Lagi, Bus Freeport Jadi Sasaran Tembak OTK

Foto: Ist/TimeX
TINJAU-AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, Kapolres Mimika (kiri) dan Irjen Paulus Waterpauw, Kapolda Papua (dua dari kiri), saat meninjau lokasi penembakan di mile 53 Tembagapura, Senin (13/1).

TIMIKA,TimeX

Bus Karyawan Freeport Indonesia lagi-lagi menjadi sasaran tembak oleh Orang Tak Dikenal (OTK), di wilayah Tembagapura, tepatnya di mile 53 Senin (13/1) sekitar pukul 08.43 WIT.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun dua unit bus dengan nomor lambung 140487 dan 140419 yang hendak turun ke Timika itu, terkena tembakan pada kaca sebelah kiri.

Usai insiden tersebut, Irjen Paulus Waterpauw, Kapolda Papua bersama AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, Kapolres Mimika dan tim langsung meninjau lokasi penembakan, setelah melakukan apel di Mako Brimob Bataliyon B Satbrimob Polda Papua, di Jalan Agimuga, Mile 32, Senin (13/1).

“Kami baru selesai olah TKP, kejadian pukul 08.40 WIT dan awalnya kami sedang evaluasi di markas Brimob Bataliyon B Polda Papua di Timika. Kami mendapatkan informasi dan langsung mengecek ke lokasi,” kata Kapolda.

Ia mengungkapkan dalam olah TKP tersebut ditemukan beberapa selongsong peluru dan patahan pohon yang selanjutnya ditelurusi oleh tim namun tampaknya pelaku berlari ke arah kali kabur.

“Kami bersyukur, dalam insiden tersebut laporan awal tidak ada korban hanya mengenai dua bus karyawan PTFI. Dan tim sementara mengumpulkan peluru,” ujar Kapolda.

Menurutnya, dugaan sementara yang berada di area PTFI hingga kali kopi terdapat tiga kelompok dan mengarah ke kelompok inisial JB. Kelompok ini sering melakukan berbagai penembakan di sekitar mile 50 ke atas hingga sekitar mile 38-50 PTFI untuk bersihkan area 100 meter ke kanan dan ke kiri.

“Sejauh ini tidak ada lagi kejadian itu karena tampaknya mereka sudah naik ke ketinggian,” tambahnya.

Lanjut Kapolda, hal ini akan menjadi konsen kepada Polri agar kedepan melakukan sinergitas kepada Satgas dan manajemen Freeport bagaimana mengamankan jalur utama Tembagapura-Timika.

Kapolda mengakui, pihaknya tidak bisa menangkap kelompok tersebut dikarenakan ada beberapa hal, seperti lokasi yang agak curam dan medannya yang berat sehingga anggota tidak bisa masuk ke area.

Namun pihaknya telah mengantongi data dan memetakan untuk memonitor posisi mereka yang sering digunakan. Hanya saja, mereka juga sering menggunakan tameng seperti kaum perempuan bahkan anak-anak.

Dengan begitu, kata Paulus, pihaknya sedikit sulit melakukan penegakan hukum.

“Kami berharap bisa menemukan cara lain untuk bisa melumpuhkan mereka. Dan kami harap masyarakat bisa bekerja sama dengan kami,” tambahnya. (aro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.