Penyakit ND pada Unggas Sudah Terkendali

 “Kalau bebek sama entok kelompok unggas bisa lebih tahan terhadap penyakit. Yang rutin vaksin setiap bulan ayam, baik skala rumah tangga maupun komersil, jika tidak meskipun sebelumnya terlihat sehat atau segar, kaget sudah mati. Itu biasanya dialami oleh ternak ayam aduan. Ini wajib vaksin sebab penyakitnya sudah ada mulai dari kota maupun di SP-SP. Bibit penyakt ND itu memang sudah ada. Selama ini mungkin tidak terkena karena dari awal sudah divaksin”

Foto: Antonius Djuma/TimeX
drh. Bakti Erma Surfami

TIMIKA,TimeX
Penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit menular akut yang menyerang ayam dan jenis unggas lainnya untuk di Kabupaten Mimika sudah terkendali. Penyakit unggas itu dapat dipilah. Di Timika sudah ada ternak ayam pedaging, petelur dan ayam kampung super. Sekarang ternak secara komersil. Namun ada juga ternak unggas secara rumah tangga, itu ada ayam kampung, bebek dan entok.
Demikian disampaikan drh. Bakti Erma Surfami, Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Rabu (12/2).
Menurutnya, penyakit unggas sebetulnya hampir sama, karena mereka masuk dalam kelompok ternak unggas. Hanya saja membedakan bahwa pada jenis penyakitnya. Ini lebih banyak dan itu lebih sedikit. Contoh pada ayam petelur lebih banyak alami sakit dan penyakit, karena jangka waktu hidupnya lebih lama. Sehingga obat vaksin yang dibutuhkan akan berbeda. Sementara usia ayam potong (broiler) dalam sebulan sudah bisa dipanen. Maka relatif lebih sederhana. Kemudian pada ayam kampug super usia hidupnya lebih lama sekitar 65 atau sampai 90 daripada ayam potong. Penyakitnya hampir sama, cuma ayam kempung super lebih banyak dari ayam potong, tapi lebih sedikit dari ayam petelur. Semuanya bergantung pada lama waktu hidupnya. Semakin lama hidupnya otomatis perlu di-mantainance. Ada obat atau vaksi yang masuk dalam tubuh unggas untuk meningkatkan kekebalan daya tahan tubuhnya. Sedangkan pada ayam kampung dipelihara skala rumah tangga, termasuk bebek penyakitnya sangat sederhana. Paling butuh vaksin ND. Masih kecil biasanya lewat tetes pada mata atau lewat mulut. Sudah besar bisa injeksi atau suntik atau lewat air minum.
“Kalau bebek sama entok kelompok unggas bisa lebih tahan terhadap penyakit. Yang rutin vaksin setiap bulan ayam, baik skala rumah tangga maupun komersil, jika tidak meskipun sebelumnya terlihat sehat atau segar, kaget sudah mati. Itu biasanya dialami oleh ternak ayam aduan. Ini wajib vaksin sebab penyakitnya sudah ada mulai dari kota maupun di SP-SP. Bibit penyakt ND itu memang sudah ada. Selama ini mungkin tidak terkena karena dari awal sudah divaksin,” paparnya.
Ia mengatakan jika ternak mengalami penyakit ND itu sangat merugikan peternak sendiri. Mencegahnya dengan vaksin. Harganya sangat murah dan rata-rata peternak komersil pada dasarnya sudah tahu. Vaksin ini wajib mulai empat hari umur DOC. Ada jadwal pemberian vaksin baik ayam petelur maupun pedaging serta ayam kampung. Tapi ayam kampung untuk rumah tangga setelah empat hari dan sudah dewasa biasanya dua bulan sekali. Jika tidak nanti tiba-tiba mati.
