Tuntaskan Smelter, Freeport Butuh Rp42 Triliun

Foto: Yosefina Dai Dore/TimeX
FOTO BERSAMA – Tony Wenas, Direktur Utama PT Freeport Indonesia dan perwakilan Corporate Communication PT Freeport Indonesia foto bersama perwakilan dari media cetak, online dan radio di Papua usai acara silaturhami Idul Fitri 1440 H di Hotel Rimba Papua, Senin (17/6).

TIMIKA,TimeX

PT Freeport Indonesia (PTFI) masih membutuhkan anggaran 2,8-3 miliar US$ dollar atau kurang lebih Rp42 triliun untuk membiayai dan menuntaskan pembangunan pabrik pemurnian (Smelter) di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur.

Namun besaran nilai estimasi anggaran, pihak Freeport mengaku masih mencari pinjaman, salah satu opsi pendanaan melalui pinjaman bank.

Demikian kata Clayton Allen Wenas, Direktur Utama PT FI usai acara silaturahmi Idul Fitri Manajemen PT Freeport Indonesia bersama awak media cetak, online dan radio di Lounge Room Rimba Papua Hotel (RPH), Senin (17/6).

“Pendanaan proyek smelter di gresik ini dari bank, kita sedang bicarakan dengan beberapa bank. Namanya proyek pasti ada pendanaan, baik pendanaan sendiri maupun dari luar. Untuk estimasi anggaran kira-kira 2,8-3 miliar US$ dollar atau sekitar Rp40-42 triliun,” kata Tony Wenas kerap ia disapa.

Freeport katanya telah menyiapkan lahan seluas 100 hektare untuk pembangunan smelter.

Lahan tersebut telah diratakan, saat ini dalam tahap pemadatan dan pemasangan prefabricated vertical drain (PVD).

“Smelter ini besar jadi memang perlu tanah yang padat,” katanya.

Adapun dari mega proyek tersebut telah menghabiskan anggaran sekitar Rp2 triliun untuk item pengadaan lahan, pematangan dan studi-studi.

“Sekarang kita sedang studi finalisasi front end engineering design. Merupakan studi akhir detail eginering. Pembangunan smelter kapasitasnya dua juta ton, sebandiing dengan anggarannya pun sangat besar, jadi perlu studi yang betul-betul detail,” ujarnya.

Untuk pembangunan smelter diproyeksikan selesai pada tahun 2023 mendatang dan setelah rampung Freeport  akan langsung mengoperasikannya.

“Karena sesuai peraturan perundang-undangan selama konstruksi kita diperbolehkan untuk ekspor,” kata Tony.

Menurut dia, alasan smelter Freeport dibangun di Gresik tidak di Papua setelah mempertimbangkan banyak faktor, yakni kesiapan industri hilir, yakni industri petro kimia, karena ampas smelter berupa sulfur yang dijadikan asam sulfat mengandung B3. Asam sulfat inilah yang dikelola oleh industri petro kimia.

“Tanpa ada industri petro kimia maka smelter tidak bisa dibangun. Biaya pengelolaan ampas asam sulfat  ini sangat besar,” jelasnya.

Tidak hanya itu, untuk mengoperasian smelter juga butuh daya listrik hingga 200 megawaat (MW).

“Jadi kalau kita mau bangun smelter di Papua  untuk daya listrik ini  dikali satu setengah juta dolar permegawatt menjadi 300 juta dolar sehingga akan menjadi sangat tidak ekonomis,” serunya.

Tidak hanya itu, untuk ketersediaan tenaga kerjanya pun tidak banyak karena smelter menggunakan high tech, sehingga butuh 500 tenaga kerja. Kalau untuk proses awal bisa dibutuhkan 2.000 tenaga kerja.

“Jadi nilai tambah dari smelter ini kira-kira lima persen. Multiplayer Efect bagi ekonomi setempat sangat minim, karena saat pengoperasian tahun 2023 nanti hanya butuh 500 orang,” sebutnya.

Ia menambahkan setelah pembangunan smelter kelar dipastikan Freeport tidak akan ekspor konstentrat lagi.

“Yang sedang kita produksi sekarang satu juta ton dan kapasitas smelter ini dua juta ton, jadi totalnya nanti tiga juta ton. Jadi kita tidak ekspor lagi. Kalau mungkin ditemukan cara-cara atau metode penambangan baru  kemudian di tahun 2023 produksi Freeport  bisa lebih dari tiga juta ton, misalnya 3,3 atau 3,4 ton, tapi itu tidak cukup banyak  untuk membangun satu smelter baru. Kita sudah sampaikan ini ke pemerintah  dengan harapan kita tetap melakukan ekspor jika produksi di atas tiga juta tapi ini masih didiskusikan,” katanya.

Tambang Open Pit  Ditutup

 Selain itu Tony menambahkan, PTFI berencana menutup tambang terbuka (open pit) pada akhir tahun ini. Ditutupnya open pit alasan utamanya cadangan emas sudah habis. Untuk itu para pekerja di wilayah open pit dipindahkan ke lokasi tambang bawah tanah atau underground.

Ia mengatakan dengan rencana penutupan open pit maka PT Freeport Indonesia sejak 2018 mulai mengirim peralatan tambang ke sejumlah perusahaan pertambangan di luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Selatan dan Amerika Utara.

Pengiriman sejumlah peralatan tambang terbuka seperti truk tambang berkapasitas besar (haul truck) itu keberadaannya sudah tidak efektif. Sebab Freeport kini berkonsentrasi pada pengembangan operasi tambang bawah tanah (underground mining).

Tambang raksasa asal Amerika Serikat tersebut akan beralih kepada eksplorasi tambang bawah tanah dengan sistem block caving. (epy/a33)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.