Mimika Bebas Malaria 2020, John: Saya Hanya Minta Tidak Ada Atlet Sakit Malaria

“Jumlah kerugian akibat hilangnya waktu kerja 3-5 hari setiap keluarga yang menderita malaria tahun 2017 sekitar Rp70 miliar sampai 170 miliar. Sedangkan tahun 2018 diperkirakan mencapai Rp50-120 miliar. Kerugian ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk layanan kesehatan, pengobatan, pencegahan dan pengendalian”

Foto: Allo Lebuan/TimeX
FOTO BERSAMA – Johanes Rettob, Wakil Bupati Mimika foto bersama peserta pertemuan lintas sektor penguatan malaria center Kabupaten Mimika usai kegiatan di Grand Tembaga Hotel, Kamis (5/12).

TIMIKA,TimeX
Kabupaten Mimika merupakan daerah endemis tinggi malaria di Provinsi Papua dengan insiden lebih dari 200 kasus setiap 1000 penduduk per tahun. Hal ini mengemuka pada pertemuan lintas sektor penguatan malaria center Kabupaten Mimika, menuju PON XX bebas malaria tahun 2020 di Grand Tembaga Hotel, Kamis (5/11). Pertemuan lintas sektor penguatan malaria center ini dibuka secara resmi oleh Johanes Rettob, Wakil Bupati Mimika.
Johanes Rettob yang juga Ketua Pusat Pengendalian Malaria Kabupaten Mimika menekankan, malaria berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan nasional.
“Saya hanya minta pada pelaksanaan PON XX tahun 2020 di Kabupaten Mimika tidak ada atlet yang sakit malaria. Ini tanggung jawab bersama baik itu pemerintah, maupun Malaria Control,” tegas John.
Menurutnya, kesakitan karena malaria akan menyebabkan kerugian ekonomi, menurunnya produktifitas penduduk secara ekonomi.
“Jumlah kerugian akibat hilangnya waktu kerja 3-5 hari setiap keluarga yang menderita malaria tahun 2017 sekitar Rp70 miliar sampai 170 miliar. Sedangkan tahun 2018 diperkirakan mencapai Rp50-120 miliar. Kerugian ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk layanan kesehatan, pengobatan, pencegahan dan pengendalian,” jelasnya.
Anak dan ibu hamil ujarnya, merupakan kelompok yang sangat rentan juga terkena dampak langsung terhadap kesakitan malaria. Tahun 2017 dan 2018 presentase kasus pada anak dan ibu hamil mencapai 35 persen dari total kasus malaria di Mimika.
“Malaria menyebabkan kematian dan gangguan pertumbuhan sejak masih janin. Malaria juga menghambat perkembangan anak termasuk fungsi kognisi dikarenakan anemia, kronis, kerusakan otak dan ketidakhadiran anak di sekolah menjadi penghambat kualitas sumber daya manusia,” jelasnya.
Besarnya dampak disebabkan oleh malaria, maka diperlukan upaya serius menanggulanginya. Di Indonesia eliminasi malaria telah menjadi komitmen nasional dengan target selambatnya pada tahun 2030 seluruh provinsi termasuk Papua telah bebas dari malaria. Hal tersebut merupakan komitmen global yang tercantum dalam indikator (Sustainable Development Goal’s (SDG’s). Program eliminasi malaria harus bersifat gerakan konsisten dan memiliki sasaran yang jelas dengan melibatkan seluruh komponen masayarakat. (ale)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.