Mama-mama Mulai Rajut Noken Pesparawi XIII, Perajut Noken Minta Pemerintah Jamin Pasar

Harga Rp 500 ribu memang terbilang mahal untuk kalangan tertentu, namun untuk menyediakan harga yang dibawah dari standard tersebut tentunya harus dibuat lebih kecil dengan bahan baku lebih sedikit. Namun kendalanya adalah tidak akan cukup untuk menulis kata Pesparawi.

FOTO: Linda Bubun Langi/TimeX
PESPARAWI- Paustina Mote bersama sejumlah mama-mama lainnya di Samping Graha Eme Neme menunjukkan salah satu Noken hasil rajutannya yang bertuliskan Pesparawi, disertai logo, Jumat (14/2).

TIMIKA,TimeX
Paustina Mote, Ketua Perajut Noken Kabupaten Mimika, mengaku sudah sangat siap menyambut event Pesparawi XIII Kabupaten Mimika yang akan diselenggarakan Juni 2020 mendatang. Untuk kesiapan tersebut para mama-mama perajin noken kini mulai merajut Noken yang bertuliskan Pesparawi XIII disertai dengan logo.
Namun sayangnya harga yang dipatok untuk tiap Noken ini cukup fantastis, mencapai Rp 500 ribu. Pasalnya harga ini sangatlah pantas mengingat harga bahan baku yang mahal.
Kata Paustina, satu rol benang noken harganya bisa mencapai 20 ribu bahkan Rp 25 ribu. Malahan ada pedagang yang menjual dengan harga hingga Rp 30 ribu ketika persediaan benang di Mimika sedang kosong. Untuk membuat satu noken dengan motif logo Pesparawi disertai tulisan, dibutuhkan paling tidak 11 rol benang dengan berbagai warna.
Tak hanya itu, untuk menjadi satu noken, dibutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk menyelesaikan. Tingkat kesulitannya juga menjadi satu alasan, pasalnya untuk satu karakter huruf saja membutuhkan skil khusus, salah-salah maka akan dibuka kembali dan dirajut dari awal.
Dilanjutkan, ukuran untuk Noken dengan tulisan Pesparawi XIII 2020 memang harus besar setidaknya lebar hingga sekitar 25 centi meter dan panjang 30 senti meter, karena karakter hurufnya cukup banyak. Karena itu benang yang dibutuhkan lebih banyak.
“Kita tidak bisa buat kecil karena kalau kecil nanti tulisan tidak sampai,” ungkap sejumlah mama-mama perajin Noken, kepada Timika eXpress, saat ditemui di samping Graha Eme Neme Yauware, Jumat (14/2).
Dikatakan, harga Rp 500 ribu memang terbilang mahal untuk kalangan tertentu, namun untuk menyediakan harga yang dibawah dari standard tersebut tentunya harus dibuat lebih kecil dengan bahan baku lebih sedikit. Namun kendalanya adalah tidak akan cukup untuk menulis kata Pesparawi.
“Kita tidak bisa buat huruf lebih kecil lagi, karena buat huruf itu susah, lain kalau memang kita buat polos tanpa tulisan,” tambahnya lagi.
Dikatakan, mama-mama membanderol harga Noken semahal ini dikarenakan modal yang harus dikeluarkan untuk satu Noken cukup besar. Sementara hingga saat ini Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika melalui dinas terkait belum memberikan bantuan seperti yang dijanjikan, baik bantuan modal maupun peralatan yang lebih memadai, seperti mesin pemintal benang yang sebelumnya telah diterima oleh masyarakat di SP 13.
Kata Paustina, beberapa waktu lalu kelompok perajin Noken di wilayah SP 13 memang telah menerima bantuan dan itu sangat membantu, ketika itu pemrintah melalui Pemberdayaan Masyarakat juga telah menjanjikan hal yang sama bagi para perajin noken lainnya, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
“Masalahnya kan yang terima bantuan di SP 13 itu orang Dani (Salah satu suku di Mimika, red) sedangkan kami suku lain belum dapat. Kami tidak bisa campur-campur dengan mereka,” ungkapnya lagi.
Lanjutnya, jika saja pemerintah memberikan bantuan modal atau mesin pemintal benang, ini mungkin akan mengurangi biaya produksi yang harus ditanggung oleh para perajin Noken. Dengan mesin, para perajin juga bisa membuat noken menjadi lebih variatif.
Sementara itu, terkait jumlah para perajin Noken saat ini menurut Paustina, di area Graha Eme Neme Yauware saja, jumlahnya mencapai 45 orang, sedangkan yang berjualan di sekitar lapangan Timika Indah sebayak 40 orang. Yang kini menempati lapak yang baru saja dibangun oleh Disperindag di Pasar Sentral jumlahnya sekitar 30 orang, sementara perajin lainnya yang berpencar lebih dari 200 orang.
Jumlah ini kata dia, berdasarkan yang pernah terdata, sedangkan para perajin noken terus bermunculan seiring dengan desakan kebutuhan keluarga.
Dilanjutkan, mengenai tempat berjualan yang hingga kini masih memanfaatkan ruas jalan, itu dikarenakan pihaknya belum mendapat tempat yang layak.
