Pedagang Pasar Sentral Terlibat ‘Adu Mulut’

Foto: Santi/TimeX
BANGUN LAPAK– Para pedagang bangun lapak baru di Pasar Sentral pada Jumat (9/8).

TIMIKA,TimeX

Mama-mama Papua pedagang pangan lokal yang berjualan di Pasar Sentral terlibat ‘adu mulut’ pada Jumat (9/8) sore.

Pemicunya, mama-mama Papua tidak terima atas penolakan dari pedagang lain untuk berjualan di tempat yang sama, yang disediakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Mimika di lokasi pasar tersebut.

Uniknya, mama-mama yang terlibat pertengkaran mulut, sebelumnya sama-sama berjualan di pinggir Jalan Bhayangkara, eks Pasar Swadaya sebelum direlokasi ke Pasar Sentral.

Menghindari terjadi pertengkaran susulan, sekelompok mama-mama yang ditolak itu akhirnya memilih membersihkan tempat yang dipenuhi tumpukan sampah  persis di depan los mama-mama Papua. Mereka kemudian menggelar dagangan beralaskan karung serta meja papan.

Carolina Jitmau salah seorang pedagang yang mendapat protes dari pedagang lain menuturkan tempat yang sekarang ia dan teman-temannya berjualan sebelumnya penuh dengan tumpukan sampah tapi sekarang sudah dibersihkan untuk dijadikan tempat jualan mereka.

“Di sini tadi banyak sampah sekarang sudah kami bersihkan,” tuturnya kepada Timika eXpress saat itu.

Ia mengatakan pedagang sejak pagi sudah saling bertengkar. Mereka menjual sementara di tempat itu atas ijin Bernadinus Songbes Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Kalau kami jualan di tempat lain susah karena orang tidak lihat kami punya jualan,” katanya.

Hal Senada disampaikan oleh Dika Antoh. “Kami berjualan ini tidak ada untungnya, karena tidak ada tempat yang baik, jadi kami pilih di sini biar bisa dilihat pembeli,” katanya.

Carolina dan Dika berharap meskipun dengan kondisi seperti ini sesama pedagang harusnya saling pengertian mengingat ini hanya sementara mereka berjualan di tempat itu sambil menunggu penertiban oleh pemerintah apa yang dilakukan pemerintah guna menata pasar ini agar lebih baik kedepan.

Kedua mama-mama Papua ini juga mengeluhkan pedagang non Papua menjual dagangannya jauh lebih murah membuat jualan mereka merugi karena kurang laku dan terlalu lama banyak busuk.

Dika mengharapkan pemerintah daerah dapat menata pasar ini lebih baik kedepan tanpa membedakan los pasar khusus masyarakat asli seperti di kota lain atau di Jayapura. Pantauan media ini pengerjaan drainase dan penimbunan masih terus dilakukan.

Bangun Lapak Baru

Setelah dibongkar, dibersihkan dan diratakan oleh petugas pasar, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berdasarkan instruksi Bupati Mimika menata pasar agar terlihat lebih rapi dan tidak semrawut, kini para pedagang di Pasar Sentral yang lapaknya terkena dampak pembongkaran kembali mendirikan lapak baru sesuai ukuran ditentukan Disperindag Mimika. Ukuran lapak semua pedagang harus sama. Pedagang pengecer ukurannya 2 X 3 dan agen ukurannya 3 X 4.

“Jadi sekarang mereka sudah bangun lapak baru yang sesuai dengan petunjuk kami. Jadi, kayu yang digunakan pun harus yang baru dan satu warna begitupun dengan atap seng yang digunakan juga harus tetap yang baru serta titik letaknya lapak juga harus sejajar dan rapi,” tutur Bernadinus Songbes Kepala Disperindag saat ditemui Timika eXpress di Pasar Sentral, Jumat (9/8).

Bernadinus mengatakan ukurannya itu sudah ditentukan dari jauh-jauh hari saat pertemuan bersama para pedagang dan para pedagang menyetujuinya sehingga setelah pembongkaran dilakukan beberapa pedagang langsung membeli kayu dan bahan bangunan lainnya untuk bangun.

“Selama ini kan kita lihat lapak yang dibangun asal-asalan saja, dan juga berdempetan dengan lapak pedagang yang lain, juga ada bangunan yang lewat hingga ke jalan. Jadi kita bongkar semua dan bangun yang baru agar semua sejenis, ukuran sama serta ada akses jalan agar dari Dinas PUPR bisa kerjakan,” tutur Bernadinus.

Udin, salah seorang pedagang sayuran dan bumbu dapur yang ditemui lagi mengerjakan lapaknya mengatakan biaya untuk membeli bahan ini ditanggung masing-masing pedagang kurang lebih sebesar Rp10 juta.

“Kami beli bahannya tapi nanti Disperindag ukur lagi kayunya. Kami pakai jasa tukang makanya pengeluarannya begitu,” tutur Udin.

Udin berharap setelah adanya penataan ini ikut mendongkrak pemasukan bisa lebih banyak dari sebelumnya, mengingat modal untuk pembangunan lapak juga ditanggung oleh pedagang tidak sedikit.

Sebagai pedagang Udin berharap supaya kondisi jalan di dalam pasar ini diperhatikan, apalagi sekarang musim hujan setiap hari begitu becek membuat pembeli malas masuk dan mereka memilih belanja di luar pasar. (san/a-32/a33)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.