Masyarakat Tiga Distrik Mendapat Sosialisasi UU 35 Tahun 2014

“Kita sampaikan kepada orangtua supaya wajib penuhi kebutuhan dasar pendidikan anak dan melarang membawa anak untuk ikut pencari ikan dan pegur sagu di hutan. Jadi orangtua dukung pendidikan anak maka setiap anak sudah usia pas masuk sekolah harus bawa mendaftar anak di sekolah”

Foto: Dok./TimeX
Andareas Nauw

TIMIKA,TimeX
Masyarakat tiga distrik yaitu Distrik Mimika Barat, Mimika Tengah dan Distrik Mimika Timur Jauh mendapat sosialisasi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada pekan lalu secara terpisah. Sosialisasi ini digagas oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika dengan menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Mimika.
Demikian disampaikan Andareas Nauw, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Perlindungan Anak DP3APPKB saat ditemui Timika eXpress di kediamannya di Jalan Budi Utomo, Sabtu (15/2).
Ia menjelaskan dalam sosialisasi ini yang disoroti soal orangtua lebih memperhatikan hak dasar anak dalam mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan itu diwajibkan oleh undang-undang setiap warga negara punya hak yang sama peroleh pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi.
Jelaskan wilayah di Distrik Mimika Barat-Kokonao sosialisasinya berlangsung di Kampung Aparuka. Distrik Mimika Tengah di Atuka dan Distrik Mimika Timur Jauh di Kampung Manasari melibatkan Kampung Omawita dan Fanamo.
“Kita sampaikan kepada orangtua supaya wajib penuhi kebutuhan dasar pendidikan anak dan melarang membawa anak untuk ikut pencari ikan dan pegur sagu di hutan. Jadi orangtua dukung pendidikan anak maka setiap anak sudah usia pas masuk sekolah harus bawa mendaftar anak di sekolah,” jelasnya.
Ia mengatakan kenapa sosialisasi ini sasaran di pesisir? Karena hampir sebagian besar anak-anak usia sekolah di sana banyak tidak sekolah. Anak-anak lebih banyak dibawa orangtuanya ke pantai menangkap ikan dan pagur sagu, sehingga kebiasaan itu yang sudah lama berlangsung harus dihentikan mengingat pendidikan ini penting untuk masa depan anak.
Undang-undang ini memberikan ketegasan jika ada orangtua yang lalai mengantar anaknya masuk sekolah maka bisa dikenakan sanksi hukum.
Antusias dari masyarakat ujarnya, sangat luar biasa. Bahkan mereka sendiri mengakui salah selama ini telah membawa anak mereka ke pantai dan ke hutan pagur sagu. “Ini sebenarnya kegiatan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika hanya mereka gandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Mimika untuk sama-sama,” katanya.
Ini baru tahap pertama sosialisasi UU Perlindungan Anak tentang pendidikan. “Kita harap sosialisasi yang sama tetap dilanjutkan di tahun mendatang dengan sasaran ke kampung yang lain. Untuk wilayah gunung rata-rata orangtua sudah mengerti bawa anaknya masuk sekolah,” katanya.
Dalam dialog dengan warga katanya, justru kepala kampung maupun warga sendiri mengakui salah sudah membawa anak pergi ikut mencari tinggalkan sekolah hampir satu dua bahkan seminggu. Dan mereka harapkan agar UU ini bisa diterapkan kepada orangtua yang masih bawa anaknya mencari supaya ada efek jeranya. Jadi budaya seperti ini tidak boleh dipelihara terus melainkan segera dihentikan agar anak mempunyai kepastian masa depan. Sementara pihak Dinas Pendidikan selaku penyelenggara kegiatan hingga berita ini diturun saat dikonfirmasi pada Senin (17/2) belum memberikan jawaban. (tio)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.