PIN Polio di Mimika Tidak Mencapai Target

TIMIKA, TimeX Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 di Kabupaten Mimika tidak mencapai target. Dari target 23.406 bayi dan balita sasaran penerima vaksin polio, petugas medis di Mimika yang disebar di 23 Puskesmas hanya berhasil mengimunisasi 21.981 balita atau 93,83 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika Saiful Taqin

TIMIKA, TimeX

Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 di Kabupaten Mimika tidak mencapai target.

Dari target 23.406 bayi dan balita sasaran penerima vaksin polio, petugas medis di Mimika yang disebar di 23 Puskesmas hanya berhasil mengimunisasi 21.981 balita atau 93,83 persen.

Jumlah tersebut belum membuahkan hasil maksimal, padahal pencanangan  PIN Polio selama sepekan sejak tanggal 8-15 Maret, masih diperpanjang di 18 wilayah distrik di Mimika hingga Kamis (31/3) kemarin .

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika Saiful Taqin saat dikonfirmasi Timika eXpress di ruang kerjanya, Kamis (31/3), mengatakan persentase bayi dan balita penerima vaksin polio baru mencapai 93,83 persen dari target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua.

“Capaiannya baru 93,83 persen dari target provinsi 23.406 balita usia 0-59 bulan,”  ungkap Saiful.

Data jumlah penerima vaksin polio hingga hari terakhir, kata Taqin, diperoleh dari semua Puskesmas baik di wilayah kota, pesisir, dan pedalaman.

Petugas kesehatan dan para kepala puskesmas pun telah berupaya semaksimal mungkin agar dapat mencapai target, namun kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya mengimunisasi anak-anak menjadi kendala yang dihadapi petugas di lapangan.

Menurutnya, petugas medis pemberi vaksin polio tidak hanya berada di pos dan menunggu masyarakat membawa anak mereka,  tetapi mereka turun langsung menyisir ke penjuru rumah-rumah warga untuk mengecek apakah ada bayi dan balita yang belum diimunisasi polio.

“Jadi mereka door to door, kalau dapati ada balita yang belum di imunisasi, petugas saat itu juga langsung vaksin,” jelasnya.

Khusus di wilayah pesisir dan pedalaman, meski didirikan pos PIN, masyarakat karena kesibukan dan kurang sosialisasi seihngga ada warga yang karena ketidatahuannya memilih tinggal di rumah, padahal anaknya masuk kategori penerima vaksin polio.

“Kami akui ini mungkin karena kurang sosialisasi di lapangan.  Kami harap ke depannya tidak terulang kembali, karena vaksin polio sangat bermanfaat terhadap imunitas dna tumbuh kembang anak bayi dan balita,” paparnya.

Untuk vaksin polio yang masih tersisa, lanjut Taqin, akan dikembalikan dan dimusnahkan.  Pasalnya, mulai April ini penggunaan vaksin polio dengn metode tetes akan diganti dengan metode suntik.

“Jadi vaksin polio sisa akan kami hitung dan musnahkan segera, karena mulai April ini vaksinasi akan menggunakan sistem suntik bukan lagi tetes.  Peralihan vaksin tetes polio dari Trivalen Oral Polio Vaksin (TOPV) dengan Bivalen Oral Polio Vaksin (BOPV) berdasarkan komitmen global dunia,” ungkapnya.

Dijelaskannya, program PIN Polio 2016 merupakan program nasional lanjutan yang dilaksanakan serentak di wilayah Indonesia, dengan tujuan mencegah terjadinya penyakit infeksi yang berpotensi menyerang anak Indonesia seperti penyakit campak, polio, tetanus, dan lain-lain.

Dengan imunisasi ini diharapkan dapat mencegah penyebaran serta penularan penyakit tersebut sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan anak Indonesia di masa mendatang,” tukasnya. (a13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.