu yang sangat singkat, namun memberikan kebahagian cukup mendalam. Pertemuan singkat penuh dramatis.

“Saya tiba waktu hari Minggu 2 Juni, waktu mama lagi gereja jadi saya bilang tidak usah jemput, nanti saya sendiri,” ungkap Oscar penuh bahagia.

Seakan tidak sabar menyaksikan reaksi ibunya bertemu dengannya, tiba di Bandara Mozes Kilangin pagi itu, ia langsung ke rumah salah satu kerabatnya di Timika menunggu ibunya dan sang adik datang.

Begitu bertemu, ketiganya larut dalam kebahagiaan, rasa haru, syukur campur aduk. “Saya tidak bisa lukiskan apa yang saya rasa, begitu juga ibu saya,” ungkapnya.

Kini ia sedang berusaha untuk mencari hunian baru bagi sang ibu sesuai keinginannya.

“Saya masih cari-cari tempat yang sesuai dengan keinginan mama,” tambahnya.

Kini Oscar menjadi tulang punggung untuk orangtua dan adiknya yang kini bersekolah di SMA Negeri I Mimika. Berharap kelak adiknya juga menjadi orang berhasil membanggakan orangtuanya.

Setelah masa cuti berakhir ia akan kembali ke Jakarta melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Ia bangga bisa dilahirkan oleh seorang ibu dengan jiwa juang sangat tinggi, sanak famili yang selama ini banyak membantunya.

Oscar biasanya melatih para penerbang di tiga rute, dari Tangerang ke Sumatera dan beberapa tempat lainnya. Para mahasiswanya berasal dari berbagai kalangan bahkan sejumlah mahasiswanya berusia jauh lebih tua darinya.

“Saya jadi dosen pilot sejak umur 23 tahun, dan saya bangga bahwa saya anak Papua juga boleh membanggakan Papua yang saya cintai,” katanya lagi.

Setelah kembali dengan keberhasilan ia berharap agar pemerintah maupun LPMAK atau lembaga lainnya yang biasanya memberikan beasiswa agar bisa lebih terbuka, baik sistem, syarat dan lainnya.

Hal ini ia ungkapkan, karena merasa pernah sangat sulit mendapat bantuan.

Menurutnya dalam seleksi beasiswa, seharusnya lebih selektif, terutama soal niat calon penerima beasiswa. Selama ini ia menyaksikan banyak mahasiswa kembali di tengah jalan, dikarenakan tidak memiliki kompetensi, tetapi dipaksakan bisa menerima beasiswa hanya karena memiliki orang terdekat atau hanya karena dia anaknya ‘siapa’.

Ia juga berharap agar anak-anak Papua bisa memiliki jiwa saing yang tinggi. Apalalagi di era sekarang dibutuhkan kompetensi untuk bisa bersaing di dunia kerja.

Selain membahagiakan orangtuanya, masih ada satu cita-cita ingin ia raih. Ia berharap bisa bergabung dengan maskapai besar, baik dalam negeri ataupun mancanegara.

“Memang dari sisi penerbang, saya pikir tidak perlu dipertanyakan, hanya saja saya pikir impian saya yang masih harus saya wujudkan adalah bisa bergabung dengan maskapai besar,” imbunnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.