Gagal Tertibkan Pedagang, Songbes Siap Dicopot

Saya pertaruhkan jabatan saya, jika saya tidak bisa tertibkan pedagang Pasar Lama. Saya siap dicopot jabatan dari Kepala Disperindag”

Foto: Indri/TimeX
BERJUALAN – Suasana pedagang yang berjualan di Eks Pasar Swadaya terlihat ramai dikunjungi pembeli pada Selasa (9/7).

TIMIKA,TimeX

Bernadinus Songbes Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindang) Kabupaten Mimika siap pertaruhkan jabatannya untuk dicopot jika gagal tertibkan pedagang eks Pasar Swadaya ke lokasi Pasar Sentral yang telah disediakan pemerintah.

“Saya pertaruhkan jabatan saya, kalau saya tidak bisa tertibkan pedagang Pasar Lama. Saya siap dicopot dari jabatan Kepala Disperindag,” ujar Songbes di hadapan Yohanis Bassang Wakil Bupati Mimika selaku pimpinan rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Mimika di lantai tiga Gedung A Pusat Pemerintahan (Puspem) SP3, Selasa (9/7).

Mantan Sekretaris KPU Mimika ini menyebutkan sudah melakukan pendataan terhadap pedagang yang selama ini berjualan di empat lokasi pasar, yakni Pasar SP 2, Pasar Gorong-Gorong, eks Pasar Swadaya dan Pasar Damai.

Ia menyebutkan untuk pedagang di Pasar SP 3 totalnya 87 orang terdiri dari 37 pedagang non Papua dan  50 pedagang mama-mama asli Papua. Pedagang mama-mama Papua yang jualan di pingiran jalan Pasar SP 3 rata-rata telah memiliki kios di dalam pasar. Bahkan saat ini telah dibangun lapak dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan perkiraan bisa menampung kurang lebih 100 pedagang.

“Saya pikir kalau Pasar SP 3 tidak ada masalah. Kita tinggal tertibkan saja karena rata-rata mereka sudah ada tempat,” tuturnya.

Sementara Pasar SP 2 ini ujarnya, setelah pendataan secara keseluruhan ada 194 orang. Dari jumlah ini 60 pedagang rata-rata sudah memiliki tempat berjualan di bangunan pasar yang telah sediakan Pemkab.

“Kami sudah ketemu mama-mama yang berjualan di pinggiran jalan SP 2. Mereka juga sudah sepakat pindah di lapak yang kami sudah bangun,”  katanya.

Kemudian pedagang di Eks Pasar Swadaya saat ini totalnya 280 orang, rata-rata paling banyak pedagang cakar bongkat (pakaian bekas) kurang lebih 200 orang.

“Mama-mama Papua yang berjualan di Eks Pasar Swadaya inikan sudah ada lapak di Pasar Sentral. Jadi nanti kami akan bawa mereka semua ke Pasar Sentral,” katanya.

Bagi pedagang ikan di Eks Pasar Swadaya kata Songbes, lapak ikan di Pasar Sentral masih bisa menampung para pedagang ikan baik yang ada di Eks Pasar Swadaya ataupun di Gorong-Gorong sehingga tidak ada alasan untuk tidak pindah.

“Selama satu bulan ini kami sudah mengantisipasi sehingga kemarin kami sudah bersihkan pedagang di bagian depan Pasar Senral, dan kami sudah pindahkan ke bagian belakang,” ujarnya.

Ia mengakui soal relokasi pedagang ini pihaknya sudah berusaha sekuat tenaga. Juga sempat pindahkan mama-mama ini tetapi mereka balik lagi.

Mengenai jual beli lapak yang sering diviralkan dengan ‘nama  raja meja’, artinya satu pedagang dapat memiliki lebih dari satu lapak ujarnya, sudah terjadi sejak dulu sewaktu dirinya belum menjabat Kadisperindag.

“Pasar Sentral itu kalau Blok A1 dan A2 itu kurang lebih ada 80 blok. Saya pikir bisalah untuk menampung, rencananya juga kita akan timbun bagian depan pasar dan pedagang bisa tempati juga. Dengan begitu sudah sangat jelas jika Pasar Sentral bisa menampung seluruh pedagang,” paparnya.

Ia mengatakan saat ini tinggal menunggu saja waktunya kapan relokasi para pedagang karena Pasar Sentral sudah siap.

Sementara Petrus Lewa Koten, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Mimika menanggapi jika persoalan membuat mama-mama Papua ini tetap kembali berjualan di Eks Pasar  Swadaya hanya karena alasan akses jalan di Pasar Sentral yang belum memadai. Selain itu juga soal transportasi kota yang sudah lama vakum membuat biaya cukup besar jika pedagang yang tempat tinggalnya dari Kwamki Lama. Misalnya harus membawa jualannya ke Pasar Sentral dengan mengeluarkan biaya ojek cukup mahal.

Untuk itu, ia menyarankan Pemkab Mimika memang harus mencari solusi mengatur kembali jalur transportasi kota jika ingin agar para pedagang  tidak lagi kembali ke Eks Pasar Swadaya.

Kaitan dengan ini, Yohanis Bassang pertanyakan soal kesiapan Pasar Sentral dalam menampung semua pedagang dari empat lokasi tersebut.

“Disperindag harus jujur, apakah Pasar Sentral itu bisa menampung para pedagang, apakah ada tempat di sana? Jangan kita tertibkan lantas mau dibawa ke mana pedagang ini,” tegas Bassang.

Orang nomor dua di Pemkab Mimika ini menegaskan pemerintah juga harus memikirkan dampak dari penertiban ini.

“Dari dulu saya bilang segera bangun taman kota, biar dilakukan secara swadaya, tapi sampai sekarang tidak terealisasi, sekarang mau star bagaimana,” kritiknya.

Diakhir pertemuan itu Bassang ingatkan sebelum merelokasi pedagang Eks Pasar Swadaya, tim terpadu harus terlebih dulu turun meninjau kesiapan lahan Pasar Sentral, dimulai hari ini (Selasa-red) hingga seminggu ke depan. (a30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.