In Memoriam Uskup John Philip Saklil, Goyang Seka-seka yang Selalu Membahana (Bagian 3-Habis)

Foto: Yosefina Dai Dore/TimeX
DITURUNKAN – Para imam menurunkan peti jenazah Mgr John Philipus Saklil Pr dalam liang lahat di pemakaman imam diosesan Keuskupan Timika Bobaigo, Rabu (7/8).

RABU petang lalu merupakan perjumpaan yang terakhir seluruh umat dengan Uskup John Philip Saklil,Pr sebelum dimakamkan di taman makan para imam di Bobaigo, Istana Keuskupan Timika.

Sosok pribadi yang kebapaan, suka menolong orang lain, tidak menjaga jarak, dan suka bercanda dengan siapa saja, kini tinggal membekas ceritera.

Termasuk spirit melahirkan suasana sukacita melalui ‘goyang seka-seka’,  pastinya punya kisah tersendiri.

 Laporan: Maurits-Yosefina / Timika eXpress

BEGITU banyak julukan yang dialamatkan kepada mendiang Uskup Timika Mgr. Yohanes Philipus Saklil,Pr.

Ini karena dalam misi penggembalaannya ia ibarat sebatang pohon yang sombar (teduh) menaungi banyak orang, secara khusus umat di Keuskupan Timika.

Bahkan krans bunga yang banyaknya ratusan menjadi bukti bahwa banyak pihak semua mengungkapkan dukungan untuk Uskup.

“Tapi kini sombarnya Bapak Uskup yang menaungi kami sudah tidak ada lagi. Ia adalah gembala, guru, nabi dan pemimpin yang baik, jadi spirit, motivator, inspirator bagi biawaran-biarawati di Keuskupan Timika,” ucap Pastor Plebanus, Amandus Rahadat, Pr, usai misa arwah mewakili umat Katedral Tiga Raja pada Rabu (7/8).

Melalui ide-ide brilian, melahirkan program ‘tungku api’,  ini menunjukan bahwa Uskup John seorang pejuang kemanusiaan yang tak tergantikan.

“Kami sekarang jadi bingung, karena dia pergi mendadak kami semua tidak siap,” katanya.

Namun dengan berpegang pada motto Uskup John, ‘Parate Viam Domini’ (Siapkan Jalan Tuhan), apapun yang terjadi, jalan yang sudah dirintis, tentunya pastor biarawan-biarawati  termasuk umat harus meneruskan jalannya agar kehendak Tuhan boleh terjadi untuk siapapun dalam aktivitasnya.

“Kita harus meneruskan motto ini dalam rupa-rupa aktivitas untuk semua umat semakin dekat bertemu dengan Tuhan,” ungkap Amandus sedih.

Kendati demikian, sikap low profile sang Uskup yang dikenal tidak otoriter, melainkan selalu memberi semangat dorongan, dimana untuk mendapat sosok seperti ini susah.

Kami kehilangan sosok terpenting, sosok yang mencintai masyarakat yang selalu berjuang untuk yang terbaik bagi umat. Tugas dan tanggung jawab panggilanmu takan pernah kami lupahkan dalam membangun keimanan masyarakat, khususnya di Tanah Bumi Amungsa.

“Selamat jalan, terima kasih untuk pengabdian selama ini, Tuhan memberkati,” tandas Pastor Amandus.

Kembali lagi, khabar wafatnya Uskup Keuskupan Timika sekaligus Administrator Apostolik Seda Plena Keuskupan Agung Merauke, Mgr. John Philip Saklil, Pr bagaikan  petir menggelegar di siang bolong nan terik.

Semua orang yang mendengar khabar duka rasanya tidak percaya, tapi berita itu sebuah kebenaran.

Tanda tanya dan pertanyaan tentang wafatnya Uskup John akhirnya dijelaskan oleh Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Timika dan Papua, Pastor Domi Hodo, Pr usai misa arwah Rabu lalu.

Kisahnya, pada hari Sabtu, 3 Agustus 2019, Uskup John mengawali hari baru dengan perayaan ekaristi bersama para pastor, biarawati dan diakon di Kapela Keuskupan.

Selanjutnya Bapak Uskup melaksanakan pekerjan-pekerjannya, termasuk jalan-jalan ke kantor Keuskupan sekitar jam 12:30 WIT.

Beberapa saat sebelumnya, Pater Eko melihat sopir Uskup dan Diakon Herman sedang mencuci mobil.

Kemudian Bapak Uskup datang dari belakang dan memeluk Pastor Eko lantas berceritera sekitar 25-30 menit dekat mobil yang sedang dicuci sopirnya.

“Setelah itu Bapak Uskup bilang Eko, sekarang sudah jam makan siang, mari kita pergi makan sudah,” ujar Pastor Domi.

Kemudian Pastor Eko memanggil Pastor Fabi supaya pergi makan siang bersama.

