In Memoriam Uskup Timika, Yopi Kilangin: Kami Kehilangan Panutan

“Eh Amandus, ko lihat di kuburan sana ada pastor yang meninggal tidak ada satupun dari mereka yang merokok, dan mereka meninggal, itu candaannya”

Foto: Antonius Djuma/TimeX

SENYUM – Mgr Yohanes Philipus Saklil Pr didampingi Elminus B Mom Ketua DPRD Mimika, I Nyoman Putu Arka Asisten Bidang Administrasi dan umat Katolik Kuasi Santa Sisilia SP2 pada saat melepas balon peresmian Gereja Santa Sisilia SP 2 pada 22 November 2018 lalu.

Umat Katolik Keuskupan Timika dan Keuskupan Agung Merauke, bahkan rakyat Indonesia pasti merasa terpukul setelah mendengar kabar duka cita atas berpulangnya Mgr. Yohanes Philipus Saklil Pr.

Uskup Timika menghembuskan nafas terakhirnya di RSMM Timika sekira pukul 14:10 WIT, setelah sempat terjatuh  di halaman depan Bobaigo-Rumah Keuskupan Timika pada Sabtu (3/8) lalu sekira pukul 13.15 WIT.

Seperti diungkapkan Yopi Kilangin, tokoh agama Katolik Mimika ini merasa kehilangan sosok panutan yang begitu dekat dengan umatnya.

“Kami shock mengahadapi peristiwa iman seperti ini. Kami belum siap sama sekali dan terima” tuturnya sedih kepada Timika eXpress saat ditemui di Istana Keuskupan Timika Bobaigo usai misa pemberkatan jenazah oleh Pater Yosep Ikikitaro, Pr pada Sabtu (3/8) malam.

Sebagai umat kata Yopi, belum bisa menerima kenyataan ini. Sejak pagi mendengar kabar itu ia langsung menuju RSMM mendampingi Uskup.

Ketika satu jam dokter berusaha memompa jantungnya pada akhirnya dokter juga angkat tangan dan menyampaikan Uskup sudah tiada.

Uskup Saklil adalah penggembala ribuan umat di Keuskupan Timika yang sangat luar biasa.

“Sosok almarhum orangnya berbicara tegas dan keras berjuang membela rakyat Papua di daerah ini, khususnya Amungme dan Kamoro,” kata Yopi.

Mantan Ketua DPRD Mimika 2004-2009 ini menaruh harapkan besar kepada gereja apabila nanti memilih pengganti almarhum, diharapkan sosok yang karakternya hampir sama, yaitu memiliki pribadi yang ramah, membuka diri menerima siapa saja tanpa memandang perbedaan.

“Orang Papua sudah menaruh harapan besar kepada Uskup Jhon, tapi sekarang orang sudah kehilangan pegangan dan harapan,” kata Yopi.

Pejuang gerakan Tungku Api ini, kata Yopi, dari seluruh pemberitaan, kabar baik Injil, baik dalam gereja maupun di luar selalu memberikan pengharapan bahkan seruan moral yang menguatkan supaya orang Papua bisa membangun dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu panutan dari siapa lagi, yang kami harapkan itu kalau cari orang yang menggantinya mudah-mudahan kurang lebih bisa lebih terbuka melihat kondisi umat sama halnya dengan almarhum,” harapnya.

Uskup Jhon kata Yopi, sudah seperti orang Papua dan berjuang dalam pergumulan hidup masyarakat di daerah ini.

Satu hal yang manarik dari sosok Uskup Jhon, yaitu semangat memperjuangkan dan menyelamatkan tanah dusun sagu milik warga asli Papua di wilayah pesisir,  agar tidak boleh dijual.

“Ini hanya ada pada diri Uskup Jhon yang begitu berani mengingatkan umatnya untuk hilangkan kebiasaan menjual dusun sagu. Selamatkan tanah sebagai tungku api keluarga. Kalau kita mau hidup maka tungku api harus menyala. Dapur musti ada asap di situ tanda ada kehidupan,” tegasnya.