Ia menambahkan, untuk program vaksin dari Disnak-Keswan ada pemberian vaksin, namun tidak kompleks hanya dua kali setahun, maka sangat tidak mencukupi. Layanan vaksin ini hanya sifatnya rumah tangga bukan komersil. Umumnya ternak komersil sudah mandiri bisa beli sendiri, sebab masuk kategori bisnis. Disnak hanya bertugas memberi penjelasan harus mengikuti aturan yang tepat.
Menurutnya, dengan setahun hanya dua kali pelayanan vaksin, maka diharapkan peternak rumah tangga bisa menambah vaksinnya sendiri. Dan untuk peternak skala rumah tangga dengan jumlah 500 bibit juga sudah mandiri.
Sejauh ini ujarnya, jarang warga mengadu ternak unggasnya mati. Ini karena penyakit ND sudah terkendali. Yang belum terkendali itu ayam petelur, pedaging dan ayam kampung, kadang muncul ngorok dan pilek. Ini bukan virus melainkan penyebabnya faktor bakteri di mana kebersihan kandang kurang. Kotorannya mengandung amonia bisa menyerang pernapasan.
Ia menambahkan, sekarang dijaga oleh Disnak-Keswan itu flu burung. Penyakit ini tidak bisa ditolerir sebab menyangkut pengawasan konsennya pada flu burung. Sejauh ini memang ada satu atau dua keluhan, tetapi ketika dicek bukan flu burung ternyata penyebabnya lain. Suatu penyakit tanda dan gejala yang muncul hampir sama. Contohnya, ayam banyak mati itu belum tentu flu burung, bisa juga penyakit ND atau penyakit ngorok.
“Kita orang dinas sangat waspada flu burung, karena dia selain sifatnya menular kepada manusia, ada juga secara ekonomi justru sangat merugikan. Apalagi Timika sekarang sudah masuk swasembada telur. Artinya semangat peternak di Timika cukup tinggi,” jelasnya.
Dikatakan, dinas hadir untuk menjaga situasi dan kondisi penyakit flu burung tidak boleh ada di sini. Pengawasan tetap tiap tahun. Tapi kembali lihat kondisi dan laporan masyarakat.
Untuk tahun ini ujarnya, Disnak-Keswan lebih konsen pada peternak besar. Suatu peternak dalam satu kandang dengan populasinya banyak risikonya makin tinggi. Sekarang lagi siapkan konsepnya terutama untuk peternak Yayasan Jayasakti Mandiri di Kampung Utikini. Dalam Sidak sebelumnya ditemukan jumlah populasinya banyak, sistem manajemen kandangnya ditemukan belum baik. Karena pekerjanya masih ada keluar masuk begitu bebas. Itu risiko.
“Tidak tahu datang dari mana tiba-tiba masuk kandang. Pengamanan kandangnya dianggap belum baik. Sebenarnya sekelas dia hal itu sangat diperhatikan. Tapi kenyataan setiap kendaraan atau orang yang keluar harus disemprot ternyata tidak,” jelasnya.
Dalam Sidak itu katanya, banyak hal ditemukan untuk diperbaiki. “Sekarang saya lagi buat konsep dan kemungkinan dalam bulan ini diserahkan ke ibu kadis untuk ditandatangan kemudian diserah ke pimpinannya supaya diperbaiki,” katanya.
Sekelas dia katanya, seharusnya sudah memiliki status bebas kompartemen. Arti dari kandang Departemen Pertanian mengatakan bebas penyakit.
“Lagi pula sekelas dia harus ikut aturan lebih ketat dibanding peternak dengan populasi 500 ekor. Meskipun tidak mengabaikan aturan bagi peternak dalam jumlah 500-2000 ekor,” katanya.
Dikatakan, lebih baik mengantisipasi jangan sampai sudah terjadi baru sadar. Karena rata-rata peternak ini awalnya orang awam. “Bagi kami prinsip-prinsip ini tidak boleh lewat. Biasanya kita kasih masukan,” pungkasnya. (tio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.