Sebelumnya pemerintah juga sudah melakukan sosialisasi bahkan sempat menertibkan para mama-mama penjual Noken di wilayah Jalan Budi Utomo tersebut, namun karena tidak disiapkan tempat yang layak, sehingga para mama-mama ini memilih untuk kembali berjualan di tempat yang lama.
“Kita pernah dipindahkan di Pasar Sentral, tetapi tempat tidak layak, kita bahkan pernah diusir oleh pedagang yang ada di sana,” ungkapnya lagi.
Selain tempat yang tidak layak, pasalnya, di Pasar Sentral juga hampir tidak ada pembeli. Alhasil ada mama-mama yang jadi sakit, karena harus menempuh jarak dari Pasar Sentral ke Kelurahan Timika Indah dengan berjalan kaki.
“Mau bagiamana lagi, kita naik ojek ke sana (pasar Sentral, red) bisa sampai Rp 15 ribu, kita berjualan tidak ada yang laku. Mau tidak mau kita jalan kaki pulang,” ungkap Paustina mengisahkan.
Alih-alih untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, untuk transportasi saja para perajin noken ini kesulitan, apalgi jika tidak ada yang membeli.
Oleh karena itu, jalan poros menjadi tempat yang dianggap paling strategis untuk berjualan, karena selain banyak masyarakat yang melintas, juga lebih mudah dijangkau karena berada di tengah Kota.
Dengan berjualan di tengah-tengah kota para pedagang ini mengaku mempunyai peluang untuk memperoleh omzet walau hanya Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu.
Dikatakan, dengan berhasil menjual satu atau dua Noken, belumlah sebanding dengan modal yang dikeluarkan, karena Noken yang terjual sehari-hari paling-paling hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti membeli beras atau kebutuhan pokok lainnya. Tidak ada selisih keuntungan yang didapatkan hanya dengan menjual satu atau dua noken.
“Kita kan buat noken terus-terus, dan itu pakai modal, sedangkan dalam satu hari kadang tidak laku, apalagi dengan persaingan pasar saat ini,” tambahnya.
Karena itu sejak Tahun 2002 sampai saat ini 2020, usaha membuat Noken oleh mama-mama belumlah memberikan dampak yang signifikan untuk peningkatan ekonomi rumah tangga.
Mengenai pemindahan penjual noken dan dipusatkan ke Pasar Sentral, para mama-mama ini pada prinsipnya sangat mendukung, namun pemerintah juga dituntut untuk memberikan tempat yang layak, dan memastikan semua perajin Noken benar-benar berkumpul, sehingga tidak ada yang dirugikan.
“Kalau penjual noken berkumpul di satu tempat kan pasti menjadi tujuan orang tetapi kalau berpencar di kota kan orang pasti pilih yang lebih dekat. Pasar Sentral kan jauh,”timpalnya.
Oleh seba itu para pedagang ini berharap ada perhatian serius dari pemerintah, melalui instansi terkait, khususnya dalam penyediaan pasar maupun modal serta pembinaan. Misalnya saja dengan momen Pesparawi ini setidaknya Pememerintah memberrikan kepastian pasar untuk menadah hasil rajutan para perajin Noken saat ini.
Ha lain yang dihadapi para mama-mama perajin Noken saat ini adalah semakin banyaknya masyarakat umum yang lebih kreatif dalam membuat Noken. Membuat Noken kini tidak hanya ditekuni oleh Mama-mama Asli Papua, tetapi dilakukan oleh masyarakat non Papua. Dari sisi pangsa pasar tentunya ini mempersempit peluang mama-mama untuk memeproleh omzet, mengingat masyarakat pada umumnya lebih melek teknologi, sehingga bisa menawarkan noken melalui media social.
Sementara kebanyakan orang akan memilih memesan secara online, karena biasanya hanya menunggu di rumah tanpa harus ke mana-mana noken sudah sampai di tangan.
Tak hanya itu, upaya pemerintah untuk menggalakkan para pegawai wajib menggunakan Noken di hari-hari tertentu kini mulai redup. Hal ini juga merupakan salah satu factor kurangnya peminat Noken saat ini.
“Kalau pun ada pegawai yang masih memesan Noken, nanti mereka bisa pesan di teman-temannya yang lebih pintar bikin dan jual online,” kata Paustina lebih lanjut.
Dengan kondisi seperti ini maka salah satu cara untuk mendukung masyarakat khususnya para perajut Noken adalah dengan membuat satu regulasi yang berpihak kepada masyarakat, dalam hal mendukung kearifan lokal. Misalnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang penjualan dan pembuatan Noken hanya boleh dilakukan oleh mama-mama Papua, termasuk komoditas lokal lainnya seperti pinang, umbi-umbian serta sayuran tertentu.
Karena jika ini juga dilakukan oleh masyarakat Non Papua, maka dikhawatirkan mama-mama yang selama puluhan tahun terakhir hanya bergantung pada hal yang sama akan semakin sulit untuk bersaing.
“Kami sudah berupaya membuat Noken untuk agenda besar di Mimika kami harap pemarintah memberikan jaminan kepastian pasar bagi kami, sehingga noken yang kami buat ini bisa habis terjual,” tutupnya. (Linda Bubun Langi)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.