Rasa kehilangan serupa turut dirasakan oleh Marselinus Darri, Koordinator Seksi Liturgi Paroki Katedral Tiga Raja Timika.

“Sayang…e, kaget, tidak percaya, penuh tanya ada apa?, mengapa ini bisa terjadi? Saya baru bertemu Uskup hari Selasa waktu Beliau balik dari Merauke,” tulis Nus dalam wall WhatsApp Grup Kerukunan Keluarga Wuamesu Ende Lio Mimika pada Sabtu (3/8) sekira pukul 7.56 WIT.

Nus menuliskan perasaan hatinya, bahwa dua jam duduk dan mendengarkan beliau (Uskup) bicara keadaan/suasana di Merauke saat mengumumkan tentang keputusan Roma: Uskup Nico Adi mundur dan dirinya, Uskup Timika ditunjuk sebagai administrator apostolik. Dan juga hal-hal yang penting yang perlu dilakukan di wilayah Keuskupan Timika dan Merauke sebagai basis umat Katolik.

Dengan humor, banyak bikin tertawa tulis Nus, beliau menyampaikan pesan penting. Saat itu beliau merokok dan sesekali batuk.

“Saya rasa tugasnya memang berat, tapi beliau termasuk pemimpin/gembala yg kharismatik. Kemarin saat berita duka tiba, memang iman kita diuji. Gembala yg padanya dipercayakan ribuan atau mungkin jutaan domba itu telah tiada. Hanya karena jatuh tergelincir saat jalan-jalan di halaman rumah uskup sesudah makan pagi,” tulis Nus.

Pertama diberitakan lanjutnya, koma beberapa jam sampai pukul 2.15 WIT siang diberitakan sudah meninggal. Pertanyaanku ada apa ini Tuhan? Mengapa ini terjadi? Apakah ada yang salah? Itulah pertanyaan manusia biasa pun manusia beriman. Pada akhirnya ini kenyataan Bapak Uskup tidak bangun lagi, dia tidur selamanya meskipun tangisan umat dan keluarga bergemuruh di sekitarnya.

“Di sinilah saya hanya bisa tunduk menangis menerima kenyataan ini, Uskup John Philips Saklil, Pr,” tulisnya.

Uskup bagi Nus, seseorang yang turut berperan penting dalam perjalanan hidupnya, gembala umat yang sangat dicintai dan dibanggakan keluarga harus pergi secepat ini. Keputusan Tuhan tentang waktu kematian tidak terbantahkan oleh makhluk hidup manapun di alam raya ini. Selamat jalan Uskup John, Tuhan Sang Gembala Agung pasti sudah menyediakan tempat dalam Kerajaan-Nya.

“Ya Tuhan hiburlah umat-Mu, hiburlah keluarga besar Uskup John, hiburlah Gereja-Mu, amin,” tulis Nus.

Sementara Pater Yosep Ikikitaro Pr, putra Kamoro dalam kotbah misa pemberkatan jenazah di Kapela Keuskupan Bobaigo mengungkapkan Mgr Jhon tadi pagi sampai siang masih bersama dengan umatnya.

Uskup jatuh sekira pukul 13.15 WIT setelah itu dibawa ke RSMM dalam keadaan tidak sadar. Setiba di RSMM para dokter berusaha memompa jantung tapi tidak bisa tertolong akhirnya dinyatakan sudah meninggal.

Mgr Jhon katanya, sudah dipanggil Tuhan dari tengah-tengah umat untuk kembali kepada Tuhan Sang Pencipta-Nya. Tuhan telah menjanjikan dan Tuhan yang mencintainya telah memanggil pulang Mgr kehadirat-Nya.

“Kita memang merasa kehilangan akan sosok yang kita cintai sebagai gembala kepala gereja lokal Keuskupan Timika dan Keuskupan Agung Merauke,” katanya.

Beberapa hari lalu ujarnya, Paus Fransiskus mengangkat Mgr Jhon sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke.

Kepergian Mgr Jhon ke rumah bapa di surga bukan hanya  kehilangan umat Katolik Timika saja melainkan juga dirasakan umat Katolik Keuskupan Agung Merauke bahkan umat Katolik di Indonesia.

