Natal, GKP Jemaat Timika Kenakan Pakaian Adat

Foto: Linda/TimeX
IBADAH – Suasana perayaan Natal GKP Jemaat Timika, Jalan Sam Ratulangi, Sempan, Jumat (13/12).

TIMIKA,TimeX
Gereja Kerapatan Pantekosta (GKP) Jemaat Timika, menggelar natal jemaat, yang berlangsung Jumat (13/12), dihadiri ribuan jemaat beserta keluarga, para undangan dengan menghadirkan pembicara Pdt Daniel Attalo, STh, asal Bandung.
Tema natal kali ini sesuai dengan tema Nasional, “Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang”.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jemaat GKP Timika merayakan natal dengan meriah. Namun yang berbeda kali ini, para majelis dan pelayan jemaat tampil dengan balutan pakaian adat dari sejumlah daerah.
Tema busana ini mengacu pada tema nasional, dimana Jemaat GKP Timika mencoba menunjukkan bagaimana adat, suku bangsa dan warna kulit, tidak menjadi batas dalam bingkai Negara Kesatuan RI dan menjadi sahabat untuk siapa saja. Gereja hadir sebagai pemersatu seluruh umat, meski berbeda bahasa, adat dan istiadat namun setiap orang bisa menjadi sahabat, bergandengan tangan di dalam Tuhan.
Natal bertambah meriah dengan penampilan puji-pujian, paduan suara dari GKP Jemaat Timika, GKP Jemaat Petra, dan penampilan atraksi banners.
Pantauan Timika eXpress, natal yang dimulai sekitar pukul 18.30WIT itu, sudah dipadati jemaat yang berdatangan dari sejumlah rayon bersama undangan. Pujian dipimpin Naomy Lessy dan Alvin Palungan.
Ibadah diawali acara pembukaan dengan penyembahan, dilanjutkan puji-pujian, kemudian penyalaan lilin yang diiringi nyanyian Malam Kudus, dan dilakukan penyalaan lilin Natal oleh sejumlah perwakilan secara berturut-turut, dimulai dari Pdt Daniel Attalo, Pdt Semuel Datulalong selaku Gembala GKP Jemaat Timika, menyusul Petrus Pali Ambaa, Ketua Majelis GKP, perwakilan kaum wanita, kaum pria, pemuda dan undangan.
Melalui momen natal tersebut juga dilakukan penyerahan bingkisan natal, kepada Pdt Daniel Attalo, yang diserahkan oleh Pdt Semual Datulalong, Gembala Jemaat. Ibadah natal diakhiri dengan jamuan kasih bersama.
Pdt Daniel Attalo, dalam khotba natal, menyampaikan sejumlah pesan, terkait dengan tema sentral natal yang diangkat oleh Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia.
Dikatakan, tema yang cukup sempurna ini mestinya direnungan di hati dan batin kita masing untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Sang Mesias Juruselamat kita.
Tema ini memiliki pesan dan makna yang terdalam karena situasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini yang penuh dengan dinamika, bahkan oleh persaingan dan konflik yang tak pernah padam.
Untuk memaknai tema dalam kehidupan Kristen lanjutnya, bagaimana menjadi sahabat bagi setiap orang dimana saja kita berada. Mewujudkan dengan sungguh-sungguh arti dari sahabat. Seorang sahabat akan ada bersama-sama dalam keadaan apapun.
“Kenyataannya, ketika ada seseorang yang susah, maka orang-orang akan menjauhinya. Sebagai wujud kasih seharusnya kita mendampingi mereka yang dalam kesusahan,” katanya.
Menurutnya, situasi dunia saat ini mengalami krisis kasih, perceraian ada di mana-mana, kejahatan dan banyak lagi. Oleh karena kasih Allah melalui natal, maka jadilah terang dan garam dunia.
“Mari kita bagikan mengasihi setiap orang disaat kondisi negera saat ini mari berbuat kasih bagi banyak orang supaya mereka bisa melihat Yesus di dalam kita,” pesannya.
Ia juga berpesan kepada jemaat untuk terus berbuat baik selagi ada kesempatan, berbuat baiklah kepada semua, kepada orang-orang susah.
“Karena ketika kita berbuat kebaikan maka kebaikan juga akan datang pada kita,” katanya.
Sementara itu pada pesan dan kesan Natal, Ketua GPDI Kabupaten Mimika, mewakili seluruh Gereja Pantekos di Timika menyampaikan, Gereja di Papua merupakan salah satu pilar selain pemerintah dan adat istiadat.
“Kehadiran Gereja tidak mencari musuh tetapi mencari sahabat, dan memang tema ini adalah kebutuhan bangsa kita saat ini. Terjadi konflik antar sesama anak bangsa karena adanya kepentingan kelompok, kecurigaan antara sesama anak bangsa,” katanya.
Karena itu pimpinan Gereja pusat merasa perlu memilih tema menjadi sahabat bagi semua orang, karena sesuai dengan kebutuhan bangsa dan Gereja.
“Perlu diingat bahwa Gereja menjadi garam dan terang dunia, penting sekali untuk membuat solusi bukan tambah masalah, sehingga tema ini adalah tema yang luar biasa, kasih itu sesuatu yang perlu kita miliki dalam hidup sebagaimana Tuhan, maka Gereja Pantekostas di Timika, dimana saja kita hadir menjadi sahabat bagi sesama,” pungkasnya. (ozy)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.