Kandidat Doktor Airlangga Penelitian Tentang Niat Hubungan Seks Diluar Nikah

“Yang kita namakan uji skala harga diri, antara lain pernyataan seperti mampu mengontrol tidak melakukan seks di luar nikah, lingkungan peduli karena sudah  menjaga kesucian pernikahan, tidak mampu mengontrol seks diluar nikah, dan beberapa pernyataan lain, yang turut  mendukung upaya preventif yang akan didorong setelah kegiatan ini”

Foto: Echie/TimeX
MENGISI – Warga Kampung Nawaripi khususnya perempuan Kamoro saat mengisi angket yang di Balai Kampung Nawaripi, Jumat pekan lalu.

TIMIKA,TimeX

Yosefin Maritjke Watopa, kandidat doktor Universitas Airlangga, Fakultas Psikologi  yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura, bersama kedua rekannya menjalani penelitian secara sukarela dengan mengisi angket/kuisioner melibatkan 50 korespenden perempuan asli Kamoro tentang niat berhubungan seks diluar nikah.

Jalannya pengisian angket ini berlangsung di Balai Kampung Nawaripi, Distrik Mimika Baru, Jumat pekan lalu.

Peserta koresponden dengan batasan umur  17- 35 tahun. Pesertanya memang ada yang sudah menikah juga yang belum. Hal ini dilakukan dengan melihat intensi (niat atau keinginan).

“Ini dilakukan guna mendeteksi apakah mereka yang belum menikah punya keinginan untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah atau tidak, meski sudah usia 17 tahun,” ujar Yosefin saat ditemui Timika eXpress disela-sela pembagian angket.

Yosefin memilih batasan usia 17 tahun, sebab pada tahap itu merupakan usia pubertas. Perempuan asli  suku Kamoro ini telah memiliki pengetahuan tentang seks seperti apa yang baik tentunya bisa dimengerti.

Angket yang dibagikan lanjutnya, berisi pernyataan yang hanya dijawab dengan ya atau tidak.

“Yang kita namakan uji skala harga diri, antara lain pernyataan seperti mampu mengontrol tidak melakukan seks di luar nikah, lingkungan peduli karena sudah  menjaga kesucian pernikahan, tidak mampu mengontrol seks diluar nikah, dan beberapa pernyataan lain, yang turut  mendukung upaya preventif yang akan didorong setelah kegiatan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan jumlah 50 soal diisi dengan durasi waktu 60 menit. Selain di Nawaripi kegiatan serupa di hari yang sama juga dilakukan di SP 1.

Tujuan akhir  dari  kegiatan ini katanya, adalah ingin melihat sejauh mana dinamika atau intensi untuk melakukan hubungan seks diluar nikah pada perempuan Kamoro.

“Jika sudah dapat hasil ini, kami akan merancang semacam intervensi untuk mencegah, karena tindakan preventif paling murah dan lebih baik dari tindakan akuratif,” katanya.

Rata-rata di Papua, melakukan tindakan akuratif setelah ada gejala penyakit yang muncul, atau  hal negatif lain, setelah melakukan hubungan seks diluar nikah. Seperti aborsi, penyakit kelamin, bahkan HIV-AIDS. Dan Timika oleh KPA, rata-rata hal-hal ini dikarena hubungan seks diluar nikah, bukan dengan pasangannya dan tidak menggunakan kondom.

Ia berharap melalui adanya pengisian angket ini, setidaknya peran ini tidak dilakukan, namun lebih kepada bagaimana perempuan Kamoro memiliki pengetahuan dan menghargai diri mereka melalui tujuh variabel, antara lain, bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana keluarga mendukung dan lingkungan mensupport dalam hal ini adat, agama dan budaya.

Kemudian bagaimana sikap mereka lewat bagian ini, membentuk nilai untuk dihargai atau menilai bagaimana bersikap dan memiliki norma yang positif untuk melakukan atau tidak melakukan hubungan seks.

Ia mengatakan penelitian ini sudah pernah dilakukan setahun lalu dan ini kali kedua. (a32)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.