Yesus dalam Injil katanya, secara tegas mengatakan berbahagialah bagi mereka yang bersuka cita.

“Kita merasa terpukul dan merasa kehilangan tetapi iman kita mengajarkan bahwa ada kebangkitan dan sukacita. Kebangkitan itulah menjadi kekuatan kita dalam rasa kehilangan,” tegasnya.

Mgr Jhon lanjutnya, semua orang tahu sosok begitu dekat dengan umat.

Sementara Pater Amandus Rahadat Pr Pastor Paroki Katedral Tiga Raja pada dinding facebooknya menuliskan USKUP JOHN SAKLIL, SOSOK & FIGUR seorang BAPAK yang…@ RAMAH, @ SELALU MAU MENGERTI ORANG LAIN, @ CERDAS..@ PENUH IDE BRILYANT …@ INGIN MEMBUAT ORANG SENANG, a.l. menyampaikan MOP segar…. dan…@ Segudang kelebihan lainnya……….

Kami SUDAH SALING KENAL SEJAK sama-sama berstatus mahasiswa, sama-sama masih frater di Kampus Yerusalem Baru. Sy LEBIH TUA 5 tahun dari beliau. @ saat saya tahbisan DIAKON, dia jadi “misdinar” @ saat dia ke Rawaseneng utk persiapan Tahbisan Imam, kami bersama-sama OTW Jakarta menumpang Kapal UMSINI (masih baru…!!) @ saat sy misa di beberapa paroki di Jakarta, sbg frater, dia selalu ikut saya… dan tiap kali saya terima stipendium misa dari umat, sy selalu bagi rata berdua…@ Saat dia Tahbisan Imam, sy sdh jadi pastor Paroki Pasar Minggu Jakarta jadi tidak sempat hadir Tahbisannya, tetapi saat dia sdh jadi pastor paroki Pikhe-Wamena, saya datang dari Jakarta untuk mengunjungi dia… @ saat dia jadi Uskup Timika, sy batalkan kerja ke paroki Maria Asumpta di Keuskupan Agung Atlanta Amerika Serikat, hanya utk memenuhi permintaan dia untuk bantu dia di Katedral 3Raja Timika…@ saat umat 3Raja merayakan Pesta Perak 25 Tahun Imamat saya, dalam Sambutan, dia menyapa saya “kakak” walau dia sdh jadi Uskup…

Begitulah.. 15 tahun sudah saya berusaha dampingi beliau sbg Pastor Plebanus di Katedral ini dlm segala kekurangan dan kelemahan, dlm susah & senang, sehat & sakit….Sudah sering saya minta pindah kerja/pindah paroki, tetapi beliau selalu bilang “sabar”.. akan datang waktunya… dan dlm ketaatan, sy menunggu…

Beliau setiap 3 atau 4 bulan selalu INGATKAN saya: “Amandus, boleh sibuk kerja, tetapi jangan lupa CHECK UP KESEHATAN”… sementara beliau sendiri tidak check up kesehatan. SEKARANG DIA SUDAH PERGI…@ Selamat jalan+ adikku dlm Imamat…@ Selamat berbahagia bersama Bapa di Surga + Uskupku.. pimpinanku … BERKAT TUHAN MENYERTAIMU. Postingan disertai foto-foto semasa muda dengan lama waktu tujuh jam mendapat tanggapan 817 like, 141 komentar serta 132 kali dibagikan.

Riwayat Hidup

Mgr. Jhon Philipus Saklil, Pr lahir di Kokonao, Mimika Barat, 20 Maret 1960 (59).

Ia ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Jayapura pada 23 Oktober 1988. Setelah pendirian Keuskupan Timika sebagai pemekaran dari Keuskupan Jayapura, Mgr Jhon Philipus Saklil Pr ditunjuk sebagai Uskup pertama Timika pada 19 Desember 2003. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 18 April 2004 oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Sebagai Penahbis Utama didampingi oleh Uskup Agung Emeritus Merauke, Mgr. Jacobus Duivenvoorde, M.S.C dan Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM.