Beberapa saat kemudian, mungkin ketika hendak kembali ke rumah, entalah, tidak ada satupun orang yang melihatnya.

Sopir Uskup dan Diakon Herman ketika itu mulai memasang alas karpet depan mobil, dan ketika sopir putar ke kanan mobil, dia kaget melihat Bapak Uskup tidur terlentang di atas lantai halaman samping kanan Kapel.

“Apakah Bapak Uskup jatuh atau duduk dengan pelan sampai tidur terlentang? Sekali lagi, tentang hal ini tidak ada satu orang pun yang melihat,” jelas Pastor Domi.

Sopir yang panik kemudian bersama Diakon Herman mendekat.

Mereka mendapati Uskup John dalam keadaan tidak bergerak, mata terbuka sedikit, nafas begitu lemah dan tidak bisa bicara. Bahkan mereka coba kasih bangun namun tidak ada reaksi.

Mereka kemudian berusaha mengangkat Uskup John dan bersama dua pastor lainnya membawanya ke RSMM dan tiba sekitar jam 13:30 WIT.

Saat itu juga para dokter dan petugas medis RSMM langsung membawa Uskup John ke ruang UGD.

Saat itu juga Pastor Domi ikut ke RSMM dengan mengendarai sepeda motor.

Terkait tindakan dan intervensi medis, Pastor Domi diminta menandatangani beberapa surat terkait penanganan medis terhadap Uskup John.

Untuk penanganan lebih intensi, Uskup John dipindahkan ke Ruang Intensive Care Unit (ICU), dengan bantuan secara intensif hingga pemasangan alat pengontrol detak jantung.

Pastor Domi lantas meminta suster untuk mengambil stola dan berdoa secara khusus.

Setelah itu menghubungi Pastor Amandus untuk beri Sakramen Minyak Suci, dan kebetulan ada Pastor Gunawan sehingga Pastor Gunawan yang memberikannya.

Pastor Domi kemudian meminta penjelasan tentang bagaimana keadaan Bapak Uskup kepada tim medis.

Saat itu juga, tim dokter melakukan pertemuan singkat, lalu diumumkan bahwa Bapak Uskup sudah wafat pada jam 14:16 WIT.

Pengumuman itu disaksikan oleh Pater Fabi, Pastor Sam, Bapak Yopi Kilangin dan ibu, termasuk Ny. Meri Saklil, dan keluarga dekat Uskup lainnya.

Adapun pihak RSMM tidak dapat menerangkan catatan medis, dan hanya membuat dan menyerahkan surat keterangan kematian.

Sedangkan catatan medis tidak dapat dibuat, karena secara medis, dokter tidak dapat memastikan karena kondisi Bapak Uskup saat tiba di rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tidak bernafas.

“Tetapi, berdasarkan kronologi kejadian sebelum dibawa ke rumah sakit, kemungkinan Bapak Uskup mengalami silent heart attack yang biasanya dialami pasien dengan riwayat sakit gula,” tandasnya.

Sementara, mewakili keluarga, adik dari Uskup John, Sr. Rosalina Saklil mengatakan, kabar meninggalnya Uskup John sangat mengejutkan karena tidak ada tanda-tanda sakit.

Atas peristiwa iman ini, keluarga percaya bahwa semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan, sebab Uskup John hanyalah titipan Tuhan dalam keluarga.

“Sejak dia ucapkan janji imamatnya dan janji Uskup, kami keluarga telah menyerahkan dia ke tangan gereja yang kudus dan itu bukan milik kami tetapi milik gereja dan umat,” kata Sr. Rosalina.

Pada kesempatan itu pula, Sr. Rosalina meminta maaf kepada seluruh umat apabila semasa hidup almarhum melakukan khilaf.

Ia juga mengungkapkan terima kasih kepada Uskup atas pelayanan, tugas perutusan, kebijakan dan panutan yang telah diberikan kepada keluarga dan juga seluruh umat.

“Kami hanya bisa berdoa semoga kelak kita bertemu di surga abadi. Atas nama keluarga kami mohon didoakan semoga Uskup juga menjadi pendoa untuk kita semua,” katanya.

Dan di mata  masyarakat, bahkan video youtube kebanyakan yang diviralkan berbagai kalangan, merekam keceriaan perjalanan imamat 34 tahun Uskup John.

Tidak salah karena Uskup John dikenal pribadi yang periang, serius tapi santai.

Terbukti, dalam setiap acara meriah, selalu ditutup dengan joget bersama, sambil menyanyikan lagu ‘goyang seka-seka’, yang merupakan salah satu dari sekian banyak lagu ciptaannya.

Dalam setiap candannya, Uskup John mengatakan, goyang seka bersama itu untuk menghilangkan penat dan semakin mepererat persaudaraan, ini nampak dari setiap ragam gerakannya. Tentunya, goyang seka yang jadi kearifan lokal masyarakat Suku Kamoro, tetap membahana, mengenang Uskup John. Selamat jalan Yang Mulia. (habis)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.