Renungan: Maria dan Marta oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

  YESUS bertamu di rumah Marta. Sesuai dengan adat istiadat (Lk. 7, 44-46) Marta menerima Yesus bersama rombongan-Nya dengan baik. Ia memeluk-Nya, mempersiapkan air untuk mencuci kaki-Nya, ia mengoles kepala-Nya dengan minyak dan menyediakan makanan (Lk. 10, 38).

Foto: Dok./TimeX
Pastor Bert Hagendoorn OFM

Maria, adiknya, “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Lk. 10, 39). Marta bosan bahwa ia sendiri sibuk-subuk melayani tanpa dibantu oleh adiknya yang bersama dia tinggal di rumah yang sama. Ia mendekati Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku!” (Lk. 10, 40).

Kita sering seperti Marta: sibuk-sibuk, karena mau memberi kesan yang baik kepada orang lain. Apakah kesibukan itu jelek? Mungkin tidak. Kesibukan menghindarkan bahwa kita menjadi orang malas. Kemalasan membuka pintu bagi setan untuk bergerak. Pikiran yang jelek mendapat kesempatan untuk muncul, kita memupuk dendam yang tersimpan di hati, kita menjadi sadar tentang bermacam keinginan yang belum terpenuhi dan rencana-rencana yang negatif mulai terbentuk.

Kita suka menjadi orang yang sibuk, karena dengan demikian kita bisa melarikan diri dari

masalah yang kita hadapi. Atau kita sibuk, supaya tugas yang dipercayakan kepada kita dapat diselesaikan dengan baik. Dengan demikian kita memberi kesan yang baik dan dipuji oleh orang lain. Apakah motivasi itu jelek? Tidak, karena setiap orang membutuhkan pujian. Tanpa dipuji, semangat kerja kita bisa semakin pudar.

Kerja keras itu bagus. Dengan demikian kita memperkembangkan bakat dan kemampuan diri; kita menjadi semakin ‘matang’ dan semakin ‘dewasa’. Tetapi ada batas. Kalau segala perhatian diberikan kepada tugas dan pekerjaan, ada dampak. Mula-mula kita merasa senang dan puas, apalagi kalau melihat hasil yang baik. Kemudian pekerjaan kita menjadi sesuatu yang biasa yang

semakin kurang memuaskan diri kita. Muncul pertanyaan dalam hati kita tentang arti, maksud atau tujuan pekerjaan kita. Juga artinya semakin berkurang bagi kita. Akhirnya bukan hanya pekerjaan, tetapi juga hal-hal lain dalam kehidupan kita mulai kehilangan artinya.

Mengapa hal itu terjadi? Karena manusia tidak hidup dari keberhasilan dalam pekerjaannya,

melainkan dari hubungan pribadi dengan sesamanya. Hubungan itu harus bermutu, karena semangat hidup berakar dalam hubungan itu. Yesus menjawab kepada Marta: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian yang terbaik” (Lk. 10, 41-42). Yesus menjelaskan bahwa kehidupan tidak dijamin, tidak diperdalam dan tidak diteruskan dengan melarikan diri ke dalam kesibukan. Maria memilih untuk tinggal dan berada

bersama Yesus, jalan kebenaran dan kehidupan, dan menetap bersama-Nya. Yesus berjanji bahwa pilihan itu “tidak akan diambil dari padanya” (Lk. 10, 42).

Ada segi lain lagi dalam jawaban Yesus kepada Marta. Yesus menyebut ‘banyak perkara’ yang diperhatikan oleh Marta dan ‘bagian yang terbaik’ yang dipilih oleh Maria. Marta sibuk dengan membandingkan, sedangkan Maria terarah kepada satu tujuan. ‘Banyak perkara’ memecahkan dan membagi-bagikan kehidupan kita, sedangkan ‘satu tujuan’ mempersatukannya. Kita memilih sikap yang mana? Pilihan Maria disebut ‘yang terbaik’ oleh Yesus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.