Sebagai uskup, ia memilih moto ‘Parate viam Domini’ (Mat 3:3, par. Mrk 1:3, Luk 3:4). Hal ini merupakan suatu seruan kenabian yang ditujukan kepada semua orang, terutama seluruh yang terlibat di Keuskupan Timika untuk bertobat, menyiapkan diri, membersihkan hati, supaya diselamatkan oleh Tuhan.

Pada 25 Juli 2004, ia menjadi Uskup Penahbis Pendamping bagi Mgr. Nicolaus Adi Seputra, M.S.C. sebagai Uskup Agung Merauke.

Pada Kamis, 7 Oktober 2010, Gereja Katedral Tiga Raja Timika ditahbiskan, dengan selebran utama Mgr. Leopoldo Girelli. Pesta terkait penahbisan gereja katedral ini telah berlangsung sejak satu minggu sebelumnya.

Ia berulang kali mengajak umat Keuskupan Timika untuk menggali potensi yang ada, demi terwujudnya gereja lokal yang mandiri.

Sejak 2009 hingga 2015, ia terpilih menjadi Ketua Komisi Kepemudaan KWI. Semasa jabatannya, ia membaca keprihatinan Orang Muda Katolik (OMK) yang telah lama terjadi. Hal ini membawa kepada pelaksanaan Indonesian Youth Day pertama yang diselenggarakan di Sanggau.  Paus Benediktus XVI menyatakan kegembiraan atas pelaksanaan IYD 2012 tersebut.

Perlu diketahui Uskup sempat disemayamkan semalam di Kapela Keuskupan Timika Bobaigo Jalan Cenderawasih.

Perarakan menuju Katedral dimulai pukul 15.00 WIT dan dilanjutkan dengan perayaan ekaristi.

Sesuai info resmi Paroki Katedral Tiga Raja, misa pemakanan akan diadakan pada Rabu, 7 Agustus 2019 bertempat di Katedral Tiga Raja. Selebran utama Ketua KWI, Mgr. Ignasius Suharyo, misa penghormatan akan diadakan setiap hari, pukul 18.00 WIT.

Misa Minggu (4/8) oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, Senin (5/8) oleh Mgr. Anton Subiyanto, OSC, SekJen KWI dan Selasa (6/8) oleh Mgr. Aliysius Murwito, OFM, Uskup Agats.

Pemakaman di Pemakaman imam-imam diosesan di belakang istanah Uskup Bobaigo.

Jenazahnya Diarak dan Ditangisi Ribuan Umat

Sementara pada Minggu (4/8) sore dibawah guyuran hujan lebat, ribuan umat Katolik dengan penuh duka mengarakan jenazah Mgr Johanes Philipus Saklil Pr dari Kapela Istanah Keuskupan Bobaigo menuju Gereja Katedral Jalan Yos Sudarso. Setiba di halaman gereja Uskup disambut dengan bunyi lonceng gereja serta isak tangis umat dari wilayah pegunungan dan pesisir yang sudah menunggu. Jenazah yang mulia disemayamkan di depan altar dan dilanjutkan dengan perayaan ekaristi dipimpin Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM.

Pastor Paroki Katedral Tiga Raja, Pater Amandus Rahadat Pr, saat menyambut jenazah Mgr Jhon dengan nada sedih mengungkapkan kepergian alm yang sangat mendadak membuat umat merasa tidak percaya dan belum menerima namun inilah rencana Tuhan yang terindah.

Moto dari almarhum sebut Pater Amandus, Parate Viam Domini yang artinya Siapkan Jalan Untuk Tuhan”.

“Kami sebetulnya punya tokoh idola dari lima uskup di Papua. Uskup Jhon inilah yang selalu tampil di depan dan menyuarakan nilai-nilai universal tentang kedamaian, keadilan dan secara khusus adalah keberpihakan kepada orang Papua,” katanya.

Ia dan alm lanjutnya, telah merancang program yang luar biasa sekali yaitu, ‘Tungku Api’ namun  kepergiannya yang mendadak membuat  Katedral sangat kebingungan sebab Uskup adalah sosok yang inpirator.

