Keuskupan Timika Luncurkan Buku dan Album Alm Uskup Jhon Saklil

“Buku ini juga mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang tidak baik untuk kita benahi, buku ini juga untuk mengingatkan kita bahwa damai saja tidak cukup tapi harus ada juga sukacita, ini mau mengingatkan kepada kita bahwa damai itu harus diikuti dengan tindakan. Apa yang dulu beliau lakukan tidak habis hanya sampai di situ saja karena kita akan meneruskannya”

Foto: Santi/TimeX
LUNCURKAN – Basilius Triharyanto sebagai penerbit bersama Pastor Marthen Kuayo, Pr Administrator Diosesan Keuskupan Timika meluncurkan buka dan album Alm Uskup Jhon Philip Saklil Pr di Bobaigo, Rabu (11/9).

TIMIKA,TimeX                       

Bertepatan dengan 40 hari kepergian almarhum Mgr John Philip Saklil, Pr Uskup Keuskupan Timika, Keuskupan Timika meluncurkan buku dan album lagu almarhum sebagai bentuk penghormatan pada Rabu (11/9).

Peluncuran buku almarhum Uskup John berjudul Gereja dan Tragedi Kemanusiaan di wilayah Keuskupan Timika merupakan kumpulan pernyataan sikap dan suara di media massa dalam menyuarakan tentang konflik, kekerasan, ketidakadilan, perdamaian dan kemanusiaan di Tanah Papua berlangsung di Aula Bobaigo Keuskupan Timika Jalan Cenderawasih SP 2.

Penyerahan buku dan kaset diberikan secara simbolis oleh Basilius Triharyanto sebagai penerbit kepada Pastor Marthen Kuayo, Pr Administrator Diosesan Keuskupan Timika.

Buku ini diterbitkan oleh Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika dan Pastor Dominikus Dulione Hodo Pr selaku editor pada 2018 sebanyak 2.000 eksemplar begitupun dengan album almarhum.

Album berisi lagu-lagu ciptaan Uskup John dan dengan album berjudul Gerakan Tungku Api Keluarga yang berisikan lagu Papua Tanahku, Gerakan Tungku Api Kehidupan, Tungku Api Kehidupan, Rumah Sendiri, Dapurku Tak Berasap Lagi dan Hidup Bersatu. Ada pula album Kenangan Uskup John Philip Saklil yang berisikan 23 kumpulan lagu-lagu ciptaannya.

Pastor Marthen Kuayo, Pr Administrator Diosesan Keuskupan Timika dalam sambutan mengungkapkan bakat dan kemampuan  almarhum Uskup John punya mampu dikembangkan untuk masyarakat semua.

“Buku ini juga mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang tidak baik untuk kita benahi, buku ini juga untuk mengingatkan kita bahwa damai saja tidak cukup tapi harus ada juga sukacita, ini mau mengingatkan kepada kita bahwa damai itu harus diikuti dengan tindakan. Apa yang dulu beliau lakukan tidak habis hanya sampai di situ saja karena kita akan meneruskannya,” tutur Marthen.

Pastor Marthen mengatakan dalam 15 tahun sebagai Uskup, alm telah meletakkan dasar yang kuat dari sisi pengembangan umat, pastoral dan lain sebagainya. Dalam waktu itu beliau bisa bangun Keuskupan Timika dan dalam pembangunan gereja melibatkan masyarakat melalui ebamokai.

Foto: Santi/TimeX
MEMBACA – Seorang peserta sementara serius membaca buku alm Uskup Jhon disela-sela peluncuran buka dan album, Rabu (11/9).

Almarhum Uskup John selalu menyampaikan kepada umat membangun bukan karena orang tetapi karena diri sendiri. Ini cara untuk menguatkan apa yang dimiliki masyarakat. Selain itu, almarhum juga selalu dan senantiasa menyampaikan agar umat dapat melindungi orang yang menderita dan susah tetapi tidak cukup hanya melindungi, tetapi juga harus mengerahkan agar mereka mampu.

“Buku ini mau mendorong, menyampaikan kepada kita bahwa nilai manusia itu lebih tinggi dan mau mengingatkan kepada kita bahwa perlu dikembangkan, perlu mengangkat apa yang dimiliki,” ujarnya.

Tidak hanya itu, almarhum juga mengingatkan masyarakat untuk jangan menjual tanah karena tanah adalah hidup dan ibu. Jika melakukannya maka sama saja dengan menjual diri dan ibu sendiri.

Sementara Pastor Dominikus Dulione Hodo, Pr selaku editor buku mengatakan, dirinya mulai berpikir untuk membuat buku ini sejak masih menjadi dosen tahun 2015 dan baru bisa selesai dan diterbitkan pada tahun 2018.

“Buku ini kami buat karena banyak orang bertanya dimana suara gereja, dan saya mendeskripsikan bahwa suara gereja itu adalah kita. Jadi suara gereja bukan hanya suara uskup saja tapi suara semua orang beriman untuk menyuarakan pelanggaran-pelanggaran HAM dan kasus yang paling besar adalah kasus Koperapoka yang diceritakan secara frontal oleh uskup,” tutur Domi.

Dikatakan Pastor Domi, dengan tujuan itu supaya semua orang tahu bahwa gereja sedang bersuara dan tidak diam dalam pelanggaran HAM, ketimpangan sosial dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengusahakan kedamaian, keadilan dan keamanan terutama untuk masyarakat kecil.

“Buku ini di SKP kan dan dari 2015 kami terbitkan tahun 2018 sebanyak 2.000 buku dan kedepannya kami ingin buat biografi almarhum pada 100 harinya. Buku ini belum tersebar di toko-toko tapi baru disebarkan ke orang-orang dekat, para uskup se Indonesia dan lembaga-lembaga,” ujarnya.

Selanjutnya, Mery Saklil kakak almarhum menyampaikan testimoni dari keluarga semua ada sepuluh orang, tiga laki-laki dan tujuh perempuan, dan almarhum adalah anak ketiga dikehidupan keluarga Saklil.

“Karena beliau berada di antara perempuan beliau sangat memberikan perhatian kepada adik-adik dan beliau sebagai pengayom untuk kita semua. Kalau beliau pulang ke rumah dengan kondisi murung pasti kami tahu bahwa beliau ada banyak masalah dan kami semua berkumpul untuk menceritakan masa kecil karena dengan cerita itu bisa membuat beliau menjadi gembira,” ungkapnya. (san)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.