Renungan: Perkataan yang Keras oleh Pastor Bert Hagendoorn OFM

UNTUK mencobai Yesus, orang-orang farisi memakai isu yang peka. Mereka bertanya “Apakah seorang suami diperbolehkan untuk menceraikan isterinya?” (Mk. 10, 2). Mengapa isu itu peka? Karena dalam cita-cita Kitab Suci yang mereka ajarkan, perceraian tidak ada. Tetapi dalam kenyataan perceraian ada dan dapat dibenarkan dengan memakai Kitab Suci yang sama.

Foto: Dok./TimeX
Pater Berth Hangedoorn OFM

Ada ayat yang berbicara tentang seorang laki-laki yang mengambil seorang perempuan menjadi isterinya, tetapi kemudian tidak senang lagi dengan perempuan itu karena kelakuannya yang tidak senonoh, dan sesudah itu ia menulis surat cerai dan menyuruh perempuan itu untuk pergi dari rumahnya (Ul. 24, 1).

Ayat itu ditafsirkan oleh orang Farisi: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” (Mk. 10, 4). Yesus tidak membahas cara penafsiran mereka, tetapi menanggapi sikap yang mereka ambil: “Karena ketegaran hatimu, maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu” (Mk. 10, 3).

Yesus tunjuk langsung kepada cita-cita Kitab Suci yang mereka ajarkan: “Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging; demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Mk. 10, 6-9). Yesus kembali ke Kitab Suci dan menjadikan ajaran dasarnya menjadi ajaran-Nya sendiri. Dengan kata-kata lain, Yesus mengatakan: di hadapan Tuhan tidak ada perceraian yang sah!

Gereja Purba berpegang teguh pada ajaran Yesus itu.

Kata Paulus: “Kepada orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya” (1 Kor. 7, 10-11).

Mengapa pendirian Yesus dan pengikut-pengikut-Nya begitu tegas? Alasannya pasti karena persatuan itu sesuai dengan rencana Tuhan Allah pada mulanya: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1, 27). Dan “seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya  dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2, 24). Tetapi ada alasan lain juga yang diperagakan oleh Yesus ke hadapan semua yang hadir pada waktu itu. “Orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus; murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia menjadi marah dan berkata kepada mereka: ‘Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu  dan jangan menghalang-halangi mereka’ ” (Mk. 10, 13-14). “Kemudian Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka, Ia memberkati mereka” (Mk. 10, 16).

Alasan mengapa suami dan isteri tidak boleh diceraikan adalah bahwa mereka dua bertanggungjawab atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Keluarga merupakan lingkungan dimana seorang anak dapat mengenal cinta kasih dan merasa nyaman dan diperhatikan. Lingkungan keluarga itu tidak boleh dirusak, karena dengan demikian lingkungan yang dibutuhkan anak untuk dibesarkan juga dirusak dan anak dibiarkan sendirian tanpa pelukan yang dibutuhkannya untuk menjadi manusia yang mampu hidup di tengah tantangan-tantangan masyarakat dan dunia.

Suami dan isteri bukan hanya sekedar suami dan isteri, mereka bapa dan mama juga. Cinta mesra di antara mereka terwujud dalam anak yang dikaruniakan kepada mereka. Demi anak itu cinta mereka harus bertahan dan tidak boleh putus.

“I love you for ever”, karena cinta Tuhan sendiri tidak kenal batas. Dan manusia diciptakan Allah “menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia laki-laki dan perempuan” (Kej. 1, 27).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.