Tim Kesehatan PON Terapkan Standar Asean Games-Asian Games

“Kami punya tim ini sudah ada. Kami tidak kerja sendiri tapi semua organisasi profesi kami libatkan. Misalnya Ikantan Dokter Indonesia (IDI), Persagi, Ikatan Dokter Gigi (IDG). Mengapa IDG pennting? Karena sesuai hasil evaluasi tim kesehatan PON dan Asean Games bahwa atlet paling banyak mengalami sakit gigi”

Foto: Dok./TimeX
TERSENYUM – Para perawat tersenyum gembira saat difoto ditengah mengikuti acara ulang tahun PPNI ke 45 di Graha Eme Neme Yauware pada 17 Maret 2019 lalu.

TIMIKA,TimeX
Tim kesehatan untuk PON XX pada tahun 2020 ini Dinas Kesehatan mempunyai standar pelayanan Asean Games dan Asian Games.
“Itu sudah kami lakukan. Struktur siapa saja yang nantinya bergabung tidak saja tenaga kesehatan melainkan melibatkan Puskesmas akreditasi, Rumah Sakit akreditasi. Ini menjadi salah satu syarat penting Mimika sebagai salah satu tuan rumah siap selenggarakan PON XX,” jelas Reynold Ubra, Plt yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika kepada Timika eXpress di ruang kerjanya pekan lalu.
Ia menyebutkankan, RSUD dan Puskesmas sudah akreditasi dan RSMM sementara diusulkan diakreditasi.
“Dari sisi tenaga dan faskes kami sudah siap. Dan kami tidak sendiri dalam sukseskan agena nasional ini,” tuturnya.
Mendukung Dinas Kesehatan Mimika ujarnya, akan mendapat bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang rencananya di triwulan pertama sebelum PON dihelat Tim Kemenkes dan Dinkes Papua datang melatih tenaga kesehatan Mimika.
Ia menjelaskan ada empat standar menurut Olympic Council of Asia (OCA) yang sudah tentukan dan rapatkan. Pertama, bidang pelayanan kesehatan. Khusus untuk pelayanan kesehatan dasar baik yang di venue nanti ada tiga tim yakni medical station, medical center serta di tempat penginapan atlet ada poliklinik yang standby 1×24 jam.
Melancarkan PON Dinas Kesehatan membutuhkan kurang lebih 400 tenaga. Kemudian bidang keselamatan dan keamanan pangan, pihaknya ada kerjasama dengan Loka POM Timika, ada ahli gizi, organisasi profesi juga dilibatkan. Dan ada bidang surveilans. Bidang ini penting jangan sampai ada atlet mengalami malaria dan diare.
Selanjutnya bidang promosi kesehatan. Bidang ini melibatkan media dan Orari.
“Kami punya tim ini sudah ada. Kami tidak kerja sendiri tapi semua organisasi profesi kami libatkan. Misalnya Ikantan Dokter Indonesia (IDI), Persagi, Ikatan Dokter Gigi (IDG). Mengapa IDG pennting? Karena sesuai hasil evaluasi tim kesehatan PON dan Asean Games bahwa atlet paling banyak mengalami sakit gigi,” jelasnya.
Selain itu katanya, satu hal juga disiapkan bahkan sekarang sudah ada dokter kejiwaan. Sebab atlet biasanya mengalami stres karena dalam pikirannya harus bawa pulang emas ke daerahnya. (tio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.