Dua Minggu Lebih Pasca Launching, Aplikasi BRI LinkAja Mubazir

“Pembeli datang belanja masih pake uang tunai langsung. Jadi barcodenya kami simpan saja”

Foto: Echie/TimeX
MENUNJUKAN – Helena Mutiuw, penjual sagu di Pasar Sentral menujukkan barcode aplikasi BRI LinkAja, Kamis (28/11).

TIMIKA,TimeX
Hampir dua minggu lebih sejak diluncurkan oleh Johanes Rettob, Wakil Bupati Mimika pada Rabu (13/11) lalu, Pasar Sentral sebagai pasar digital pertama di Papua dengan menerapkan program belanja menggunakan aplikasi BRI LinkAja sampai saat ini terkesan ‘mubazir’, karena pembeli masih lebih memilih membayar secara tunai.
“Pembeli datang belanja masih pake uang tunai langsung. Jadi barcodenya kami simpan saja,” ujar Helena Mutiuw, penjual sagu saat ditemui di Pasar Sentral, Kamis (28/11).
Helena berpikir awalnya BRI akan memberikan bantuan untuk berjualan sehingga mereka diminta membuka rekening ternyata tidak demikian.
“Ini supaya kami menabung,” katanya.
Ia berharap BRI juga pemerintah dapat melakukan sosialisasi baik kepada masyarakat secara luas agar masyarakat mengetahui bahwa program aplikasi ini telah dapat diakses di pasar.
Hal senada disampaikan pedagang ayam. Sumber yang menolak namanya dipublis mengaku sejak dilaunching tidak ada pembeli satupun yang datang berbelanja dengan aplikasi BRI LinkAja, malah lebih memilih membayar tunai.
“Sepertinya belum banyak masyarakat paham aplikasi ini. Jadi kami juga melayani seperti biasanya,” katanya.
Ia berharap pihak bank dapat mensosialisasikan program ini lebih intens terutama kepada nasabah BRI, agar dapat mengakses aplikasi ini di pasar bukan tinggal diam saja.
Sebelumnya, Welsa Moporteyau, seorang penjual sagu asal Kamoro di Pasar Sentral mengeluhkan setelah diluncurkan Pasar Sentral sebagai pasar digital pertama di Papua belum ada pembeli menggunakan BRI LinkAja.
Welsa menyampaikan hal ini saat ditemui Timika eXpress di tempat jualannya di Pasar Sentral, Kamis (14/11).
Ia menuturkan sebelum diluncurkan pasar digital memang dirinya bersama 14 temannya sejak awal November telah didata dari BRI untuk mengikuti program BRI LinkAja. Bahkan ia mengaku senang mengikuti program ini karena langsung bisa menabung. Hanya saja diakuinya, setelah dilakukan launching kemarin, hari ini belum ada satu yang datang membeli dengan aplikasi tersebut malah masih manual.
“Yang beli masih manual, tidak tau nanti pembeli ini seperti apa, kami tidak mengerti juga, jadi kami jual seperti biasa saja,” tuturnya polos.
Hal senada juga disampaikan Aris, bahwa masih melayani pembeli secara manual.
“Kemarin saja sih waktu launcing oleh wakil bupati, sampai hari ini belum ada yang beli dengan aplikasi linkaja,” tuturnya.
Ia mengharapkan setelah launching aplikasi LinkAja, ada semacam pemberitahuan kepada masyarakat lewat spanduk yang dipasang di lokasi pasar.
Sementara seorang penjual bumbu dapur dan sayuran yang tidak mau menyebutkan namanya menyampaikan, program ini tidak cocok diterapkan di pasar, dan lebih baik di swalayan atau toko-toko besar. Ia mengaku tidak ikut terdaftar diprogram BRI LinkAja mengingat keuntungan yang didapat juga sehari hanya berkisar Rp30-100.000.
“Jika ditabung uang mana yang akan digunakan untuk modal belanja barang dagangannya,” ujarnya. (a32)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.