Misa Hari ke-3 Penghormatan Uskup John, Sekjen KWI: Monsinyur Terima Kasih Atas Cinta Baktimu

“Mop-mopnya dan pengalamannya menunjukan kedekatan yang luar  bisa dengan umat maka tak heran ketika jenazahnya memasuki Gereja Katedral ini,  gelak tangis derai air mata umat sekalian seperti nyanyian koor surgawi mengantar jenazah memsuki Gereja Katedral”

Foto: Ist.
Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC

TIMIKA,TimeX

Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Sekretaris Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)  yang juga Uskup Keuskupan Bandung mengucapkan terima kasih atas pengabdian Mgr John Philip Saklil, Pr Uskup Keuskupan Timika kepada gereja.

“Monsinyur terima kasih atas cinta, bakti untuk gereja terutama gereja di Papua, terutama lagi gereja di Keuskupan Timika. Selamat jalan, doakanlah kami yang masih berjuang ini. Semoga kami menjadi pribadi-pribadi yang selalu tergerak hatinya oleh belas kasih. Doakan kami semua,” ucap Uskup Antonius dalam kotbahnya, Senin (5/8).

Ia mengatakan umat Katolik berduka cita karena gembala yang hatinya selalu penuh kasih dan kelembutan telah dipanggil Tuhan.

“Suster, Bruder, Frater, bapa ibu saudara-saudari dan anak-anak yang terkasih, kita semua berduka cita karena gembala kita dipanggil oleh Tuhan,” katanya.

Uskup Antonius menceritakan sangat kaget mendapat kabar meninggalnya Uskup John, bahkan rasanya ia tidak percaya dengan kabar itu.

Saat itu ia baru saja selesai rapat dengan Nuncio (duta vatikan-red), dan sedang dalam perjalanan menuju ke Gambir lalu ada beberapa telepon yang masuk terus menerus.

Begitu duduk, ia membaca berita duka, serasanya tidak percaya, dan mengecek kembali kebenaran berita ini dengan menghubungi Pastor Domi Hodo, Pr, setelah itu menyampaikan kabar duka kepada Nuncio. “Nuncio tidak bisa berkata apa-apa kecuali berkata, kita berduka, kita berduka, kita berduka,” kata Antonius menirukan Nuncio.

Gereja ujarnya, berduka karena ada harapan besar yang ditanggungkan pada pundak Monsinyur John Philip Saklil untuk gereja  di Papua, Keuskupan Timika dan Keuskupan Agung Merauke yang sedang berada dalam kegembalaannya.

“Enam belas tahun yang lalu ia mulai memimpin Keuskupan Timika dan baru seminggu ia dipercaya oleh Sri Paus Fransiskus menjadi administrator apostolik Keuskupan Agung Merauke. 43 tahun  ia menjadi gembala di Keuskupan yang belum berbentuk, untuk memulai sebagai seorang gembala muda tentu tidak muda. Apalagi dengan begitu banyak pekerjaan dan karya yang dipercayakan kepadanya. Ia menjadi  Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KWI, Komisaris Alma dan karya-karya lain yang  dipercayakan kepadanya,” papar Uskup Antonius.

Dengan berbagai beban tanggung jawab yang diembannya ia tetap setia dalam melakukan pelayanan kepada umat.

“Mungkin Uskup John berkata mengapa beban ini engkau  tanggungkan kepadaku Ya Allah. Ia tidak pernah mengeluh kepada kita, ia tidak pernah berbicara kepada kita apa yang menjadi beban dan tanggungjawabnya. Dua minggu yang lalu saya masih berbicara dengan beliau, bertiga dengan Nuncio tentang apa yang akan menjadi tugas dan tanggungjawab yang diemban,” kisahnya.

Pada umumnya lanjut Uskup Antonius, manusia mencari sesuatu yang tenang, senang aman dan nyaman. Tetapi ketika tanggung jawab  dan tugas yang dipercayakan menuntut salib, Uskup John tetap menerima.

“Beliau selalu mengatakan bagaimana dia harus taat. Taat kepada Allah melalui pimpinan gereja terutama Sri Paus Fransiskus, ini tidak mudah,” ujarnya.

