Pemkab akan Canangkan Noken Pengganti Kantong Plastik

“Pemerintah sudah memiliki rencana untuk penjual noken ini agar tidak lagi berjualan di pinggir jalan. Walaupun hal itu sudah dicoba namun kembali lagi, tetapi akan selalu diupayakan untuk mereka ini mendapatkan tempat jual yang layak”

Foto: Dok./TimeX
MENJUAL – Mama-mama Papua menjual tas noken hasil rajutan dari benang tekstil beragam warna di Jalan Budi Utomo beberapa waktu lalu.

TIMIKA,TimeX
Johanes Rettob, Wakil Bupati Mimika mengemukakan pada hari noken ke 8 jatuh pada Rabu 4 Desember 2019 membawa arti tersendiri, membuat pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika mulai berpikir kedepan akan mencanangkan agar noken dapat menggantikan kantong plastik untuk mengisi barang belanjaan baik di pasar maupun di toko dan supermarket.
John menyampaikan perihal ini ketika ditanya wartawan mengenai apa makna dari peringatan hari noken, setelah Indonesia memperjuangkan noken, tas rajutan khas Papua, sebagai warisan budaya dunia dalam sidang Unesco di Paris, Prancis pada 4 Desember 2012.
“Kalau di Jayapura sudah tidak berlakukan plastik lagi. Mungkin kedepan kita bisa berlakukan noken untuk mengisi belanjaan, pengganti plastik. Jadi masyarakat yang akan belanja bisa bawa nokennya sediri,” ujar John saat ditemui di Hotel Mozza, Rabu (4/12).
Orang nomor dua di Mimika ini memastikan dengan menggunakan noken pengganti plastik sebagai wadah pengisi barang belanjaan juga sebagai bentuk melestarikan budaya noken dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, noken telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UNESCO, menjadi warisan budaya tak berbenda (Intangible Cultural Heritage), pada tanggal 4 Desember 2012 silam, dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Tanah Papua karena budaya Papua mendapatkan perhatian, pengakuan sekaligus perlindungan di tingkat dunia.
Noken layak mendapatkan perhatian khusus dari Badan Dunia, tak lain karena noken bukan hanya hadir sebagai sebuah produk budaya namun juga filosofi hidup yang terkandung di dalamnya.
“Noken inikan bisa diisi sayur atau apa saja, bisa digunakan di mana saja,” katanya.
Namun tidak terlepas dari itu lanjutnya, di pedalaman-pedalam, noken masih digunakan untuk menggendong bayi.
“Di hari noken ini marilah lebih tingkatkan lagi kecintaan kita terhadap budaya kita dengan menggunakan noken dalam keseharian,” ajaknya.
Sejauh ini ujarnya, bentuk perhatian pemerintah terhadap pengrajin dan penjual noken dengan memberikan lokasi atau tempat khusus berjualan. Namun itu selalu terbentur dengan keinginan para penjual untuk tetap bertahan jualan di pinggiran jalan.
“Pemerintah sudah memiliki rencana untuk penjual noken ini agar tidak lagi berjualan di pinggir jalan. Walaupun hal itu sudah dicoba namun kembali lagi, tetapi akan selalu diupayakan untuk mereka ini mendapatkan tempat jual yang layak,” pungkasnya. (a30)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.