Petani dan PPL Harus Saling Membagi Ilmu

Foto: Echi/TimeX
SEKOLAH LAPANGAN – Endro Dwi Pratomo (kanan) Kepala Bidang Penyuluhan dan PSP, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Mimika foto bersama Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan petani dalam kegiatan sekolah lapangan komoditi jagung di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian Jalan Irigasi Pasar Sentral Distrik Mimika Baru, Selasa (10/9).

“Kegiatan ini tidak didanai sama sekali, namun sebatas kepedulian kita bagaimana meningkatkan produksi dengan teknologi-teknologi, yang dapat diaplikasikan. Teknologi yang digunakan dalam berproduksi tidak harus modern, dapat juga menggunakan teknologi sederhana dengan menggunakan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang guna meningkatkan pendapatan petani”

TIMIKA,TimeX

Petani dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kabupaten Mimika harus saling membagi ilmu. Hal ini seperti dilakukan dalam sekolah lapangan oleh PPL Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP) bersama petani di Jalan Irigasi Pasar Sentral Distrik Mimika Baru pada Selasa (10/9).

Sekolah lapangan ini guna meningkatkan produksi pangan jagung dan pendapatan para petani yang diperlukan suatu keahlian dan kemampuan menerapkan teknologi tepat guna.

Demikian disampaikan Endro Dwi Pratomo Kepala Bidang Penyuluhan dan PSP, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Mimika saat ditemui Timika eXpress di lokasi Kelompok Tani Murakati Jalan Irigasi hari itu.

Ia mengatakan kegiatan hari ini (Selasa-red) sebagai sekolah lapangan di mana antara petani dan penyuluh  saling  berinteraksi untuk mengisi  ilmu sekaligus berbagi. Misalnya ada kelebihan petani, PPL tidak malu-malu dalam mengadopsi  teknologi itu, sebaliknya petani juga jika ada kelebihan dari PPL yang disampaikan dapat diterima.

Sekolah lapangan untuk Timika sebutnya, ada di Mapurujaya, SP 2, Irigasi dan SP 7.

“Kegiatan ini tidak didanai sama sekali, namun sebatas kepedulian kita bagaimana meningkatkan produksi dengan teknologi-teknologi, yang dapat diaplikasikan. Teknologi yang digunakan dalam berproduksi tidak harus modern, dapat juga menggunakan teknologi sederhana dengan menggunakan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang guna meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.

Petani dan PPL saling  berbagi ilmu ujarnya, mulai dari proses tanam  dengan melakukan pengamatan mulai dari pagi pukul 07.00 WIT, melakukan pencatatan tetap perhatikan proses pertumbuhan tinggi tanaman, umur berapa tanaman tersebut di pupuk, bagaimana cara pengendalian hama sehingga dapat diambil kesimpulan akhir sebagai pedoman teknologi apa yang cocok dipakai untuk jenis tanaman jagung dengan teknologi yang tepat dalam upaya meningkatkan produksi.

“Untuk hari ini kami lakukan kegiatan sebatas bagaimana pengolahan direnacanakan, minggu depan baru penanaman. Untuk tenaga  penyuluh  saat ini ada 27 orang yang terbagi di seluruh wilayah Kabupaten Mimika,” katanya.

Ia menyadari 27 tenaga PPL ini memang sangat minim sehingga tidak mencukupi melayani semua patani. Namun demikian ia berusaha  maksimalkan tenaga yang ada agar menjangkau ke semua petani.

“Kami berharap dari kelompok tani di sini 20 orang bisa saling membagi informasi kepada petani yang lain,” harap Endro.

Ia menambahkan jenis bibit jagung yang dikembangkan adalah jagung komposit, artinya bisa dikembangkan lagi berbeda dengan jagung  hibrida seperti jagung manis. Jagung komposit digunakan untuk pakan ternak namun belum cukup tersedia.

“Kita tidak menyarankan kepada petani untuk tanam jagung komposit, tidak demikian. Tetapi di mana petani menyukai yah terserah, lebih kepada peningkatan produksi dengan menggunakan teknologi aplikasi yang  ditemukan oleh petani,” katanya.

Sementara pendistribusian pupuk subsidi katanya, oleh distributor dan petani beli melalui pengecer. (a32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.