Bagi Monsinyur John ujarnya, tidak sulit menjadi uskup, tidak berat, yang berat adalah  bagaimana menggembalakan umat yang mempunyai kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda, berhadapan dengan para imam dan berhadapan dengan para tokoh.

“Yang mungkin juga dalam doanya ia berkata Tuhan Allah mengapa kau tanggungkan beban yang begitu berat kepadaku. Tapi karena kesetiaan dan hatinya yang tergerak oleh belas kasih, semua kepercayaan  yang diberikan selalu dijalankan dengan baik,” sebutnya.

Uskup John ujarnya, selalu tegas tapi kata-katanya tidak pedas. Ia berani berbicara kebenaran dan tidak tanggung-tanggung untuk mengkritik tapi pembicaraannya tidak memojokan orang.

Ia berani membela terutama hak-hak orang kecil tersudutkan. Maka ketika ia berbicara, orang tidak merasa terserang. “Itulah yang dialami setidaknya oleh para uskup ketika sidang pleno Konferensi Wali Gereja, dia jarang berbicara tetapi selalu berbicara. Selama ada kesempatan ia  mulai tunjuk jari dan berbicara, pasti di sana ada gelak tawa karena cara membawakannya yang penuh humor tapi menegur kita semua apa yang sesungguhnya harus dikerjakan. Orangnya gampangan, enteng, teriak penuh sukacita tanpa beban walaupun di pundaknya penuh beban. Humor-humornya selalu meghiasi,” tuturnya mengenang.

Yang mulia Antonius mengenang pada akhir tahun 2013, ia bermalam di Keuskupan Timika. Semalaman Uskup John bercerita tentang mop sampai tengah malam, tak habis-habisnya, Uskup John berbicara dan bercerita tentang kekayaan bersama dengan umat.

“Mop-mopnya dan pengalamannya menunjukan kedekatan yang luar  bisa dengan umat, maka tak heran ketika jenazahnya memasuki Gereja Katedral ini,  gelak tangis derai air mata umat sekalian seperti nyanyian koor surgawi mengantar jenazah memasuki Gereja Katedral,” tuturnya.

Ada begitu banyak pengalaman luar biasa dialami Uskup John. Ia bukan hanya bapak dan gembala tetapi juga menjadi inang, menjadi ibu seperti Yahwe menitipkan bangsa Israel kepada manusia, demikian juga Allah menitipkan  umatnya kepada Mosinyur John.

“Saudara-saudari yang terkasih sebagai gembala yang selalu tergerak hatinya oleh  belas kasih, ia selalu menggembalakan umat dengan hati, seluruh energi, budi, pikiran, waktu dan materi diperuntukan untuk umat. Dia juga  mau memberdayakan umat dan masyarakat dan bukti yang nyata, supaya jangan hanya kehidupan spritual iman umat  meningkat, tapi bagaimana kehidupan kesejahteraan materialnya juga bertambah baik,” tuturnya.

Uskup John lanjutnya, ingin mengajak para imam, biarawan, biarawati untuk hidup dengan identitas, mungkin bukan dengan perkataan tapi cara hidup yang nyata sederhana. Ia punya segalanya tapi hidup sederhana. Di pundaknya ada banyak hal tapi ia tampil dengan apa adanya. Ia gembala yang penuh belas kasih. Ketegasan seorang bapa dilengkapi dengan kelemah lembutan. Siapa yang mengira gembala yang berbadan tegap, besar, tinggi mempunyai hati yang sangat lembut, penuh belas kasih.

“Semoga dengan upacara ini ketika gembala kita berada dalam puncak karyanya ia dipanggil  oleh Allah, kiranya merupakan ajakan kepada kita terutama para imam untuk menjadi gembala yang sejati, penuh belas selalu tergerak oleh belas kasih. Ketika hatinya ada pada umat, hartanya ada pada umat, dan itulah Monsinyur John Saklil hidup seperti itu,” katanya.

Sebelum berkat penutup, Uskup Antonius ucapkan terima kasih kepada keluarga yang telah menyerahkan putra terbaiknya kepada gereja dan terima kasih kepada umat yang telah memberikan dukungan kepada Uskup John selama menjalankan tugas penggembalaannya. (yosesifina dai dore)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.