“Dia pergi begitu mendadak, sebenarnya kita tidak siap. Saya sebagai plebanus (wakil uskup) di Katedral. Saya sampai emosional, kemarin saya ke Jakarta berobat, alm yang paksa dan selalu mengingatkan saya untuk medical check up,” jelasnya.

Pater Amandus merasa sangat menyesal hingga Mgr meninggal belum sempat bertemu.

“Tidak ada pesan-pesan yang uskup sampaikan, tetapi kami tetap berpegang kepada moto uskup yaitu “Persiapkan Jalan Bagi Tuhan, itulah menjadi pegang kami, apapun yang terjadi jalan sudah ia rintis,” katanya.

Pater Amandus menyakini jalan yang telah dirintis ini pastor dan biarawati dapat meneruskan supaya kehendak Tuhan kiranya boleh terjadi untuk semua orang, karena jalan Tuhan adalah jalan keselamatan.

Menurut Pastor Amandus, ada hal yang terkesan dari sosok alm.  Alm yang berjiwa kebapaan, tidak pernah menyakiti orang dan cara menegurnya itu tidak sampai menyakiti orang.

“Uskup itu luar biasa, dia selalu mencoba untuk merangkul dan selalu melihat sisi-sisi postif dari orang. Itu yang luar biasa dan kami sangat kehilangan sosok itu,” tuturnya.

Selama ini ujarnya, alm tidak pernah keluhkan sakitnya,  namun beberapa kali dirinya sempat menegur uskup untuk berhenti merokok tapi uskup hanya menanggapi dengan tersenyum.

“Eh Amandus, ko lihat di kuburan sana ada pastor yang meninggal tidak ada satupun dari mereka yang merokok, dan mereka meninggal, itu candaannya,” ujar Amandus mengulangi kata-kata alm.

Uskup katanya, selalu menutupi penyakit yang ia alami, namun ia selalu perhatikan kesehatan orang lain.

“Saya tahu dia itu diabetes, dan namanya diabetes temannya itu jatung, ginjal dan dia sembunyi itu, teryata dia jatuh langsung meninggal. Itu jantung kan, dia selama ini diam, mungkin karena dia tidak ingin menyusahkan kami,” tuturnya.

Membuat Pater Amandus bangga dan bahagia selalu mendengar kesaksian uskup yang mengatakan beruntung sejak dirinya berada di Ketedral.

“Saya senang sekali karena kehadiran saya dia merasa terbantu sekali. Saya memang lebih tua lima tahun dari uskup, dan yang membuat saya bangga di misa  perayaan 25 tahun imamat, dia panggil saya kakak, walau dia sudah jadi uskup. Saya sangat terharu,” tuturnya.

Sejauh ini kata Pater Amandus, alm selalu bertugas di luar kota pergi sendiri tetapi akhir-akhir ini selalu membawa frater padahal sebelumnya tidak seperti itu. Sikap Uskup yang kadang tidak ingin merepotkan orang lain.

Diminta Vatikan

Lanjut Amandus, alm diminta langsung dari Paus Fransiskus di Vatikan untuk bertugas sementara di Keuskupan Agung Merauke. “Saya menduga ada tugas berat yang ia pikir sehingga alm langsung jatuh dan tidak sadarkan diri,” katanya.

Alm ke Merauke lanjutnya, untuk menyelesaikan tugas yang begitu berat dan ia tentu merasa sangat bertangungjawab.

“Dia di sana kan sebagai administrator. Dia ibarat presidennya dan pembersihan  masalah adalah Uskup Bandung, tetapi biar bagimanapun dia merasa bertangungjawab. Beban itu sangat mempengaruhi dia, masalah di sana  sangat besar,” jelasnya.

Beratnya masalah itu lanjutnya, membuat Vatikan langsung turun tangan. “Ada hal serius di sana yang bisa membuat nama gereja tercemar, sehingga Vatikan mengambil alih itu. Saya memang sedikit kuatir sehingga setiap kali misa, saya minta umat tolong berdoa buat uskup,”katanya. Mimika masih membutuhkan alm tetapi Tuhan berkendak lain, Tuhan memindahkan alm ke surga. (antonius djuma/indri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.