Lima Sekolah Terima Piagam Bintang Keamanan Pangan Kantin Sekolah

“Tapi sampai saat ini belum ada yang kita dapatkan. Kalau ikan mengandung pengawet itu pernah kami temukan saat pengawasan pada ikan kering kecil di Biak dulu”


Foto: Dok./TimeX
Heryanto Baan

TIMIKA,TimeX
Pada tahun 2019 lalu ada lima sekolah tingkat SD dan SMP menerima Piagam Bintang Keamanan Pangan Kantin Sekolah (PBKPKS) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kabupaten Mimika.
Demikian disampaikan Kepala Kantor BPOM Mimika Hariyanto Baan kepada Timika eXpress di ruang kerjanya belum lama ini.
Ia menyebutkan sekolah yang telah diaudit untuk mendapatkan Piagam Bintang Keamanan Pangan Kanton Sekolah ada 21 sekolah, namun yang telah menerima piagam ini baru lima, yakni SD Inpres Timika 2, SD Kristen Kalam Kudus Timika, SD Cordova Papua, SMP Yapis Timika dan SDIT Permata Papua.
Selain mendapat piagam, dari lima sekolah ini ada satu sekolah, yakni SD Inpres Timika 2 dalam lomba tingkat Provinsi Papua keluar sebagai juara tiga.
Heryanto mengatakan sekolah penerima piagam ini setelah melewati tahapan proses penilaian kelayakan dari petugas BPOM Timika mulai dari kebersihan lingkungan dan penataan makanan serta syarat-syarat lain.
Ia mengaku selain mendampingi pengelolaan kantin juga memberikan sosialisasi kepada pihak sekolah dan orangtua bahwa ikut menjaga kebersihan pangan sangat penting demi kesehatan. Bahkan ada pihak sekolah dan orangtua yang minta supaya perlu memberikan tambahan materi sosialisasi.
Ia menambahkan pada kegiatan itu juga diingatkan supaya konsumen sebelum membeli produk pangan atau obat harus terlebih dahulu perhatikan ijin edar, lebelnya serta kemasan dan tanggal masa berlakunya.
Mengenai produk pangan yang beredar di Timika selama ini, pihaknya bersama Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Perikanan sudah turun menyisir termasuk ikan yang dijual pedagang. Setelah dites sampelnya memang sampai saat ini belum ditemukan bahan pengawet pada prodak maupun ikan yang beredar di Timika.
“Menjelang Bulan Ramadhan tahun lalu juga pernah kami uji sampel terhadap tajir yang dijual menggunakan teskip (alat untuk mendeteksi apakah produk pangan tersebut mengandung bahan berbahaya atau tidak secara cepat). Alat ini namanya repites. Saat itu juga langsung lihat hasilnya. Jadi semua produk pangan baik berwarna maupun tidak warna termasuk es sampai sekarang belum ada mengandung bahan pengawet,” paparnya.
Ia mengatakan untuk sementara boleh dibilang Mimika masih aman dari bahan pengawet tetapi bukan berarti mengendorkan semangat pengawasan.
“Sebenarnya pengawasan ikan tupoksi Dinas Perikanan, sementara daging Dinas Peternakan tetapi kami bekerja bersama-sama, karena BPOM yang punya alat maka ikut bersinergi,” katanya.
Heryianto menjelaskan ciri-ciri untuk pangan jajan yang mengandung pewarna rhodamin B dan methanil yellow warnanya ngejreng dan merah sekali. Itu hati-hati. Sementara bakso cirinya mengandung formalin atau pengawet dagingnya kenyal, dibiarkan selama tujuh hari di ruang terbuka tidak busuk dan lalat tidak hinggap.
“Tapi sampai saat ini belum ada yang kita dapatkan. Kalau ikan mengandung pengawet itu pernah kami temukan saat pengawasan pada ikan kering kecil di Biak dulu,” katanya.
Dampak dari bahan pengawet atau formalin pada makanan yang dimakan katanya, jaringan organ tubuh bisa rusak, memang tidak langsung dirasakan setelah konsumsi melainkan dalam jangka waktu lama, misalnya kerusakan pada ginjal.
Sejauh ini ujarnya, BPOM tidak hanya pengawasan semata, tetapi juga sampling. Sampelnya diambil kemudian dikirim ke BPOM Jayapura untuk dites. Kalau hasil memenuhi syarat tidak disampaikan kepada penjual, jika tidak penuhi syarat kesehatan, maka penjualnya diberikan peringatan dan bertanya barang ini didatangkan dari mana. Jika masih ada prodaknya maka disita untuk dimusnahkan. (tio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.