Umat Katolik jadi Pembawa Pesan Keselamatan

“Hidup menjadi pewarta, petugas gereja itu merupakan satu hidup kesaksian iman yang baik, kesaksian iman yang hidup mengandaikan kita percaya akan satu kekuatan yang datang dari luar diri kita yang begitu dahsat. Lalu dari pengalaman hidup ini maka kita membagikan kepada orang lain. Maka supaya kesaksian kita dipercayai orang lain atau kesaksian iman berpengaruh kuat kepada yang lain pertama-tama kita musti mengenal dulu siapa Allah”

Foto: Google
Gereja Katedral Tiga Raja Timika.

TIMIKA,TimeX
RD Oktovianus Paena, pastor rekan Paroki Gereja Katedral Tiga Raja dalam homilinya pada Hari Minggu Pekan Biasa II, menekankan umat Katolik menjadi pembawa pesan keselamatan bagi banyak orang. Menjadi pewarta Sabda Allah pertama-tama harus menimba kekuatan dan membangun persahabatan dengan Allah sendiri. “Ada yang diutus dan ada yang mengutus. Kita semua diajarkan oleh Sabda Tuhan hari ini untuk menjadi utusan Allah. Menjadi pewarta Sabda Allah tentu pertama-tama harus menimba kekuatan dan bangun persahabatan dengan Allah sendiri,” ujar RD Okto di hadapan umat Katolik Tiga Raja pada misa kedua pada Minggu (19/1).
Selain itu, ia ingatkan sebagai orang Katolik dalam pewartaan terlebih dahulu harus mengenal siapa dirinya dan siapa Allah. Ini supaya agar apa yang nanti disampaikan, apa yang diwartakan bisa dipercaya dan didengar oleh pendengar atau orang lain.
“Hidup menjadi pewarta, petugas gereja itu merupakan satu hidup kesaksian iman yang baik, kesaksian iman yang hidup mengandaikan kita percaya akan satu kekuatan yang datang dari luar diri kita yang begitu dahsat. Lalu dari pengalaman hidup ini maka kita membagikan kepada orang lain. Maka supaya kesaksian kita dipercayai orang lain atau kesaksian iman berpengaruh kuat kepada yang lain pertama-tama kita musti mengenal dulu siapa Allah,” paparnya.
Dalam bacaan pertama ujarnya, diperdengarkan dengar seorang tokoh atau figur yang dipilih dan diangkat oleh Allah sendiri sejak masih dalam kandungan ibunya, yakni Yesaya. Pemilihan dan pengangkatan Nabi Yesaya dilangsungkan untuk melaksanakan seutuhnya misi perutusan Allah yang bersifat universal. Perutusan Allah universal ini ujarnya, bagi Nabi Yesaya untuk bangsa Israel melainkan bagi semua bangsa-bangsa lain.
“Perutusan Yesaya penting bagi kita. Bahwa bukan saja menyelamatkan bangsanya sendiri yakni Israel semata, tetapi bagi bangsa lain juga. Kesaksian iman seperti Nabi Yesaya ini dilaksanakan oleh orang-orang beriman di zamannya. Misalnya, mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II.
“Pada masa setelah Konsili Vatikan ke II, gereja Katolik mulai membuka diri dan mau menerima serta merangkul mereka yang berbeda iman dengan kita, bahwa keselamatan itu bukan saja milik orang Katolik saja tetapi di luar gereja ada juga keselamatan,” katanya.
Usaha ini bukan hanya sebatas itu. Tapi Paus Yohanes Paulus II turut ambil bagian dalam aksi perdamaian dunia lewat kunjungannya ke berbagai negara dengan basisnya ke sanak saudara-saudari muslim. Paus datang ke sana. Melalui tugas perutusan itulah ada dialog dan tampilkan kesaksian iman dan paling penting semua itu membangun relasi yang baik dengan siapa saja terutama segala suku bangsa.
“Tentu masih banyak tokoh yang kita jumpai dalam hidup saat ini. Terutama dalam perutusan untuk menyelamatkan banyak orang. Namun perlu kita sadari bahwa tidak semua orang di dunia ini orang baik, yang melaksanakan tugas dan panggilannya dengan motivasi dan hati yang tulus. Bunyinya memang untuk melayani semua orang, tapi ada motivasi atau niat khusus lain. Kata pepatah bilang ‘ada udang di balik batu’. Dalam hati orang kita tidak tahu. Maka melalui tema perutusan ini saya mengajak kita semua merefleksikan hati kita masing-masing baik sebagai pengurus kombas, ibu rumah tangga tukang ojek, kita berkorban menjadi pembawa pesan keselamatan bagi banya orang tidak hanya kepada mereka seagama dengan kita. Bukan juga hanya sesuku atau sepaham dengan kita, melainkan kepada siapa saja yang dijumpai,” paparnya.
Sebagai orang Katolik pesannya, ingatlah bahwa dalam diri Yesus yang hari ini dalam Injil Yohanes diperkenalkan, Yesus Putera Allah Anak Domba Allah. Ia datang untuk menghapus dosa-dosa dunia bukan hanya untuk segelintir orang. Hal ini seperti tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama bahwa Sang Mesias akan dihukum dan dibawa ke dalam pembantaian untuk membawa keselamatan manusia. Ia menebus dosa umat manusia dibayar dengan darah-Nya dan dipaku di kayu salib. (antonius djuma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.