PLTMG Pomako Dioperasikan

“Kalau memang tidak ada gangguan berarti aman saja. Dengan operasikan 10 mega watt, kemudian gabung dari PLTD 30 mega waat maka daya kita menjadi 40 mega watt”

Foto: Antonius Djuma/TimeX
Hotman Ambarita

TIMIKA,TimeX
Pembangkit Listrik Tenaga Minyak Gas (PLTG) Pomako berkapasitas 10 MW mulai dioperasikan pada hari ini, Sabtu (14/2).
“Kami sudah buat surat dan pengumuman ke masyarakat lewat radio, Pemda, TNI-Polri. Besok Sabtu, kami mau sinkronisasi jaringan dari 10 mega watt dari PLTMG Pomako dengan PLTD,” jelas Hotman Ambarita, Manajer UP3 PLN Timika saat ditemui Timika eXpress di ruang kerjanya, Jumat (14/2).
Ia mengatakan pengumuman ini supaya masyarakat tahu sebab dalam sinkronisasi aliran biasa terjadi gangguan hingga pemadaman namun tidak mengganggu alat elektonik rumah tangga, kecuali terjadi tegangan naik.
“Sudah koordinas terus secara internal supaya besok siap, dengan stand by di titik-titik guna manuver jika terjadi pemadaman,” katanya.
Sinkronisasi ini ujarnya, berlanjut sampai akhir Februari. “Kalau memang tidak ada gangguan berarti aman saja. Dengan operasikan 10 mega watt, kemudian gabung dari PLTD 30 mega waat maka daya kita menjadi 40 mega watt,” katanya.
Ia membenarkan percepat sinkronisasi ke dua jaringan ini memang ada kaitan dalam mendukung Pesparawi dan PON XX. Namun, ia tegaskan meskipun tanpa kedua ivent besar ini UP3 PLN Timika tetap lanjutkan, sebab ini sudah menjadi program pemerintah dalam mengikuti irama perkembangan daerah. Jadi rencananya untuk di PLTMG akan terpasang tambah 50 mega watt lagi, terlaksana pada tahun 2021 mendatang.
Menurutnya, dengan penambahan 10 mega watt ini, maka cadangan listrik menjadi 13 mega watt. Untuk target penambahan pelanggan baru tahun 2020, ia belum mengetahui secara pasti sambil menunggu hasil rapat kerja (Raker) yang dijadwalkan pada pekan depan di Jayapura.
“Jadi biasanya jatahnya kami tinggi-tinggi. Khusus di Timika jarang tercapai target, karena selalu diberi tinggi. Tahun 2019 ada 6000 ribu pelanggan yang diberikan, namun baru tercapai 4000 lebih,” ujarnya.
Dikatakan, dengan ada penggabungan jaringan ini maka biasa operasionalnya makin tinggi pula. Untuk PLTD saja dalam setahun biaya operasional cukup besar dua kali lipat dari penjualan. Sekarang Harga Pokok Produksi (HPP) 3.293 per Kwh. Sementara yang bisa PLN jual kepada pelanggan 1.353 per Kwh. “Namanya pelayanan PLN tidak lihat untung rugi, tapi lebih pada agar semua masyarakat menikmati listrik,” tuturnya.
Tingginya biaya ini, ujarnya karena biaya BBM cukup besar. Sehari saja PLTD Timika habiskan 155 ton permalam menggunakan BBM industri.
Bisa dihitung harga perliter Rp9000. Maka semalam sudah gelontorkan Rp1,3 miliar lebih dan dalam sebulan mencapai Rp41 miliar lebih. Tingginya anggaran BBM ini belum termasuk biaya pelumas dan distribusi maupun gaji.
Ia menambahkan, pelanggan PLN Timika sekarang ada 63.123. Dari jumlah ini 4000-an pelanggan masih menggunakan meteran lama, yakni di kantor-kantor pemerintah, TNI-Polri dengan sistem pembayaran melalui bendahara. Meskipun sudah alihkan ke prabayar tetapi pencurian arus masih saja terjadi. Dengan meteran prabayar ini ujarnya, ada keuntungan bagi pelanggan bisa lebih hemat, terkontrol dan tidak ada lagi alasan salah catat meter daripada dulu serta tidak ada lagi pemutusan. (tio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.